News / Internasional
Jum'at, 07 Agustus 2026 | 11:48 WIB
Presiden Prabowo didampingi Kepala BRIN Arif Satria beserta sejumlah menteri Kabinet Merah Putih berkeliling mengunjungi stan pameran di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (6/8/2026). [Suara.com/Bagaskara]
Baca 10 detik
  • Pernyataan Presiden Prabowo mengenai nuklir Iran memicu tanggapan resmi Kedutaan Besar di Jakarta.

  • Badan pengawas IAEA mengonfirmasi program nuklir Iran murni untuk kepentingan sipil dan damai.

  • Ketelitian data diplomasi sangat krusial untuk menjaga kredibilitas hubungan luar negeri Indonesia.

Suara.com - Media Timur Tengah menilai pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai kepemilikan senjata nuklir Iran memicu sorotan tajam di Timur Tengah. Menurut mereka pidato tanpa data acuan tersebut berpotensi merenggangkan hubungan baik Jakarta dengan negara-negara kawasan Timur Tengah.

Menurut media itu, klaim spekulatif ini muncul di tengah upaya negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan UEA yang sedang memperbaiki jalur diplomasi dengan Teheran. Indonesia berisiko kehilangan kredibilitas sebagai perantara perdamaian independen akibat kekeliruan narasi geopolitik tersebut.

"Klaim palsu Prabowo tentang senjata nuklir Iran akan merugikannya di Timur Tengah," begitu tulis middleeastmonitor dalam judul beritanya.

Presiden RI, Prabowo Subianto. (tangkap layar)

Dalam beritanya dituliskan, Kedutaan Besar Iran di Jakarta langsung memberikan koreksi terbuka untuk meluruskan pernyataan yang disampaikan dalam forum bisnis tersebut. Langkah diplomatik ini menegaskan bahwa Teheran tidak pernah memproduksi hulu ledak nuklir untuk tujuan militer.

Prabowo menyebut beberapa negara Arab akan saling mengejar persenjataan pemusnah massal akibat aktivitas nuklir Iran. Namun, ia tidak mengungkapkan sumber informasi maupun bukti pendukung atas efek domino kawasan tersebut.

Fakta internasional menunjukkan Iran terikat perjanjian non-proliferasi yang membatasi penggunaan nuklir hanya untuk kebutuhan sipil. Inspeksi rutin lembaga pengawas dunia selalu mengonfirmasi komitmen damai program energi Teheran.

Diplomasi Indonesia di Timur Tengah selama ini dibangun atas pemahaman mendalam terhadap isu Palestina dan perdamaian kawasan. Kekeliruan mendasar mengenai program nuklir ini berisiko mengikis kepercayaan negara-negara Muslim terhadap kepemimpinan Jakarta.

Isu kepemilikan senjata nuklir di kawasan Timur Tengah memerlukan tingkat kecermatan tinggi dari seorang kepala negara.

"Klaim yang ceroboh dan salah tentang program nuklir Iran merusak citra tersebut, memberi tahu kawasan itu bahwa pemahaman Prabowo tentang politiknya mungkin lebih dangkal daripada yang disarankan oleh retorikanya tentang Palestina, dan memberi Teheran alasan untuk meragukan seberapa serius solidaritas itu harus ditanggapi," tulis MEMO.

Baca Juga: Catut Nama Prabowo, Istana Bantah Makalah Nobel Soal Program MBG

Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi menegaskan ketahanan negaranya telah teruji tanpa perlu mengandalkan hulu ledak nuklir. Klarifikasi resmi ini dikeluarkan hanya sehari setelah pidato kontroversial tersebut disampaikan ke publik.

"Mereka menyatakan secara publik bahwa Teheran tidak pernah mengejar senjata nuklir dan tidak akan pernah melakukannya, dan Duta Besar Mohammad Boroujerdi menambahkan bahwa ketahanan Iran sendiri selama perang tahun ini telah menjawab pertanyaan tersebut tanpa perlu hulu ledak," tulis MEMO lagi.

Momen yang ramai diperbincangkan tersebut berlangsung ketika Presiden Prabowo Subianto tengah mengulas peta dinamika keamanan global, khususnya isu sensitif seputar perlombaan kepemilikan senjata nuklir di kawasan Timur Tengah.

Peristiwa tersebut terekam dalam pertemuan Presiden Prabowo bersama jajaran pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia se-Indonesia di Istana Negara, Jakarta, pada Jumat (31/7/2026).

Dalam forum yang dihadiri para pelaku usaha nasional itu, Presiden memaparkan betapa kompleksnya ketegangan geopolitik internasional saat ini, termasuk risiko efek domino apabila suatu negara di Timur Tengah terkonfirmasi mengembangkan persenjataan atom.

Di tengah analisis geopolitik yang disampaikan, Prabowo menyinggung perihal informasi terkait status kepemilikan senjata nuklir oleh Iran.

Prabowo menilai bahwa munculnya persepsi mengenai kapasitas militer nuklir Iran dapat memicu motivasi negara-negara tetangga di kawasan Teluk dan Timur Tengah untuk ikut serta membangun kekuatan penangkal yang setara.

"Dikatakan bahwa Iran sudah punya senjata nuklir. Sekarang Saudi Arabia ingin juga punya senjata nuklir. Kalau Saudi Arabia ingin punya senjata nuklir, tidak menutup kemungkinan Emirate (Uni Emirat Arab) juga ingin punya senjata nuklir, Qatar juga ingin punya senjata nuklir, Mesir juga ingin senjata nuklir," ujar Prabowo dalam forum terkait.

Load More