Pengangguran di Gaza menembus 80 persen akibat perang dan kejatuhan ekonomi secara masif.
Banyak lulusan sarjana terpaksa mengambil pekerjaan kasar demi memenuhi kebutuhan dasar keluarga.
Ruang kerja komunal menjadi tumpuan sarjana untuk mengakses internet dan pekerjaan jarak jauh.
Suara.com - Perang dan blokade panjang oleh Israel menghancurkan pasar kerja di Gaza hingga mengancam masa depan ribuan lulusan perguruan tinggi di Palestina. Krisis ini memaksa para sarjana beralih profesi ke sektor informal demi menyambung hidup keluarga.
Ketimbang menunggu lowongan yang relevan, para pemuda berpendidikan kini memburu pekerjaan apa pun yang tersedia. Fenomena ini menciptakan pergeseran struktur tenaga kerja baru di tengah kehancuran fasilitas publik dan kampus.
Inisiatif lokal seperti penyediaan ruang kerja bersama kini menjadi tumpuan terakhir untuk mengakses internet dan listrik. Ruang komunal tersebut membantu sarjana Gaza menembus isolasi guna meraih peluang kerja jarak jauh.
Rawan al-Jabali menatap layar laptopnya dengan cemas di sebuah kamp pengungsian kawasan Nuseirat, Gaza tengah. Lulusan sastra dan translasi bahasa Inggris dari Islamic University of Gaza ini terus menyegarkan halaman peramban demi berburu lowongan.
Dua tahun berlalu sejak ia meraih gelar sarjana, tetapi pencarian kerjanya selalu menemui jalan buntu. Keadaan kian memburuk akibat agresi militer yang memaksa keluarganya berpindah dari Gaza utara.
“Saya belajar penerjemahan karena percaya akan memiliki peluang di bidang ini, tetapi setelah perang sebagian besar lembaga tempat saya bisa bekerja telah lenyap,” kata al-Jabali kepada Al Jazeera.
Data Kantor Media Pemerintah mencatat angka pengangguran di Gaza kini telah menembus 80 persen. Kondisi tersebut mendorong tingkat kemiskinan di wilayah kantong terisolasi itu melonjak melebihi 93 persen.
Gelar akademis tidak lagi menjamin pekerjaan yang layak bagi para pemuda di Gaza. Mohammed al-Khudari, seorang lulusan teknik dari kampus yang sama, merasakan dampak kehancuran pasar kerja tersebut.
Hari-harinya dihabiskan dengan menelusuri iklan lowongan melalui ponsel di tengah krisis daya listrik. Pemboman, penutupan perbatasan, dan ancaman kelaparan menghentikan seluruh roda perekonomian daerah.
Baca Juga: Riset Terbaru Ungkap Dampak Teknologi AI Terhadap Pilihan Pekerjaan Gen Z
“Saya menghabiskan waktu berjam-jam mencari peluang kerja yang ada, dan saya menghadapi kesulitan mengisi daya ponsel atau bahkan terhubung ke internet, tetapi saya terus mencoba,” ujar al-Khudari.
Keputusasaan membuat al-Khudari menurunkan standar kariernya dan mengabaikan latar belakang keinsinyuran. Ia melamar ke berbagai bidang kerja kasar yang sama sekali tidak berhubungan dengan disiplin ilmunya.
“Saya mulai melamar pekerjaan di berbagai sektor seperti kafe, restoran, dan pekerjaan pembersihan, karena tujuan utamanya adalah mengamankan penghasilan yang memungkinkan saya menopang diri sendiri dan keluarga serta membangun awal yang baru,” ungkap al-Khudari.
“Banyak lulusan melamar pekerjaan apa saja yang tersedia karena keadaan memaksa mereka mencari penghasilan ketimbang menunggu pekerjaan yang berkaitan dengan spesialisasi mereka,” tambahnya.
Bencana ketenagakerjaan ini sejalan dengan kemerosotan ekonomi secara menyeluruh di Gaza. Produk Domestik Bruto (PDB) Gaza menyusut lebih dari 82 persen sejak perang pecah pada Oktober 2023.
Blokade militer membuat sekitar 80 persen populasi Gaza menggantungkan hidup sepenuhnya pada bantuan kemanusiaan internasional. Sumber pendapatan warga merosot tajam di tengah ancaman kelaparan yang terus meluas.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
Terkini
-
Direktur Utama RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Bantah Ada Penyimpangan Anggaran
-
Pertamina EP Adera Sambung Harapan Anak Putus Sekolah Lewat Program Sekolah Kembali
-
Apa Itu Aplikasi AMPERA 24/7? Kini Warga Palembang Bisa Akses Layanan Polisi dari Ponsel
-
Murid Mengeluh Sepatunya Mengganjal saat Dipakai Sekolah, Isinya Diduga Paket Sabu
-
5 Fakta Mahasiswa KKN Tenggelam di Sungai Rawas, Perahu Terbalik Usai Tabrak Kayu
-
Ada Apa di Kejari Kabupaten Bogor? Kasi Pidsus Mendadak Dipanggil Kejagung
-
Pemenuhan Gizi Jadi Fondasi Tumbuh Kembang Anak, Ini yang Harus Diketahui Orang Tua
-
Dari Gudang hingga Rumah, Begini Perjalanan Produk Sebelum Sampai ke Tangan Konsumen
-
Ancaman Belum Usai: Sosiolog UNJ Ingatkan Bentrokan Matraman Rawan Dibajak Isu SARA
-
Tuntas Uji Coba 3 Bulan, Pemkab Bogor Godok Rute Baru Bus Listrik Bojong Gede - Exit Tol Citeureup