News / Nasional
Kamis, 06 Agustus 2026 | 10:19 WIB
Kepala BGN, Sudaryono. (Suara.com/Lilis Varwati)
Baca 10 detik
  • Badan Gizi Nasional menemukan pelanggaran SOP berupa proses memasak terlalu cepat dalam evaluasi kasus keracunan Program Makan Bergizi Gratis.
  • Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono menyatakan operasional dapur disetop sementara dan kepala SPPG dicopot untuk memudahkan investigasi laboratorium.
  • Pihak berwenang memperketat pengawasan operasional serta siap menyerahkan kasus kepada kepolisian jika ditemukan unsur kesengajaan atau sabotase.

Suara.com - Badan Gizi Nasional (BGN) menemukan masih adanya pelanggaran standar operasional prosedur (SOP) dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Salah satu temuan yang menjadi sorotan ialah proses memasak yang dilakukan lebih cepat dari waktu yang telah ditentukan.

Temuan tersebut diperoleh setelah BGN melakukan evaluasi terhadap sejumlah insiden dugaan keracunan makanan yang terjadi di berbagai daerah.

Kepala Badan Gizi Nasional, Sudaryono, mengatakan setiap laporan dugaan keracunan selalu ditindaklanjuti dengan menghentikan sementara operasional dapur MBG yang bersangkutan. 

Sampel makanan kemudian diuji di laboratorium oleh Dinas Kesehatan di bawah pengawasan Kementerian Kesehatan, sementara Kepala SPPG dicopot untuk memudahkan proses investigasi.

"Setiap kejadian itu, satu dapurnya disuspend, kemudian makanannya itu kemudian dicek di lab oleh Dinas Kesehatan, di bawah pengawasan dari Kementerian Kesehatan, kita akan cari tahu gitu, kemudian KaSPPG-nya kami copot, dan kemudian kita investigasi, sebetulnya keracunannya karena apa," jelas Sudaryono di Kemenkes, Rabu (5/8/2026).

Menurutnya, setiap kasus keracunan merupakan kejadian yang fatal karena berkaitan langsung dengan keselamatan dan kesehatan para penerima manfaat, terutama anak-anak. Karena itu, BGN menerapkan prinsip zero tolerance terhadap setiap kasus keracunan sembari terus memperbaiki tata kelola keamanan pangan dalam program MBG.

Dari hasil evaluasi, BGN menemukan sejumlah bentuk ketidakpatuhan terhadap SOP. Salah satunya, proses memasak dilakukan lebih awal dari jadwal yang telah ditetapkan.

"Kami melihat beberapa sebab, ini kita ngomong lebih umum, ada yang misalnya SOP-nya, dia masaknya kecepatan. Kalau di Papua, kita lihat dari lock, lock dapurnya itu kan, kita ada sistem locknya, dia kapan persiapan, kapan nyacah, kapan dimasak, itu ada," ujar Sudaryono.

Ia menegaskan kedisiplinan dalam menjalankan SOP menjadi kunci menjaga kualitas dan keamanan pangan. BGN pun akan memperketat pengawasan terhadap seluruh proses operasional SPPG.

Baca Juga: MBG hingga Gaji ke-13 Dongkrak Belanja Pemerintah, Pertumbuhan Ekonomi RI Tetap Melambat

"Ini kan masalah kedisiplinan. Nah ini kita lagi cari formula. Kalau memang ada unsur-unsur lain, ya misalnya ada unsur kesengajaan, sabotase, dan lain-lain, kami tidak segan-segan untuk kemudian diperiksa oleh pihak kepolisian, dan memang kalau ada, ya kita serahkan semua," tegasnya.

Load More