News / Nasional
Senin, 27 Juli 2026 | 18:22 WIB
Presiden Kelima RI sekaligus Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri, meresmikan Monumen Peristiwa Kudatuli di halaman Kantor DPP PDIP, Jalan Diponegoro Nomor 58, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (27/7/2026). [Dok. PDIP]
Baca 10 detik
  • Megawati Soekarnoputri meresmikan Monumen Peristiwa Kudatuli di Kantor DPP PDIP Jakarta Pusat pada 27 Juli 2026.
  • Peresmian monumen karya seniwati Dolorosa Sinaga ini memperingati 30 tahun tragedi berdarah penegakan demokrasi tahun 1996.
  • Megawati menegaskan bahwa monumen tersebut menyimbolkan kesabaran revolusioner dan keyakinan bahwa kebenaran akan mengalahkan penindasan.

Suara.com - Presiden Kelima RI sekaligus Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri, meresmikan Monumen Peristiwa Kudatuli di halaman Kantor DPP PDIP, Jalan Diponegoro Nomor 58, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (27/7/2026).

Peresmian ini menjadi momen refleksi mendalam untuk memperingati 30 tahun peristiwa berdarah 27 Juli 1996 yang menjadi tonggak perlawanan rakyat terhadap rezim Orde Baru.

Dalam pidatonya, Megawati menekankan filosofi Satyam Eva Jayate, sebuah keyakinan teguh bahwa kebenaran tidak akan bisa dikalahkan oleh penindasan apa pun.

"Kesemuanya yang empat itu menyatu dalam sebuah keyakinan yang kental, bahwa kebenaran pada akhirnya akan menang," tegas Megawati.

Megawati Soekarnoputri dan Pramono Anung Hadiri Bung Karno Festival 2026. (Suara.com/Faqih Fathurrahman)

Megawati kemudian mengutip ajaran Siddhartha Gautama untuk mempertegas pesan tersebut.

"Ini saya dapat di dalam perjalanan yang namanya seorang Siddhartha Gautama yang terkenal. Bahwa apa pun juga, biar ditindas, biar mau dihilangkan melalui orang-orang atau melalui juga politik dan lain sebagainya, tetap saya yakin kebenaran pada akhirnya akan menang. Siddhartha Gautama menyebutnya adil adalah Satyam Eva Jayate," katanya.

Didampingi putranya, M. Prananda Prabowo, serta jajaran petinggi partai dan sejumlah tokoh, seperti Mahfud MD dan para aktivis HAM, Megawati meresmikan monumen karya seniwati Dolorosa Sinaga tersebut.

Monumen itu menggambarkan sosok perempuan yang memeluk lima pejuang, yang menurut Megawati merupakan hasil kontemplasi mendalam mengenai perjalanan bangsa.

Ia mengingatkan bahwa kemerdekaan dan demokrasi yang dinikmati saat ini tidak diperoleh dengan cuma-cuma.

Baca Juga: 30 Tahun Kudatuli: Kisah Maryono yang 'Hidup Lagi' hingga Rahasia Dandang Megawati

"Namanya Republik Indonesia ini dibangun dengan yang namanya air mata, darah, dan keringat! Camkan!" ucap Megawati.

Megawati menjelaskan bahwa Monumen Kudatuli merupakan simbol dari "kesabaran revolusioner", yakni sebuah sikap yang lahir dari perpaduan keyakinan, keteguhan, dan keberanian.

"Monumen ini menggambarkan kesabaran revolusioner yang lahir dari keyakinan, keteguhan, dan keberanian. Dalam kontemplasi saya, saya melihat kehidupan saya sendiri yang saya serangkum menjadi sebuah kata-kata, bahwa kita kalau yakin dalam kehidupan dan setelah itu tahu untuk apa kita punya keyakinan, maka harus punya keteguhan dan keberanian. Setelah itu, di dalam menjalankannya, kita tidak pernah boleh putus asa. Oleh sebab itu, kita harus punya kesabaran revolusioner," paparnya.

Megawati berpesan agar api perjuangan para korban dan penyintas tidak pernah padam. Ia meminta generasi muda untuk terus menjaga cinta tanah air agar semangat melawan ketidakadilan tetap hidup.

"Api perjuangan itu saya selalu yakin tidak akan pernah padam selama rasa cinta kepada tanah air terus bergema di dalam dada sanubari kita," tutup Megawati sebelum secara resmi membuka kain hitam yang menyelubungi monumen tersebut.

Load More