-
Jaringan listrik nasional Kuba kembali ambruk total saat proses pemulihan daya sedang berlangsung.
-
Kerusakan infrastruktur tua dan kelangkaan bahan bakar menjadi pemicu utama kegagalan sistem kelistrikan.
-
Pemadaman listrik berkepanjangan melumpuhkan fasilitas publik, transportasi, serta distribusi air bersih bagi masyarakat.
Suara.com - Jaringan listrik nasional Kuba kembali lumpuh total hanya beberapa jam setelah upaya pemulihan daya berhasil menerangi sebagian wilayah Havana. Kegagalan sistem pembangkit listrik mendadak ini memaksa jutaan warga kembali hidup tanpa pasokan energi di tengah cuaca panas ekstrem.
Lumpuhnya kembali transmisi listrik secara beruntun dalam hitungan jam menegaskan kerapuhan parah pada infrastruktur energi negara berhaluan komunis tersebut. Kegagalan berulang ini membuktikan bahwa strategi pembentukan jaringan listrik terisolasi milik pemerintah belum mampu menstabilkan beban puncak.
Krisis energi teranyar ini secara langsung mematikan pusat-pusat layanan publik vital yang baru saja menyala beberapa saat. Rumah sakit, fasilitas air bersih, serta jaringan distribusi pangan kini harus beroperasi menggunakan pasokan darurat yang sangat terbatas.
Sebelumnya, Uni Listrik Kuba (UNE) sempat menghubungkan kembali dua unit pembangkit gas Energas di Boca de Jaruco untuk memulihkan aliran daya ke wilayah ibu kota. Namun, gangguan frekuensi listrik yang mendadak meruntuhkan kembali seluruh sistem nasional yang sedang dibangun.
Mengenai insiden runtuhnya sistem tersebut, pejabat penyiaran pemerintah memberikan konfirmasi resminya melalui media sosial.
"Terlepas dari kemajuan yang dicapai hari ini, osilasi [listrik] memicu keruntuhan," kata Lazaro Manuel Alonso, direktur berita televisi pemerintah Kuba, dalam sebuah unggahan di media sosial, dikutip dari Al Jazeera, Selasa (4/8/2026).
Pemadaman massal ini memupuskan capaian pemulihan listrik di Havana yang sebelumnya sempat menyentuh angka 23 persen. Hanya dalam hitungan jam, seluruh wilayah ibu kota kembali gelap gulita akibat terputusnya pasokan utama.
Kerusakan trafo serta kegagalan sirkuit menjadi pemicu utama gangguan teknis sebelum blackout total terjadi di seluruh pulau. Perusahaan listrik setempat melaporkan lonjakan keluhan warga dari wilayah Guanabacoa, Habana del Este, La Lisa, hingga Marianao.
Pemerintah Kuba kini kembali menerapkan protokol darurat dengan membangun mikro-jaringan terisolasi secara bertahap. Langkah penanganan ini memprioritaskan fasilitas medis dan pemrosesan makanan sebelum merambah ke pemukiman warga.
Baca Juga: Detik-detik Ledakan Gas Metana Terowongan Sikkim India, 12 Pekerja Proyek PLTA Tewas
Warga Kuba kini mayoritas hanya menikmati aliran listrik selama beberapa jam saja dalam sehari. Kondisi memprihatinkan ini merusak bahan makanan warga dan melumpuhkan sektor transportasi publik.
Pihak Uni Listrik Kuba belum merinci jadwal pasti terkait pemulihan total arus listrik secara nasional. Ketidakpastian tersebut memicu kekhawatiran masyarakat atas potensi pemadaman berkepanjangan.
Krisis pasokan energi di Kuba akar masalahnya bersumber dari usia pembangkit termal yang telah melampaui 30 tahun. Fasilitas tua ini terus beroperasi tanpa pemeliharaan berkala akibat kelangkaan suku cadang pengganti.
Pemerintah Kuba menuding blokade minyak dan sanksi ekonomi Amerika Serikat sebagai pemicu utama kebangkrutan sektor energi. Kebijakan sanksi tersebut menutup akses pendanaan asing serta pasokan bahan bakar fosil dari luar negeri.
Pasokan minyak Kuba terhenti drastis setelah Presiden AS Donald Trump memberlakukan blokade minyak menyusul peristiwa penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada 3 Januari. Penghentian pengiriman BBM dari Venezuela dan Meksiko memperparah kelangkaan BBM nasional.
Di sisi lain, sejumlah pengamat menilai krisis berkelanjutan ini juga dipicu oleh mismanajemen dan kurangnya investasi pemerintah selama berdekade. Tata kelola yang buruk mempercepat pembusukan infrastruktur kelistrikan nasional.
Insiden ini menambah panjang rentetan padamnya listrik nasional yang sempat terjadi tiga kali hanya dalam sembilan hari pada bulan Juli lalu. Kegagalan sistemik ini memperlihatkan rapuhnya ketahanan energi Kuba di tengah tekanan ekonomi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- Melayat ke Yogya, Susi Pudjiastuti Kenang Sosok Nasirun
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- Kado Kemerdekaan: Pemutihan Pajak Kendaraan di Agustus 2026, Buruh dan Ojol Dapat Diskon Khusus
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Review Hanasui Power Bright Expert Serum, Beneran Bikin Cerah Cuma dalam 7 Hari?
-
Kuba 'Kiamat Kecil' Gara-gara Mati Listrik, Negara Lumpuh Total di Tengah Cuaca Panas Ekstrem
-
Zulhas Ultimatum Appi Soal PSEL: Dua Pekan Harus Beres, Kalau Tidak Diambil Alih Gubernur
-
TNI AD Didorong Terus Berbenah Ikuti Perkembangan Zaman
-
Dari Kegagalan Menuju Sapta Abdi Praja, Charina Anggie Simbolon Wujudkan Mimpi Sang Ayah
-
Kinerja Jeblok, Saham BRMS Masih Layak Dikoleksi?
-
Misteri "Mr. S": Buku Bergambar Paling Kocak yang Wajib Dibaca Anak Sebelum Masuk Sekolah
-
Mobil Listrik BYD Atto 1 vs Wuling Aira EV: Adu Harga, Fitur, dan Skema Kredit
-
Belum Juga Berunding, Donald Trump Ancam Iran dengan Pemenggalan
-
Bahlil Bantah 3 Perusahaan Disebut Aktivasi Izin Tambang di Raja Ampat