News / Internasional
Selasa, 28 Juli 2026 | 15:03 WIB
Warga Palestina membawa beberapa barang yang diselamatkan ketika mereka menuju kamp pengungsi Jabalia di Jalur Gaza utara, Jumat (30/5/2024). [Omar AL-QATTAA / AFP]
Baca 10 detik

Pengangguran di Gaza menembus 80 persen akibat perang dan kejatuhan ekonomi secara masif.

Banyak lulusan sarjana terpaksa mengambil pekerjaan kasar demi memenuhi kebutuhan dasar keluarga.

Ruang kerja komunal menjadi tumpuan sarjana untuk mengakses internet dan pekerjaan jarak jauh.

Pakar ekonomi Palestina Mohammed Abu Jeiab menjelaskan bahwa pasar kerja Gaza sudah lumpuh sejak sebelum perang akibat blokade Israel sejak 2007. Perang saat ini memperparah kerusakan struktur sosial dan ekonomi wilayah tersebut.

“Kemunduran ini telah menyebabkan konsekuensi ekonomi dan sosial yang serius, termasuk pengikisan modal manusia akibat pengangguran berkepanjangan dan hilangnya keterampilan, meningkatnya ketergantungan pada bantuan kemanusiaan ketimbang kerja produktif, meningkatnya tingkat kemiskinan, tertundanya stabilitas sosial, dan potensi meningkatnya emigrasi pekerja terampil kapan pun peluang memungkinkan,” terang Abu Jeiab.

Abu Jeiab menegaskan bahwa penanganan krisis membutuhkan rekonstruksi menyeluruh, dukungan usaha kecil, investasi teknologi, serta penyelarasan kurikulum pendidikan dengan kebutuhan pasar. Namun, ketiadaan pemerintahan yang berfungsi efektif dan ketiadaan proses rekonstruksi membuat peluang kerja tetap minim.

Di tengah situasi sulit, muncul inisiatif warga seperti Peace Work Space di Deir el-Balah yang didirikan Mohammed al-Buheisi sejak Februari 2024. Tempat ini menyediakan fasilitas listrik dan internet stabil bagi para pelajar dan lulusan perguruan tinggi.

“Kami memulai dengan ruang kecil yang hanya mampu menampung sekitar 10 orang, dan secara bertahap berkembang hingga sekitar 80 orang hari ini,” jelas al-Buheisi.

“Tujuan kami selalu menyediakan lingkungan yang sesuai yang membantu siswa dan lulusan melanjutkan studi dan pekerjaan mekar dengan sarana terbaik yang tersedia,” lanjutnya.

Al-Buheisi menambahkan bahwa koneksi internet stabil sangat vital bagi generasi muda Gaza yang mencoba bertahan melalui jalur pekerjaan jarak jauh. Hal ini menjadi jembatan utama untuk menghubungkan talenta lokal dengan pasar kerja global.

“Berinvestasi dalam keterampilan teknis adalah cara paling berkelanjutan untuk menciptakan lapangan kerja,” tegas al-Buheisi.

“Jadi, sangat penting untuk fokus pada pelatihan dan pemberdayaan anak muda untuk meraih penghasilan secara online daripada hanya mengandalkan peluang lokal yang terbatas,” pungkasnya.

Baca Juga: Riset Terbaru Ungkap Dampak Teknologi AI Terhadap Pilihan Pekerjaan Gen Z

Krisis ketenagakerjaan di Gaza merupakan dampak berantai dari konflik berkepanjangan serta blokade darat, laut, dan udara oleh Israel sejak 2007. Invasi militer sejak Oktober 2023 kian menghancurkan infrastruktur ekonomi, fasilitas pendidikan, dan pemukiman warga secara masif.

Load More