News / Nasional
Selasa, 11 Agustus 2026 | 12:39 WIB
Warga mencari lowongan pekerjaan di acara Jakarta Job Fair di Mal Thamrin City, Jakarta. [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Guru Besar FEB UGM Agus Sartono menyoroti tingginya pengangguran lulusan muda Indonesia pada Selasa, 11 Agustus 2026.
  • Data BPS Mei 2026 menunjukkan pengangguran usia 15-24 tahun naik 1,01 persen menjadi 17,37 persen.
  • Krisis ini memicu penurunan daya beli serta lonjakan pinjaman online legal hingga Rp105,14 triliun per Juni 2026.

Dampak domino kemelut ini berujung pada penurunan daya beli dan ketahanan ekonomi masyarakat. Ketidakmampuan menabung mendorong masyarakat usia produktif masuk ke dalam jebakan utang konsumtif melalui platform pembiayaan digital.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Juni 2026 mencatat outstanding pinjaman online legal melonjak 25,88 persen secara tahunan hingga menyentuh angka fantastis Rp105,14 triliun atau meningkat 25,88 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini mencerminkan betapa rentannya pembentukan modal masyarakat saat ini.

Ilustrasi lowongan kerja. [Ist]

"Ini menjadi peringatan serius betapa bahayanya jika konsumsi dibiayai dengan utang. Rendahnya kemampuan pembentukan kapital melalui tabungan dan melonjaknya kredit konsumtif melalui pinjol menjadi ancaman jangka panjang bagi perekonomian nasional, terlebih saat penduduk usia produktif bergeser menjadi lansia," kata dia.

Guna menghentikan krisis ini, pembenahan mendasar harus segera dilakukan dari hulu ke hilir. Langkah awal, kata Agus, dapat dimulai dengan memanfaatkan momentum putusan Mahkamah Konstitusi terkait anggaran fungsi pendidikan.

Hal itu digunakan untuk mengevaluasi arah kebijakan nasional, mendorong percepatan industrialisasi, serta memperkuat mutu riset perguruan tinggi.

Selain itu, skema pendidikan vokasi dan pembangunan politeknik di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) perlu dimaksimalkan guna memangkas jarak antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri.

Kemitraan ini mendesak diterapkan agar lulusan sekolah tidak sekadar mengantongi ijazah. Namun juga memiliki keterampilan yang relevan dengan perkembangan zaman.

"Kewaspadaan diperlukan di tengah ancaman gelombang PHK akibat otomatisasi dan disrupsi teknologi," tandasnya.

Baca Juga: Transformasi Industri Butuh SDM Siap Pakai, Sharp Perluas Program Sharp Class

Load More