News / Internasional
Selasa, 28 Juli 2026 | 10:31 WIB
Ilustrasi harga minyak dunia [Shutterstock]
Baca 10 detik
  • Harga minyak dunia anjlok tajam setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati jeda pertempuran.

  • Lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih terganggu akibat ancaman keamanan kawasan Teluk.

  • Ketegangan rute ekspor Laut Merah membuat pemulihan pasar energi global tetap rapuh.

Suara.com - Jeda konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran langsung merobohkan lonjakan harga minyak dunia. Keputusan penundaan serangan militer ini memberikan kelegaan sementara bagi pasar energi internasional.

Penurunan ketegangan perang meredam spekulasi liar pasar yang sempat melonjak tinggi. Para pelaku pasar bergerak cepat merespons perubahan situasi geopolitik di Timur Tengah.

Kontrak berjangka minyak mentah jenis Brent merosot tajam hingga 11,3 persen dan ditutup pada posisi 85,87 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah acuan Amerika Serikat ikut merosot sekitar 7 persen menuju level 82,61 dolar AS per barel.

Iustrasi Kilang Minyak [Pexels].

Kemerosotan tajam pada awal pekan ini tercatat sebagai penurunan harian terparah sejak 8 April lalu. Kondisi ini mencerminkan betapa sensitifnya harga energi global terhadap isu keamanan kawasan Teluk.

Presiden Donald Trump mengonfirmasi bahwa Amerika Serikat menghentikan gempuran atas permintaan langsung rezim Iran. Namun, ia menegaskan opsi serangan balasan akan kembali dibuka jika kesepakatan gencatan senjata baru gagal dicapai.

Meskipun pertempuran utama mereda, aktivitas lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz masih berada jauh di bawah angka normal. Data pelayaran mencatat kurang dari 10 kapal komoditas yang melintas hingga Senin pagi.

Padahal sebelum ketegangan militer pecah, sekitar 100 kapal komersial melintasi jalur krusial tersebut setiap harinya. Kecemasan para pemilik kapal membuat arus logistik minyak dunia belum sepenuhnya pulih.

Kekhawatiran para pedagang minyak makin bertambah akibat potensi serangan pemberontak Houthi terhadap tanker Arab Saudi. Ancaman bahaya ini mengintai kawasan Selat Bab al-Mandeb yang terletak di muara Laut Merah.

Analis dari Deutsche Bank memperingatkan bahwa aksi milisi Houthi berisiko memicu prospek gangguan bersamaan pada rute ekspor Teluk dan Laut Merah.

Baca Juga: Harga Minyak Turun 8 Persen Usai Trump Ancam Iran: Pilih Damai atau Hancur Total?

"Jadi ada jeda yang disambut baik dari para aktor utama, tetapi ini rapuh, terutama dengan pertempuran sampingan yang masih berlangsung," tulis tim analis Deutsche Bank dalam catatannya, dikutip dari CNN Internasional, Selasa (28/7/2026).

Sentimen geopolitik ini turut memberikan dampak bervariasi pada pergerakan bursa saham Wall Street. Indeks Dow Jones menguat 0,51 persen dan S&P 500 naik tipis 0,02 persen, sedangkan Nasdaq melemah 0,18 persen.

Gencatan senjata rapuh ini menjadi latar belakang penting di tengah memuncaknya ketegangan militer antara Washington dan Teheran. Penundaan serangan militer Amerika Serikat meredakan kekhawatiran krisis pasokan energi global dalam jangka pendek.

Akan tetapi, kepastian masa depan pasokan minyak dunia masih sangat bergantung pada keberhasilan negosiasi kesepakatan baru. Ketidakpastian rute laut internasional terus membayangi stabilitas ekonomi global secara keseluruhan.

Load More