- Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengumumkan proyek perluasan jalur LRT menuju Dukuh Atas ditargetkan selesai Agustus 2028.
- Pemprov DKI Jakarta menginstruksikan armada Transjakarta dan Mikrotrans agar masuk ke seluruh simpul stasiun rel perkotaan.
- Kawasan Manggarai dirancang sebagai hub baru untuk menampung jutaan pelaju harian yang menggunakan berbagai moda transportasi.
Suara.com - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus mempercepat integrasi moda transportasi massal demi mengurai benang kusut mobilitas kaum komuter di ibu kota.
Proyek perluasan jalur kereta ringan Lintas Rel Terpadu atau LRT kini dipatok tuntas hingga Dukuh Atas pada Agustus 2028 mendatang.
Kepastian linimasa pengerjaan infrastruktur massal tersebut disampaikan langsung oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.
Pramono telah menginstruksikan armada bus Transjakarta maupun angkutan Mikrotrans masuk ke seluruh simpul stasiun rel perkotaan.
“Semua jalur untuk LRT, saya sudah memerintahkan untuk Transjakarta masuk di semua itu. Kalau memang Transjakarta tidak bisa digunakan, maka Mikrotrans dan sebagainya,“ jelasnya saat memberikan keterangan pers di kawasan Senen, Jakarta Pusat, Kamis (17/9/2026).
Kawasan Manggarai di Jakarta Selatan dirancang menjadi simpul raksasa perpindahan antarmoda yang menampung jutaan pelaju harian.
“Di Manggarai itu nanti akan menjadi hub baru, karena kurang lebih setiap hari sekitar 1,2 sampai dengan 1,3 juta orang yang akan berhenti di sana. Paling banyak menggunakan KRL, yang kedua menggunakan LRT, dan kemudian Transjakarta. Maka dengan demikian, sekarang ini yang akan segera dilakukan adalah melakukan pembenahan untuk Manggarai supaya bisa segera berfungsi dengan baik,“ terang Pramono.
Guna menyambung koridor sentral tersebut, pengerjaan konstruksi jalur rel layang menuju Dukuh Atas dipastikan bergulir paling lambat awal tahun depan.
“Saya sudah meminta karena dananya sudah ada. Paling lama Januari (2027) untuk dimulai, supaya tahun 2028 bulan Agustus sudah bisa selesai sampai dengan Dukuh Atas,“ jelas Pramono.
Sinergi lintasan antarmoda ini diyakini bakal mengikis keengganan warga beralih dari kendaraan pribadi menuju angkutan massal ramah lingkungan.