-
Kapal kargo First Margaux menabrak kapal nelayan Luqing Yuanyu 108 di Selat Singapura.
-
Seluruh awak kapal selamat dan kapal nelayan berhasil berlabuh di sekitar lokasi kejadian.
-
Otoritas maritim Singapura belum menerbitkan pernyataan resmi mengenai insiden tabrakan kapal tersebut.
Suara.com - Kapal kargo raksasa berbendera Panama menghantam kapal nelayan asal China di jalur pelayaran padat Selat Singapura. Benturan keras tersebut memaksa puluhan ton air laut menerjang geladak dan membuat kapal nelayan miring secara drastis.
Rekaman amatir yang diambil dari atas kapal nelayan memperlihatkan detik-detik mencekam saat badan kapal kargo yang berukuran jauh lebih besar mendekat cepat dari belakang. Para anak kapal nelayan bertaruh nyawa dengan memegang erat pagar pembatas agar tidak tersapu ombak ke laut lepas.
Laporan CNA, kapal kargo sepanjang 229 meter bernama First Margaux menabrak kapal nelayan Luqing Yuanyu 108 yang berukuran 49 meter. Peristiwa bahaya ini berlangsung pada Kamis petang, 17 September 2026, sekitar pukul 17.00 WIB.
Kedua armada tersebut sebenarnya bergerak dari lokasi lego jangkar yang sama di perairan Singapura sejak pagi hari. Keduanya berlayar sejajar memasuki jalur lalu lintas laut mengarah ke barat sebelum kecelakaan tak terelakkan terjadi.
Tumbukan pada bagian lambung membuat kapal nelayan China berputar arah di tengah jalur pelayaran. Momen dramatis itu menjadi viral di berbagai media sosial setelah videonya tersebar luas sepanjang akhir pekan.
Seluruh awak kapal nelayan dilaporkan selamat dan tidak ada temuan korban luka-luka dalam musibah ini. Otoritas maritim setempat sampai saat ini masih belum memberikan keterangan resmi terkait penyebab pasti insiden tersebut.
Sistem identifikasi otomatis (Automatic Identification System) milik kapal Luqing Yuanyu 108 tetap memancarkan sinyal aktif hingga Minggu, 20 September 2026. Hal ini memverifikasi bahwa kondisi kapal bertahan dan berhasil menuju area labuh darurat di sekitar lokasi.
Peristiwa ini menambah daftar panjang risiko navigasi di Selat Singapura yang menjadi salah satu titik tersibuk lalu lintas kapal dunia. Konsentrasi kapal besar dan kecil yang berbagi jalur pelayaran sempit meningkatkan potensi benturan fisik antar-armada.