-
Iran mengajukan syarat berat bagi AS untuk membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz.
-
Mantan Menhan Mark Esper menilai tuntutan Iran konyol dan menunjukkan posisi mereka di atas angin.
-
Militer AS mengalami kelangkaan rudal dan amunisi strategis di tengah eskalasi konflik Selat Hormuz.
Suara.com - Ketegangan geopolitik di Jalur Selat Hormuz semakin memuncak setelah pemerintah Iran menetapkan sejumlah syarat perdamaian yang berat untuk membuka kembali jalur pelayaran vital tersebut. Langkah tegas Tehran ini dinilai menutup ruang negosiasi sekaligus mempertegas posisi tawar mereka dalam menghadapi tekanan militer Amerika Serikat.
Mantan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Mark Esper menilai seluruh tuntutan yang diajukan pihak Iran sama sekali tidak realistis untuk dipenuhi. Penilaian tersebut disampaikan Esper saat menanggapi dinamika diplomasi terbaru yang makin membuntu.
"Merek telah mengajukan tuntutan kepada Amerika Serikat, yang sejujurnya, konyol dan harus ditolak mentah-mentah," kata Esper, yang menjabat sebagai menteri pertahanan selama masa jabatan pertama Presiden Donald Trump, kepada co-anchor "This Week" ABC News, Jonathan Karl.
"Tuntutan seperti penarikan seluruh pasukan AS dari kawasan tersebut, penggantian biaya perang, fakta bahwa kita akan mengakhiri blokade kita, kita akan mengakhiri sanksi. Jadi ini sudah melampaui batas."
Persyaratan ketat tersebut mencakup pembukaan jalur pelayaran komersial ke volume normal sebelum terjadinya konflik bersenjata. Esper memandang poin-poin penekanan tersebut mencerminkan tingginya rasa percaya diri para pemimpin Iran atas kontrol wilayah perairan strategis itu.
"Ini menunjukkan bahwa mereka percaya bahwa mereka berada di atas angin, mereka percaya bahwa mereka menang, dan mereka memang sudah demikian. Jadi itulah yang sedang kita hadapi saat ini," kata Esper.
Strategi penekanan Tehran juga didukung oleh pergerakan kelompok-kelompok sekutu mereka di kawasan Timur Tengah. Esper menyoroti bagaimana Iran memanfaatkan pengaruh regionalnya untuk memperkuat posisi diplomasi di meja perundingan.
"Tuntutan yang baru saja mereka ajukan tadi malam menunjukkan bahwa mereka semakin berani, bahwa mereka merasa percaya diri dengan posisi mereka di dunia, dan pada saat yang sama mereka memamerkan kekuatan mereka dengan menggunakan perpanjangan tangan mereka," ujar Esper.
Di sisi lain, militer Amerika Serikat tengah berpacu dengan waktu untuk mengatasi keterbatasan persediaan amunisi strategis mereka. Esper mengonfirmasi bahwa kendala produksi dalam negeri menghambat akselerasi pasokan senjata untuk jangka pendek.
Baca Juga: Kilang Minyak Aramco Diserang Houthi, Asap Tebal Membumbung di Arab Saudi
"Pemerintah sedang berusaha keras dalam berbagai cara," kata Esper.
"Tetapi ketika Anda berbicara tentang membutuhkan waktu dua tahun untuk membuat rudal Patriot, apa pun yang kita lakukan sekarang tidak akan membantu dalam jangka pendek, namun bagaimanapun juga tetap perlu dilakukan karena alasan strategis."
Kelangkaan pencegat rudal balistik menjadi salah satu faktor utama yang membatasi opsi serangan militer Washington saat ini. Pejabat internal mengonfirmasi bahwa cadangan senjata pertahanan udara berada pada level yang sangat mengkhawatirkan.
Presiden Donald Trump mengakui adanya dinamika pasokan amunisi yang menipis untuk jenis-jenis tertentu di gudang persenjataan. Meski demikian, Trump menegaskan bahwa persediaan amunisi jenis lain masih berada dalam kondisi yang sangat aman.
"Kita membutuhkan lebih banyak sepanjang waktu."
"Tetapi kami memiliki jenis amunisi tertentu yang sangat kuat [yang] pasokannya tidak terbatas, praktis tidak terbatas," kata sang presiden.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- 7 Lukisan Pembawa Hoki Menurut Feng Shui untuk Dipajang di Ruang Tamu
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- 12 Sepeda Gunung United Detroit Lengkap dengan Harga dan Spesifikasinya
- 5 Rekomendasi Rice Cooker Digital, Nasi Tetap Pulen hingga 48 Jam
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Eks Menhan Mark Esper: Tawaran Damai Iran Konyol, Merasa Lagi di Atas Angin
-
Selat Hormuz Siap Dibuka Jika AS Mau Bayar Kompensasi ke Iran, Berapa Nominalnya?
-
PLTA Garung Pasok Energi Bersih ke Sistem Jawa-Bali, Aliri Listrik 30 Desa
-
Tak Risih Dijuluki Gubernur Persija, Pramono Optimis Juara Liga 1 Jadi Kado 500 Tahun Jakarta
-
5 Film Terbaru Agustus 2026, Ada Dear You Hingga The Tao Exorcist!
-
Misteri Sisa Kuota Internet: Mengapa Bisa Hangus dan Siapa yang Paling Diuntungkan?
-
Hillary Clinton Kritik Dekorasi Gedung Putih Era Donald Trump Mirip Istana Saddam Hussein
-
Kinerja SDM Danone Indonesia Lampaui Benchmark Global
-
Keluarga Sutrimo Diancam Usai Lapor Polisi? LPSK Segera ke Banyumas Siap Beri Perlindungan Darurat
-
Prabowo Minta Pangkas Anak Cucu Pertamina, PLN, dan BUMN Lain