News / Internasional
Sabtu, 01 Agustus 2026 | 07:46 WIB
Pusat nuklir Iran Gunung Pickaxe (SBS)
Baca 10 detik
  • Amerika Serikat merencanakan serangan militer baru ke sasaran strategis Iran akhir pekan ini.

  • Opsi serangan mencakup pemboman dua minggu pada situs rudal dan fasilitas nuklir Iran.

  • Gedung Putih menegaskan penyerangan bertujuan memaksa Iran kembali ke meja perundingan damai.

Suara.com - Pemerintah Amerika Serikat bersiap meluncurkan gelombang serangan militer baru ke wilayah Iran paling cepat akhir pekan ini. Langkah krusial ini diambil Presiden Donald Trump guna mengakhiri ketegangan perang yang terus berlarut.

Persiapan militer AS kini meluas hingga membidik infrastruktur nuklir utama di kawasan Pickaxe Mountain di selatan Teheran. Eskalasi ini menandai pergeseran strategi tempur Washington yang kini menyasar pusat kemampuan strategis Iran.

Komando Pusat AS telah merancang skenario pemboman intensif selama dua minggu penuh terhadap pangkalan rudal Iran. Kesiapan pasukan di lapangan menunjukkan operasi udara berskala besar siap dieksekusi sewaktu-waktu.

Persediaan Rudal AS disinyalir menipis. (Instagram)

Meskipun rencana pertempuran sudah matang, dua pejabat pertahanan AS mengonfirmasi aksi militer tersebut masih bisa dibatalkan. Keputusan akhir tetap berada di tangan presiden berdasarkan dinamika situasi terkini.

Presiden Donald Trump meluapkan kekecewaannya atas kekakuan jalur diplomasi saat memimpin rapat kabinet di Gedung Putih. Ia menegaskan kesiapan Washington untuk melipatgandakan tekanan militer secara langsung.

"Kami akan menggempur mereka dengan sangat keras," kata Trump.

"Pada satu titik, mereka akan berkata, 'Kami sudah tidak sanggup lagi menahannya.'"

Perencana militer AS juga menyusun opsi serangan yang mengincar sektor energi dan minyak Iran. Langkah ini dirancang untuk memperlemah kekuatan ekonomi Teheran secara mendasar.

Gedung Putih mengaku masih ragu melumpuhkan infrastruktur energi karena berisiko memicu aksi balasan terhadap kawasan Teluk. Langkah ekstrem tersebut dikhawatirkan bakal mengguncang stabilitas pasar minyak dunia yang sedang rentan.

Baca Juga: Ancaman Perang Terbuka Meluas di Timur Tengah, Negara Arab Tak Mau Terlibat Konflik Iran dan AS

Pemerintah Israel secara terbuka menyatakan kemauannya untuk menghancurkan fasilitas energi Iran demi memperbesar tekanan ekonomi.

"Kami sangat ingin menyerang sasaran energi Iran — AS tidak menyetujuinya saat ini," ujar Menteri Pertahanan Israel Katz.

Sejauh ini tidak ada indikasi bahwa militer Israel bakal dilibatkan dalam aksi gempuran baru Amerika Serikat. Washington memilih bergerak secara mandiri dalam mengeksekusi rencana operasi udara tersebut.

Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan Presiden Trump tidak akan tinggal diam melihat tindakan teror yang terus berlangsung. Sikap resmi pemerintah menggarisbawahi komitmen AS untuk memukul mundur ancaman keamanan kawasan.

"Iran akan terus membayar harganya sampai mereka bersedia duduk di meja perundingan dengan cara yang dinilai berarti oleh Presiden Trump," ujar sekretaris pers Karoline Leavitt dalam pernyataan resminya.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terus memuncak seiring gagalnya serangkaian negosiasi diplomatik untuk meredam konflik senjata. Aspek keamanan energi Teluk dan program nuklir Teheran kini menjadi titik krusial dalam dinamika geopolitik Timur Tengah.

Load More