-
AS dan Arab Saudi melancarkan serangan udara bersama terhadap milisi proksi Iran di Irak.
-
Pangeran Khalid menegaskan Arab Saudi tidak mentolerir serangan terhadap infrastruktur energi dan warga sipil.
-
Operasi militer gabungan tersebut dilaporkan menewaskan sekitar 20 warga negara Iran di lokasi target.
Suara.com - Menteri Pertahanan Arab Saudi Pangeran Khalid bin Salman menyampaikan pesan khusus tersebut saat bertemu Presiden Donald Trump dan Wakil Presiden JD Vance di Gedung Putih. Pangeran Khalid menegaskan posisi Riyadh yang tidak akan membiarkan kawasan strategisnya diserang dengan kekuatan militer.
Gempuran udara gabungan Amerika Serikat dan Arab Saudi menghantam markas milisi sokongan Iran di Irak timur untuk menghentikan ancaman fasilitas energi. Langkah militer tegas ini langsung menyasar titik pertahanan lawan guna mengirimkan sinyal bahaya bagi kelompok penyerang di kawasan tersebut.
Aksi militer ini menjadi bukti nyata komitmen Riyadh dalam meredam manuver kelompok bersenjata sebelum bentrokan skala besar pecah. Langkah ofensif bersama Washington ini sekaligus membedakan strategi Riyadh yang berfokus pada perlindungan wilayah domestik dari provokasi regional.
Langkah tegas ini tidak hanya menyasar milisi di Irak, tetapi juga ditujukan sebagai peringatan keras untuk kelompok Houthi di Yaman. Riyadh memastikan bahwa seluruh infrastruktur sipil dan pasokan energi nasional berada di bawah perlindungan penuh pertahanan udara Kerajaan.
Menurut sumber dari Al Arabiya, dalam pembicaraan bersama JD Vance, Kerajaan menegaskan batas toleransi terhadap aksi teror yang menyasar wilayah mereka.
"Kerajaan tidak akan mentolerir serangan terhadap infrastruktur energinya atau sasaran sipil," ujar sumber Al Arabiya.
Wakil Presiden JD Vance menyambut hangat kunjungan diplomasi militer ini dalam tatap muka pertamanya bersama Menhan Saudi. Ia turut memberikan apresiasi tinggi atas kepemimpinan Putra Mahkota Mohammed bin Salman dalam menjaga dinamika keamanan kawasan.
Pangeran Khalid kembali menekankan komitmen Riyadh untuk menekan eskalasi bentrokan demi menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah. Namun, Kerajaan menegaskan memiliki kapasitas penuh untuk melancarkan pembalasan terukur jika kedaulatannya diganggu.
"Kerajaan tidak mencari eskalasi tetapi akan merespons setiap agresi yang dihadapinya," tegas Kementerian Pertahanan Arab Saudi dalam pernyataan resminya.
Baca Juga: Kenapa Arab Saudi Akhirnya Terlibat Perang di Timur Tengah?
Kunjungan Pangeran Khalid ke Washington bertepatan dengan kedatangan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang mengusung agenda berbeda. Pertemuan tersebut memperlihatkan perbandingan kontras antara upaya pemicu bentrokan dan langkah penstabil keamanan.
Sumber diplomasi mencatat bahwa Riyadh secara konsisten mencari jalan keluar untuk meredakan ketegangan diplomatik di seluruh wilayah. Di sisi lain, Pemerintah Israel justru terus mendesak pendekatan militer yang lebih agresif di kawasan tersebut.
Intensitas serangan gabungan ini meningkat setelah sistem pertahanan udara Saudi berhasil melumpuhkan sejumlah pesawat nirnirmana musuh. Drone milik milisi dukungan Iran tersebut sebelumnya terdeteksi melintas menuju sasaran vital Kerajaan.
Di wilayah perairan, kelompok Houthi dari Yaman juga berulang kali mencoba menyerang kapal-kapal yang terhubung dengan kepentingan Saudi di Laut Merah. Pengetatan keamanan udara dan laut kini menjadi prioritas utama guna mencegah kembalinya pertempuran terbuka.
Laporan intelijen Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa operasi udara bersama di Irak timur tersebut membuahkan hasil signifikan. Sekitar 20 warga negara Iran tewas dalam serangan tersebut.
Operasi militer bersama di Irak timur ini merupakan puncak dari rentetan gesekan keamanan yang terus memanas selama beberapa pekan terakhir. Kunjungan Menhan Saudi ke Washington sejatinya sempat tertunda akibat lonjakan serangan drone dan rudal oleh kelompok proksi Iran.
Pertahanan udara Arab Saudi terus siaga tinggi setelah berhasil mengintersepsi rentetan drone yang diluncurkan milisi Irak pada awal pekan. Eskalasi ini mempertegas komitmen pertahanan bersama antara Washington dan Riyadh dalam memutus jaringan ancaman militer di Timur Tengah.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
Terkini
-
Arab Saudi Akan Melawan Jika Infrastruktur Energinya Diserang Rudal Milisi Pro Iran
-
Sudah Sepekan, Napi Kasus Narkoba Pekanbaru yang Kabur Belum Ditangkap
-
Bocoran Vivo S2 5G Ungkap Baterai Raksasa 7.050mAh dan Durabilitas Ekstrem IP69
-
Sampai Ulang Sapaan, Prabowo Minta Jaksa Agung dan Kapolri Selalu Berdekatan: Baru Panglima TNI
-
Era Baru Penanganan Kanker: AI dan Teknologi Presisi Tingkatkan Akurasi Diagnosis Pasien
-
Perambah Taman Nasional Bukit Barisan Selatan Ditangkap, Terancam 10 Tahun Penjara
-
KAI Sanggupi Bangun Trans Sumatera Railway dari Bakauheni ke Banda Aceh, Setelah Itu Kalimantan?
-
Optimistis Program Prabowo Berlanjut, PIRA Bagikan Ribuan Paket Sembako ke Warga Cakung
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
HNW Sebut Pramono Punya 'Jalur Tol' Puan Maharani untuk Cairkan DBH Jakarta