- Warga Kampung Ledoksari Sleman mendaur ulang galon plastik bekas menjadi dekorasi kemerdekaan sejak dua bulan lalu.
- Sebanyak 25 kepala keluarga bergotong royong secara swadaya menciptakan ornamen bercahaya demi mengurangi sampah lingkungan.
- Inisiatif kreatif tersebut berhasil memperindah lingkungan sekaligus mulai membuka peluang ekonomi kreatif bagi warga setempat.
Suara.com - Menyambut peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia, suasana meriah sudah terlihat di Kampung Ledoksari, Karangbendo, Caturtunggal, Depok, Sleman, DI Yogyakarta.
Gang sepanjang sekitar 45 meter itu dipenuhi aneka dekorasi berbentuk kupu-kupu, bunga, lebah, serta hewan-hewan lainnya.
Menariknya, seluruh ornamen tersebut bukan dibuat dari bahan mahal, melainkan dari galon dan botol plastik bekas yang didaur ulang oleh warga secara swadaya.
Seorang warga setempat, Wahyuni (46), menceritakan bahwa inisiatif ini lahir dari kepedulian warga terhadap menumpuknya sampah di sekitar lingkungan mereka, terutama galon dan botol plastik sekali pakai.
Ketimbang dibuang begitu saja hingga mencemari lingkungan, puluhan warga memilih mengumpulkannya secara swadaya.
"Ledoksari tuh ya pokoknya berkreasi tiada henti, untuk acara khususnya 17-an atau acara apapun kita sengkuyung itu kita memanfaatkan barang-barang bekas, seperti galon, gelas-gelas ini, pokoknya kita manfaatkan dari plastik semuanya," kata Wahyuni saat ditemui, Senin (3/8/2026).
Otodidak Berkreasi
Ia mengatakan proses kreatif pembuatan dekorasi ini dilakukan secara otodidak melalui metode uji coba berkali-kali. Berbagai bentuk seperti lebah, kupu-kupu, hingga karakter mitologi seperti buto dan leak berhasil diciptakan dari susunan galon bekas.
Setiap malam, rumah-rumah warga di area gang kampung tersebut berubah menjadi bengkel kerja kecil tempat warga mengecat, memotong, dan merangkai plastik.
Ide-ide yang muncul, kata Wahyuni, tidak berasal dari pelatihan khusus. Seluruh bentuk dekorasi lahir dari proses mencoba, gagal, lalu mencoba kembali hingga menghasilkan karya yang diinginkan.
Baca Juga: Cegah Kebakaran Susulan, Gulkarmat Jaktim Masih Siagakan Personil di TPS Kramat Jati
"Otodidak, kita semuanya dari uji coba semua. Jadi ya mestinya ada gagalnya juga kan. Kita coba, kita coba, setiap malam kita cat, kita gimana-gimana... Jadi semuanya yang kita pengen, kreasi kita pengen apa kita bikin, idenya apa kita bikin," tuturnya.
Selama hampir dua bulan terakhir, sebanyak 25 kepala keluarga (KK) di kampung tersebut bergotong royong setiap malam menyulap sampah plastik menjadi dekorasi. Tidak hanya ibu-ibu, para bapak, remaja, hingga anak-anak ikut ambil bagian dalam proses pembuatannya.
"Kita sengkuyung setiap harinya membuat semuanya ini, sampai mau 17-an ini," ucapnya.
Dari Sampah Menjadi Kampung yang Bersinar
Bahan baku yang digunakan warga pun diperoleh tanpa biaya besar. Mereka cukup mengumpulkan galon dan botol plastik bekas dari lingkungan sekitar melalui grup percakapan.
Setelah dibersihkan, seluruh bahan didaur ulang menjadi aneka ornamen. Dana yang dikeluarkan hanya untuk membeli cat dan perlengkapan pendukung melalui iuran warga.
"Ini swadaya bahannya. Pokoknya ayo awak dewe urunan semene dinggo tuku cat? (ayo kita iuran segini untuk beli cat). Oke, ya okelah, jalan seperti itu," tandasnya.
Tag
Berita Terkait
-
Cegah Kebakaran Susulan, Gulkarmat Jaktim Masih Siagakan Personil di TPS Kramat Jati
-
10 Link Download Logo HUT ke-81 RI Versi PNG, Lengkap dengan Cara Mengunduhnya
-
17 Agustus dan Dilema Mengibarkan Bendera: Apakah Kita Benar-benar Merdeka?
-
Tragedi Petugas Damkar di Kramat Jati Jadi Alarm Bahaya Sampah Ilegal di Jakarta
-
8 Ide Lomba 17 Agustus untuk Anak-anak di Perumahan, Dijamin Seru dan Heboh!
Terpopuler
- Bawa Kasus Penebangan Pohon ke Jalur Hukum, Farhan Siap Lapor Gubernur Jabar dan KLH
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- Harta Kekayaan Iptu Setya Budi Dias, Oknum KPK Pemeras Bupati Pemalang
- 5 Sepatu Kasual Nyaman untuk Jalan Kaki di Kota, Ringan dan Empuk Dipakai Seharian
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Gugur Saat Bertugas, Kepala Regu Damkar Jaktim Sempat Mengeluh Nyeri Dada di Lokasi Kebakaran
-
Detik-detik Tabrakan Kereta Api dengan Truk hingga Terbelah Dua di Sergai
-
Kampung di Yogya Sulap Ratusan Galon Bekas Jadi Dekorasi HUT RI, Cantik Sekaligus Ramah Lingkungan
-
Rilis PV Perdana, Millennium Family Diadaptasi Jadi Anime
-
RI Cuan dari Nikel dan Batu Bara, Ekspornya Melonjak pada Juni 2026
-
Tangan Dingin John Herdman, Sulap Thom Haye Jadi Pemain Serba Bisa Selama Piala AFF 2026
-
Calon Korban Krisis Selat Hormuz Sudah Terlihat, Negara Monarki Tertua Ini Terancam Resesi
-
Pembangunan Stadion Kendal Tornado FC Disiapkan, Jadi Tonggak Kemajuan Sepak Bola Daerah
-
Kepala BGN Bantah MBG Habiskan APBN: Strawman Fallacy dalam Membaca Kritik
-
DPR Ungkap Sejumlah Dampak Besar dari Pemisahan Dana Pendidikan dari Program MBG