- Pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago menilai Joko Widodo masih piawai mengelola sentimen publik melalui komunikasi rendah hati dan blusukan.
- Aktivitas turun ke lapangan dan pembagian sembako tersebut menjadi strategi untuk merawat citra positif serta kekuatan politik Jokowi.
- Gaya komunikasi pemerintahan Prabowo Subianto yang dinilai kaku berbanding terbalik dan dapat menurunkan tingkat kepercayaan publik.
Suara.com - Meski sudah tidak lagi menjabat sebagai Presiden, sosok Joko Widodo (Jokowi) dinilai masih piawai dalam mengelola sentimen publik.
Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago, menyoroti bagaimana gaya komunikasi "rendah hati" Jokowi tetap menjadi kekuatan politik yang signifikan, bahkan di masa purnatugas.
Menurut Pangi, pendekatan Jokowi yang sederhana, tidak defensif, dan tampak lebih banyak mendengarkan masyarakat menjadi kunci utama tingginya tingkat kepuasan publik terhadap dirinya. Hal ini terlihat jelas dari aktivitas Jokowi yang tetap rajin turun ke lapangan untuk menemui warga.
Bukan Sekadar Blusukan Biasa
Pangi menilai, aksi turun ke jalan dan blusukan yang dilakukan Jokowi saat ini bukanlah sekadar aktivitas warga biasa.
Ia melihat ada agenda politik terselubung untuk menjaga sekaligus membangun kembali kekuatan politiknya di mata rakyat.
"Semua itu dikondisikan beliau bisa meyakini sehingga orang terkesan orang akan berebut salaman, akan berebut memeluk beliau terkesan orang betul-betul meyenangi beliau dan menyebutkan lebih enak di era Jokowi," ujar Pangi dikutip dari YouTube Forum Keadilan TV, Senin (10/8/2026).
Selain interaksi fisik, kebiasaan Jokowi membagikan sembako saat bertemu warga dianggap sebagai strategi jitu dalam merawat citra positif.
Pola ini, menurut Pangi, berhasil menjaga keterikatan emosional masyarakat dengan sang mantan presiden.
Baca Juga: Ketika Kritik ke Presiden Dibalas Borgol, MK pun 'Dilangkahi'
Kontras dengan Gaya Komunikasi Prabowo
Kondisi ini berbanding terbalik dengan gaya komunikasi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Pangi mencermati bahwa pola komunikasi kabinet saat ini cenderung kaku dan sering kali memicu polemik di ruang publik.
Ia menyebut harapan besar masyarakat yang disematkan pada pundak Prabowo justru kerap terbentur oleh pernyataan-pernyataan dari tim komunikasinya yang dianggap kontraproduktif.
"Persepsi publik dan sentimen orang membawa harapan kepada Prabowo tidak terjadi, yang justru ngomong salah, yang terjadi tim komunikasinya menyerang terus, rakyat disalahkan terus," tegas Pangi.
Pangi memperingatkan bahwa komunikasi publik yang buruk dapat menjadi bumerang bagi pemerintah. Jika Presiden dianggap gagal menjaga sentimen masyarakat, maka tingkat kepercayaan dan kepuasan publik akan merosot tajam.
Meskipun lahirnya kepemimpinan Prabowo awalnya dipicu oleh rasa jenuh sebagian masyarakat terhadap kekuasaan Jokowi selama 10 tahun, realita di lapangan kini mulai bergeser. Pangi menilai kekuatan politik masa lalu tidak bisa dipandang sebelah mata.
Aktivitas dan pola komunikasi Jokowi yang masih "lengket" di hati masyarakat diprediksi akan terus membayangi dan memengaruhi persepsi publik terhadap jalannya pemerintahan Prabowo Subianto saat ini.
Reporter: Agustin Dwi Anggraini
Berita Terkait
-
Gus Yaqut Tegaskan Kuota Haji Tambahan 20 Ribu Adalah Instruksi Langsung Jokowi
-
Tak Ada Nama Lain, Prabowo Ajukan Destry Damayanti Jadi Calon Tunggal Gubernur BI ke DPR
-
Prabowo Klaim Pendapatan Danantara Naik 400 Persen, Sebut Harus Diaudit
-
Ketika Kritik ke Presiden Dibalas Borgol, MK pun 'Dilangkahi'
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- KPAI Desak Audit Total MBG: Tata Kelola Gagal, Anak-anak Jadi Korban Ambisi Program
- Ramalan Shio 9 Agustus 2026: 5 Shio Bakal Buang Kesialan dan Buka Jalan Keberuntungan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Bromo Ditutup karena Kebakaran, 3.062 Wisatawan Bisa Refund atau Reschedule Tiket
-
Erick Thohir Bongkar Skuat Mewah Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026, Misi Balas Kegagalan Piala AFF
-
Terjebak FOMO Gaji Dua Digit di Usia 20-an, Apakah Realistis?
-
Ramai Bukan Berarti Aman: Mengapa Perempuan Masih Waspada di Malioboro?
-
Destry Damayanti Jadi Calon Tunggal Gubernur BI, Pasar Modal Beri Respon Mengejutkan
-
RDF Rorotan Belum Beroperasi Maksimal, Ternyata Ini Kendala Utamanya
-
5 Rekomendasi Bedak Wardah untuk Menutupi Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
-
Penampakan Terbaru Mojtaba Khamenei, Media AS Malah Sebar Cerita Konspirasi
-
Jokowi Masih 'Lengket' di Hati Rakyat, Akankah Jadi Bayang-bayang bagi Pemerintahan Prabowo?
-
Bela Tambang Rakyat, DPR Papua Tengah Minta Papan Satgas PKH di KM 95 dan KM 102 Dicabut