- PDRM mengirim tim investigasi ke Jakarta untuk membongkar jaringan narkoba pilot Malaysia.
- Pilot penyelundup narkoba dipastikan tidak diekstradisi dan wajib menjalani proses hukum di Indonesia.
- Polisi memeriksa petugas AVSEC KLIA dan mendalami keterkaitan kasus penangkapan narkoba di Surabaya.
Suara.com - Kepolisian Diraja Malaysia (PDRM) menerjunkan tim penyidik dan intelijen dari Jabatan Siasatan Jenayah Narkotik (JSJN) Bukit Aman ke Jakarta pekan depan. Langkah ini diambil guna membongkar seluruh rantai jaringan penyelundupan narkotika yang melibatkan seorang pilot asal Malaysia.
Tim khusus tersebut dijadwalkan beroperasi di Jakarta pada 11 hingga 15 Agustus mendatang. Fokus utama kedatangan mereka adalah menelusuri asal bahan baku, modus operandi, serta indikasi keterkaitan tersangka dengan sindikat lokal di Indonesia.
Penyelidikan mendalam ini krusial untuk membedah celah keamanan di Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) hingga barang haram tersebut berhasil lolos. PDRM menegaskan bahwa penelusuran tidak hanya berhenti pada penangkapan fisik, melainkan penuntasan seluruh struktur distribusi.
"PDRM akan melihat aspek keseluruhan dari distribusi obat-obatan ini. Ini berhasil lolos dari pemeriksaan keamanan di pintu keberangkatan Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA), dan apa hubungannya dengan sindikat di Indonesia," ujar Direktur JSJN Bukit Aman Datuk Hussein Omar Khan saat menjadi tamu dalam program Waspada di Bernama Radio.
Hussein menekankan bahwa pengungkapan alur komprehensif sangat penting untuk mendeteksi potensi keterlibatan pihak lain. Penyelidikan bersama ini menjadi kunci dalam memetakan pola peredaran lintas negara.
Terkait proses hukum tersangka yang kini ditahan di Indonesia, pihak Malaysia memastikan tidak akan mengajukan permohonan ekstradisi. Pilot tersebut diwajibkan mengikuti seluruh tahapan peradilan sesuai hukum yang berlaku di Indonesia.
"Tidak ada (ekstradisi)... kami dapat terus menerima informasi dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI) akan membagikan pembaruan mengenai kasus ini. Namun ia harus menjalani proses hukum di negara tersebut," tegas Hussein.
Penanganan kasus ini menyerahkan sepenuhnya wewenang penindakan hukum kepada aparat penegak hukum Indonesia. PDRM memfokuskan diri pada pengembangan informasi dan penelusuran aset sindikat di wilayah Malaysia.
Pemeriksaan internal di lokasi keberangkatan juga terus berlanjut secara intensif. PDRM telah memanggil dua personel Aviation Security (AVSEC) KLIA dua hari lalu untuk dimintai keterangan.
Baca Juga: Saat Tawa Dikepung Intelijen: Menguji UU Polri Lewat Ruang Publik Habermas
Meski demikian, belum ada penangkapan baru terkait pemeriksaan petugas bandara tersebut. Hasil penyelidikan awal menunjukkan kedua petugas AVSEC tidak memiliki hubungan langsung dengan tindakan kejahatan tersangka.
Di sisi lain, kepolisian juga mendalami potensi keterkaitan antara kasus pilot ini dengan penangkapan warga Malaysia lain di Surabaya. Pria berusia 22 tahun sebelumnya diamankan di Bandara Internasional Juanda atas dugaan kasus serupa.
Penyelidikan pada kasus di Surabaya menghadapi tantangan teknis yang cukup kompleks. Sindikat memanfaatkan identitas pihak ketiga untuk pendaftaran nomor telepon dan menggunakan media sosial guna mengaburkan jejak komunikasi.
Latar belakang rentetan kasus ini bermula saat otoritas Indonesia menangkap pilot berusia 39 tahun di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Tersangka diduga kuat mencoba menyelundupkan barang haram seberat 25 kilogram.
Dalam penggeledahan, POLRI menemukan 15 paket berisi 70.114 kapsul ekstasi dan sabu-sabu. Total nilai ekonomis barang bukti tersebut diperkirakan mencapai RM45 juta berdasarkan harga pasar di Indonesia.
Sementara pada kasus Surabaya, pemuda asal Johor ditangkap setelah tertangkap tangan membawa empat paket sabu seberat satu kilogram. Pelaku juga melilitkan lebih dari 1.000 butir ekstasi di tubuhnya saat melewati pemeriksaan bandara.
Berita Terkait
Terpopuler
- Profil Norman Joesoef, Pengusaha Muda yang Disebut-sebut Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan Hari Ini 5 Agustus 2026: Segalanya Berjalan Lancar
- 4 HP Redmi Memori 256 GB dan Kamera Jernih Harga Rp1 Jutaan, Cocok untuk Multitasking
- Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- Jalan Santai Cocoknya Pakai Sepatu Apa? Ini 6 Produk Lokal yang Nyaman Buat 17 Agustusan
Pilihan
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
Terkini
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Rekor Buruk Timnas Indonesia di Piala AFF Semakin Panjang, Pemain Naturalisasi Tak Berkutik
-
100 Petani Sidomulyo Muba Serahkan Diri, Bela 4 Warga yang Dituduh Mencuri di Kebun Sendiri
-
Eks Penyidik KPK: Kasus Febrie Adriansyah Harus Dikembangkan ke Atas, Bawah, dan Samping
-
Dari Batam Menuju Timnas Indonesia, Garudayaksa FC Buka Kesempatan bagi Talenta Muda
-
Tak Berdiri Sendiri, Pengamat Unas Endus Ada Sosok Berpengaruh di Kasus Eks Jampidsus
-
Erick Thohir Evaluasi Skuad Timnas Indonesia Usai Gagal di Piala AFF 2026, John Herdman Out?
-
Kata-kata Mengharukan Rizky Ridho Usai Timnas Indonesia Tersingkir dari Piala AFF 2026
-
Tangis Haru Karsa, Rumah Reotnya di Klapanunggal Kini Kokoh Direnovasi Indocement