News / Internasional
Selasa, 28 Juli 2026 | 10:21 WIB
Serangan militer Israel kembali mengguncang Lebanon dan menewaskan sedikitnya sembilan orang, termasuk tenaga medis, dalam eskalasi terbaru yang juga menjangkau pinggiran ibu kota Beirut. [Istimewa]
Baca 10 detik
  • Perundingan Israel Lebanon di Roma bertujuan memperluas zona pilot dan mengamankan perbatasan.

  • AS memfasilitasi dialog untuk memulihkan kedaulatan Lebanon melalui pelucutan senjata terverifikasi.

  • Pertemuan Roma melanjutkan kesepakatan Juni setelah penyerahan kendali wilayah ke militer Lebanon.

Suara.com - Delegasi militer dan diplomatik Israel serta Lebanon dijadwalkan bertemu di Roma pada 4–6 Agustus mendatang. Pertemuan ini menguji efektivitas penyerahan wilayah selatan Lebanon demi mengakhiri perang secara permanen.

Skema pengalihan kekuasaan dari militer Israel ke Tentara Nasional Lebanon pekan lalu menjadi pijakan utama negosiasi. Pemerintah Amerika Serikat mendorong akselerasi kesepakatan guna mencegah eskalasi susulan di kawasan perbatasan.

Forum di Italia tersebut berfokus pada evaluasi konkret atas penetapan zona uji coba pertama. Keberhasilan fase awal ini menentukan peta jalan pelucutan senjata kelompok bersenjata di wilayah selatan.

Asap mengepul akibat serangan Israel di Lebanon selatan seperti yang terlihat dari sisi perbatasan Israel pada hari Minggu di tengah gencatan senjata antara Israel dan Lebanon. Pasukan Israel mengumumkan bahwa mereka telah merebut kembali Punggungan Beaufort yang strategis di utara Sungai Litani. [Foto oleh Atef Safadi/EPA]

Pejabat Departemen Luar Negeri AS mengonfirmasi bahwa dialog teknis mendalam siap dilangsungkan pekan depan. Pembahasan diproyeksikan bakal menuntaskan seluruh detail krusial kerangka kerja sama kedua belah pihak.

Negosiasi mendatangkan harapan baru setelah Presiden AS Donald Trump menggelar pertemuan bilateral dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun. Pertemuan puncak tersebut memperkuat komitmen politik internasional dalam mengawal proses transisi di lapangan.

Perluasan Uji Coba Zona Aman dan Pelucutan Senjata
Perwakilan diplomatik AS menegaskan pentingnya agenda mendatang dalam mematangkan poin perundingan.

"Fokus dialog teknis ini untuk memajukan implementasi penuh dari kerangka kerja sama," ungkap pejabat Departemen Luar Negeri AS, dikutip dari CNN Internasional, Selasa (28/7/2026).

Mekanisme transisi akan diperluas secara bertahap jika implementasi awal terbukti stabil.

"Ini mencakup perluasan proses zona pilot, penyelesaian seluruh sengketa perbatasan yang tersisa, serta penyusunan kesepakatan perdamaian dan keamanan yang komprehensif," tambahnya.

Baca Juga: Mengejutkan! Amerika Hapus Prajurit Tewas karena Serangan Iran dari Catatan Perang Resmi, Kenapa?

Pihak mediator menilai tidak ada skema alternatif lain untuk menghentikan perselisihan panjang di kawasan tersebut.

"Kerangka kerja ini merupakan satu-satunya jalur menuju perdamaian abadi," tegas pejabat tersebut.

Evaluasi di wilayah selatan menjadi indikator utama sebelum memperluas cakupan kendali militer Lebanon.

"Pengalaman di zona awal akan membantu kita menyempurnakan implementasi zona pilot agar dapat diperluas secara bertahap," jelasnya.

Langkah ini menargetkan pemulihan penuh kedaulatan pemerintah resmi Lebanon atas wilayah perbatasannya.

"Zona pilot pertama adalah peluang konkret untuk menghadirkan kemajuan nyata di lapangan, memulihkan otoritas negara Lebanon melalui pelucutan senjata organisasi teroris secara terverifikasi, serta membangun kepercayaan yang dibutuhkan untuk langkah-langkah berikutnya," pungkas pejabat AS.

Hubungan Israel dan Lebanon diwarnai ketegangan militer berkepanjangan di sepanjang garis perbatasan selatan. Kehadiran aktor non-negara bersenjata selama bertahun-tahun merintangi penegakan kedaulatan penuh militer resmi Lebanon.

Inisiatif diplomatik yang diprakarsai Amerika Serikat berhasil menelurkan kesepakatan kerangka kerja sama pada akhir Juni lalu. Terobosan ini menjadi fondasi awal untuk menghentikan konflik terbuka dan memulai penyerahan wilayah secara damai.

Load More