News / Nasional
Kamis, 30 Juli 2026 | 11:18 WIB
Ilustrasi dampak El Nino. [Orlando Sierra/AFP]
Baca 10 detik
  • Alex mendesak pemerintah menugaskan BNPB mengumpulkan data ancaman El Nino dan kemarau 2026.
  • Alex meminta Kementerian Kehutanan menyusun solusi permanen pencegahan kebakaran hutan dan melindungi keselamatan petugas pemadam di tujuh provinsi rawan.
  • Kementerian Pertanian harus bersinergi dengan kepala daerah memanfaatkan kearifan lokal guna menjaga stabilitas produksi pangan selama kekeringan.

Suara.com - Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman, mendorong pemerintah untuk segera menugaskan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam mengorkestrasi pengumpulan data ancaman serta potensi dampak fenomena El Nino yang beriringan dengan musim kemarau tahun 2026.

Menurut Alex, akurasi data menjadi kunci utama agar langkah mitigasi yang diambil pemerintah dapat berjalan efektif dan efisien.

"Data yang akurat, akan memudahkan penyusunan rencana antisipasi secara lebih komprehensif. Juga akan memudahkan DPR melakukan pengawasan dan evaluasi,” terang Alex kepada wartawan, dikutip Kamis (30/7/2026).

Langkah ini merupakan respons atas instruksi Presiden Prabowo Subianto yang sebelumnya telah meminta jajarannya merancang langkah konkret menghadapi musim kemarau dan El Nino dalam rapat terbatas pada Selasa (28/7/2026).

Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim kemarau di Indonesia diperkirakan terjadi pada Juli hingga September 2026. Fenomena El Nino sendiri diproyeksikan memiliki peluang kategori sangat kuat hingga 75 persen dan bertahan hingga Oktober mendatang.

Alex menekankan bahwa setiap wilayah di Indonesia memiliki tantangan yang berbeda-beda.

“Potensi masalah yang akan dihadapi di setiap daerah, akan berbeda satu sama lain sesuai karakteristiknya masing-masing. Karenanya, kemampuan BNPB mengorkestrasi pengumpulan data, akan menghasilkan langkah antisipasi secara lebih akurat, terukur dan tepat sasaran,” jelasnya.

Dalam konteks mitigasi, Alex menyoroti masalah tahunan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang kerap melanda Provinsi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, serta wilayah Kalimantan.

Ia meminta Kementerian Kehutanan untuk lebih serius dan tidak membiarkan bencana ini menjadi agenda rutin tanpa solusi permanen.

Baca Juga: Kemarau Lumpuhkan 329 Telaga Air di Gunungkidul

"Nyaris setiap tahun, Karhutla jadi peristiwa berulang di 7 provinsi itu. Kementrian Kehutanan sebagai leading sector, tak boleh membiarkan kejadian ini seperti kita merayakan ulang tahun," tegas Alex.

Sementar itu Ketua Panja Alih Fungsi Lahan Komisi IV DPR RI ini juga mengingatkan pentingnya perlindungan bagi petugas di lapangan. Ia berharap tragedi gugurnya personel Manggala Agni, TNI, maupun Polri dalam tugas pemadaman tidak terulang kembali.

"Kementrian Kehutanan, harus mampu merancang langkah antisipatif sehingga duka di tahun kemarin, kehilangan nyawa personel Manggala Agni termasuk TNI dan Polri yang menunaikan tugas negara memadamkan Karhutla, tidak berulang lagi,” kata dia.

Alex juga menyoroti minimnya perangkat perlindungan diri bagi petugas di lapangan serta medan yang berat di tengah rimba.

Foto udara api membakar semak belukar di kawasan lahan gambut Desa Cot Seumeureng, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, Aceh, Minggu (19/7/2026). [ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/wsj]

"Sepantasnya, kita merencang rencana lebih komprehensif sehingga bisa menutup celah munculnya korban jiwa,” tegas Ketua PDIP Sumatera Barat tersebut.

Selain masalah Karhutla, Alex juga memberikan perhatian serius pada sektor pangan.

Ia meminta Kementerian Pertanian bersinergi dengan kepala daerah untuk menyusun langkah antisipasi berbasis kearifan lokal guna menjaga stabilitas produksi pangan di tengah ancaman kekeringan.

Alex menilai, para pemimpin daerah adalah pihak yang paling memahami karakteristik wilayahnya. Oleh karena itu, masukan dari daerah harus menjadi pertimbangan utama dalam menjawab tantangan El Nino.

"Di antara kearifan lokal yang diharapkan itu, tentang upaya menjaga ketersediaan air dan melindungi sektor pertanian dalam kerangka mempertahankan swasembada beras," tegas Alex.

Load More