-
Trump menuntut ganti rugi dari Iran atas tewasnya ribuan prajurit AS dan warga sipil.
-
Tuntutan AS dilayangkan untuk membalas syarat pembukaan Selat Hormuz yang diajukan pihak Iran.
-
AS kini memperlambat negosiasi militer dan fokus menekan ekonomi Iran yang terhimpit inflasi.
Suara.com - Presiden Donald Trump menegaskan pemerintah Amerika Serikat menuntut ganti rugi perang dari Iran atas seluruh korban tewas dan luka berat akibat aksi militer negara tersebut. Langkah ini menjadi serangan balik strategis Washington terhadap Teheran yang sebelumnya meminta kompensasi atas kerusakan wilayah mereka selama perang.
Pernyataan keras tersebut disampaikan Trump melalui unggahan di platform Truth Social pada 10 Agustus. Respon ini muncul setelah Iran mengajukan syarat ganti rugi dalam perundingan bersama Oman untuk membuka kembali jalur pelayaran vital Selat Hormuz.
"Ini adalah gagasan yang menarik karena sekarang saya juga menuntut kompensasi dari Iran," ujar Trump dikutip dari USA Today, Selasa (11/8/2026).
Trump menyebut pembayaran tersebut merupakan bentuk pertanggungjawaban atas banyaknya nyawa yang hilang akibat bom tepi jalan dan berbagai konflik yang melibatkan Iran. Ia secara spesifik menyebut serangan kapal USS Cole tahun 2000 oleh kelompok Al Qaeda serta ribuan orang lainnya yang tewas dalam pertempuran.
Mengapa Trump Menuntut Ganti Rugi Perang dari Iran?
Selain korban militer, Trump mendesak Teheran memberikan kompensasi kepada keluarga demonstran tidak bersalah yang tewas di tangan rezim penguasa selama setengah abad terakhir. Tuntutan finansial ini kini menjadi syarat mutlak bagi AS dalam setiap pembicaraan diplomatik mendatang.
"Saya telah menginstruksikan perwakilan saya untuk memasukkan hal ini dengan tegas ke dalam setiap, dan seluruh, negosiasi di masa depan," kata presiden.
Data mencatat sedikitnya 18 anggota militer Amerika Serikat tewas di Timut Tengah dalam serangan yang berkaitan dengan peperangan melawan Iran sejak Februari lalu. Pertikaian bersenjata antara kedua negara tersebut kini telah melampaui usia lima bulan.
Pernyataan tegas ini menyusul wawancara telepon Trump dengan Axios pada 9 Agustus yang mengindikasikan AS akan menahan aksi militer baru. Washington memilih memantau dampak tekanan ekonomi yang kini tengah mencekik Teheran.
Baca Juga: Eks Menhan Mark Esper: Tawaran Damai Iran Konyol, Merasa Lagi di Atas Angin
Bagaimana Perubahan Taktik Negosiasi Amerika Serikat Terhadap Iran?
Langkah baru ini menandai pergeseran gaya diplomasi yang signifikan setelah Trump sempat mengancam akan melakukan pancungan jika Iran menolak kesepakatan damai pada 3 Agustus lalu. Kini AS mengubah pendekatan dengan memanfaatkan krisis internal yang dialami musuhnya.
"Kami melakukannya secara tenang," kata Trump kepada Axios, seraya mengisyaratkan bahwa pembicaraan mengenai kesepakatan damai telah melambat.
"Kami hanya setengah bernegosiasi dengan mereka. Kami hanya mengawasi Iran dengan inflasi yang sangat tinggi dan fakta bahwa mereka tidak memiliki uang," lanjutnya.
Sebelumnya, Trump terus mendorong terwujudnya kesepakatan damai yang dapat menghentikan ambisi dan kemampuan nuklir Iran. Namun, nota kesepahaman yang sempat dicapai kedua negara pada Juni lalu mendadak runtuh tanpa menunjukkan kemajuan berarti hingga saat ini.
Ketegangan geopolitik ini berakar dari eskalasi militer AS-Iran yang membara sejak awal Februari dan melumpuhkan Stabilitas kawasan. Penutupan akses Selat Hormuz oleh Iran serta kehancuran ekonomi domestik Teheran kini menjadi titik krusial yang menyandera proses diplomasi kedua pihak.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- KPAI Desak Audit Total MBG: Tata Kelola Gagal, Anak-anak Jadi Korban Ambisi Program
- Ramalan Shio 9 Agustus 2026: 5 Shio Bakal Buang Kesialan dan Buka Jalan Keberuntungan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Babak Baru! Donald Trump Tuntut Iran Bayar Ganti Rugi Perang karena Ini
-
Ulasan Novel Olenka, Obsesi dan Kehampaan Jiwa yang Terasing
-
Kenapa Gelar Bangsawan Menantu Sultan Brunei Raabi'atul Adawiyyah Dicabut?
-
7 Cara Menghilangkan Bau Tidak Sedap pada Sepatu, Bisa Pakai Bahan Rumahan Ini
-
Survei BI: Keyakinan Konsumen Turun, Apa Penyebabnya?
-
Ekonomi RI Tumbuh 5,29%, Tapi Mengapa Dunia Usaha Masih Tertekan?
-
Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026 Apakah Lewat Indonesia?
-
Shakira Serukan Rakyat Kolombia Bersatu Hadapi Gempa Bumi Besar
-
Titik Balik Kasus Kematian Sutrimo: Mengapa Keluarga Akhirnya Memilih Lapor Polisi?
-
Rilis Trailer Perdana, Robert Pattinson Mainkan Dua Peran di Primetime