News / Internasional
Rabu, 05 Agustus 2026 | 11:07 WIB
Rudal Patriot buatan Amerika Serikat ditembakan dalam latihan perang militer Taiwan pada tahun 2006. [AFP]
Baca 10 detik
  • Stok rudal pencegat THAAD milik Amerika Serikat telah menyusut hingga hampir 80 persen.

  • Menipisnya amunisi pertahanan memicu kekhawatiran sekutu Teluk akan potensi serangan balasan Iran.

  • Presiden Donald Trump memilih menunda rencana serangan militer terbaru ke wilayah infrastruktur Iran.

 

Suara.com - Inventaris pertahanan udara Amerika Serikat berada pada tingkat yang sangat mengkhawatirkan setelah menghabiskan hampir 80 persen rudal pencegat THAAD sejak konflik dengan Iran pecah. Ketersediaan amunisi utama yang menipis ini berpotensi merusak kesiapan tempur jangka panjang militer AS di wilayah strategis lainnya.

Sebelum peperangan dimulai, Center for Strategic and International Studies mencatat Washington menguasai sekitar 452 rudal THAAD serta 2,200 unit Patriot varian termodern. Penggunaan intensif dalam periode waktu singkat membuat setengah dari total pasokan Rudal Patriot tersebut kini sirnah dari gudang senjata.

Laporan internal Pentagon mengonfirmasi penggunaan senjata permukaan-ke-udara jarak jauh berpresisi tinggi telah menguras habis inventaris sistem pertahanan yang ada. Penurunan drastis pada persediaan amunisi vital ini belum pernah terungkap ke publik sebelumnya.

Sistem antipeluru kendali Terminal High Altitude Area Defense (THAAD). [AFP]

Negara-negara sekutu di kawasan Teluk menyatakan kecemasan mendalam atas krisis persediaan persenjataan AS yang kian nyata. Mereka khawatir keterbatasan sistem penangkal serangan akan merusak benteng pertahanan bersama dari balasan Iran.

Ketergantungan penuh terhadap payung pertahanan Washington membuat sekutu merasa sangat rentan jika ketegangan mendadak melonjak. Kekhawatiran ini disampaikan langsung kepada Gedung Putih sebelum penundaan rencana serangan udara.

Isu penyusutan inventaris tempur ini telah menjadi bahasan hangat di tingkat pimpinan tertinggi militer AS. Penasihat senior berulang kali mengingatkan risiko besar jika Washington nekat memperluas cakupan pertempuran.

Keterbatasan cadangan senjata militer darat AS mencakup habisnya amunisi berjarak tempuh jauh seperti ATACMS dan Precision Strike Missiles. Tidak hanya itu, hampir setengah dari persediaan rudal jelajah Tomahawk juga telah meluncur ke sasaran.

Penundaan operasi militer skala besar yang dirancang akhir pekan lalu dipicu oleh akumulasi laporan intelijen dan desakan sekutu Teluk. Presiden Donald Trump akhirnya memilih menghentikan rencana gempuran terhadap infrastruktur vital Iran.

Meskipun perintah awal telah diterimanya, Menteri Pertahanan Pete Hegseth diminta untuk menahan diri sementara waktu. Keputusan pembatalan serangan diambil setelah Washington mendengarkan masukan dari negara mitra di kawasan.

Baca Juga: Gugatan Tarif Impor Trump Resmi Diajukan 25 Negara Bagian AS

"Militer Amerika adalah yang terkuat di dunia dan memiliki segala yang dibutuhkan untuk mengeksekusi pada waktu dan tempat yang dipilih Presiden," tegas Juru Bicara Utama Pentagon, Sean Parnell.

"Kami telah melaksanakan beberapa operasi yang sukses di seluruh komando tempur sambil memastikan militer AS memiliki persenjataan yang mendalam untuk melindungi rakyat dan kepentingan kami," tambahnya.

Juru Bicara Gedung Putih, Anna Kelly, turut menegaskan kesiapan logistik tempur nasional dalam menghadapi segala skenario. Kelly menyampaikan bahwa militer AS memiliki amunisi yang lebih dari cukup untuk melayani seluruh tujuan strategis Presiden Trump.

"Operasi Epic Fury telah menunjukkan apa yang terjadi jika Anda mengusik Serikat. Meskipun demikian, Presiden telah mendesak kontraktor pertahanan kita untuk terus memproduksi lebih banyak senjata buatan Amerika, yang merupakan yang terbaik di dunia," ujar Kelly.

Peringatan senada mengenai menipisnya stok senjata juga diutarakan Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Dan Caine, dalam pertemuan tertutup. Risiko timbulnya korban jiwa dari kalangan sipil di Iran turut menjadi bahan pertimbangan mendalam.

Para pengamat militer menilai kekurangan amunisi pencegat dapat memicu bahaya besar apabila musuh meluncurkan serangan nirawak secara masif. Kondisi ini dinilai dapat membahayakan posisi militer AS jika harus berhadapan dengan kekuatan besar lain seperti Cina, Rusia, atau Korea Utara.

"Ketiadaan rudal pencegat berarti serangan konvensional dapat berbalik menyerang jika drone bunuh diri mulai lolos secara massal," ungkap seorang sumber internal. "Aksi saling balas tidak akan pernah mengakhiri ini."

Sektor manufaktur pertahanan AS saat ini menghadapi kendala besar untuk mempercepat rantai produksi amunisi replacement. Dengan tingkat penerimaan saat ini yang hanya mencapai 20 rudal Patriot per bulan, dibutuhkan waktu hingga tiga tahun lebih untuk mengembalikan cadangan pertahanan ke posisi semula.

Krisis persediaan amunisi AS bermula dari fase awal konflik Iran yang dinamai Operasi Epic Fury, di mana ribuan rudal presisi tinggi diluncurkan secara masif. Penyerapan amunisi pertahanan secara intensif dalam waktu singkat ini memicu celah logistik yang sulit ditutupi dalam waktu cepat oleh industri pertahanan domestik.

Load More