- Hashim Djojohadikusumo mengukuhkan dua puluh organisasi kemasyarakatan baru di Jakarta pada Jumat, 7 Agustus 2026.
- Gugun El Guyanie menyatakan pembentukan ormas tersebut berbahaya bagi kebebasan sipil dan berpotensi memecah belah warga.
- Kehadiran ormas bentukan penguasa dikhawatirkan menggerus demokrasi serta menghilangkan fungsi kontrol sosial masyarakat sipil.
Suara.com - Ketua Program Studi Hukum Tata Negara Fakultas Syari'ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Gugun El Guyanie, menyoroti pengukuhan 20 organisasi kemasyarakatan (ormas) baru oleh Hashim Djojohadikusumo.
Ia mempertanyakan keberadaan ormas yang dinilai lahir dari kepentingan penguasa dan oligarki.
Diketahui Hashim selaku Ketua Dewan Pembina Forum Masyarakat Indonesia Emas (FORMAS) melaksanakan pengukuhan 20 ormas baru pada Jumat (7/8/2026) lalu di Jakarta.
"Dua puluh ormas baru yang dikukuhkan oleh Hashim Djojohadikusumo sangat berbahaya bagi kebebasan sipil," kata Gugun dalam keterangannya, Rabu (12/8/2026).
Anggota Constitutional and Administrative Law Society (CALS) itu tak menampik bahwa kebebasan berserikat memang merupakan hak warga negara yang dijamin konstitusi dan menjadi bagian dari prinsip hak asasi manusia. Namun, ia menilai persoalannya terletak pada bagaimana sebuah ormas dibentuk dan untuk kepentingan siapa organisasi tersebut bekerja.
Gugun menjelaskan, secara historis dan sosiologis, ormas di Indonesia tumbuh dari masyarakat sipil yang memiliki kesamaan ideologi, politik, agama, maupun profesi.
Organisasi tersebut semestinya menjadi instrumen perjuangan warga untuk menyampaikan aspirasi. Bukan organisasi yang dibentuk untuk menopang kepentingan rezim.
"Jadi ormas bukan lahir oleh rezim penguasa, bukan didanai oleh oligarki untuk mengamankan kepentingan bisnis. Ormas punya saham besar dalam tegaknya NKRI, membawa aspirasi dan inspirasi rakyat," tegasnya.
Perubahan karakter tersebut berisiko menggeser fungsi ormas dari kekuatan masyarakat sipil menjadi instrumen kekuasaan. Kondisi itu, kata dia, dapat menggerus peran ormas sebagai salah satu kekuatan yang selama ini membawa aspirasi masyarakat dan turut menjaga kehidupan demokrasi.
Baca Juga: Mensos Nonaktifkan 2 Pejabat Terkait Dugaan Maladministrasi Pengadaan Sekolah Rakyat
Tak lupa, ia mengingatkan adanya potensi konflik horizontal apabila organisasi yang dibentuk untuk kepentingan penguasa berhadapan dengan kelompok masyarakat sipil yang tetap kritis terhadap pemerintah.
"Ini bisa jadi alat propaganda dan alat politik pemecah belah sesama warga masyarakat," ujarnya.
Menurut Gugun, pola tersebut memiliki kemiripan dengan praktik politik kekuasaan pada masa lalu. Tepatnya ketika organisasi masyarakat yang memiliki pengaruh besar berusaha dikendalikan agar tidak menjadi kekuatan penekan terhadap pemerintah.
Ia kemudian membandingkannya dengan kondisi pada era Orde Baru ketika kekuatan masyarakat sipil ditekan untuk mempertahankan kekuasaan.
"Di era orde Baru, Soeharto membungkam ormas-ormas yang kuat dan berpengaruh untuk tidak melawan despotisme orba," ujarnya.
Kini pembentukan kelompok-kelompok baru yang dekat dengan kekuasaan justru berpotensi menciptakan wajah masyarakat sipil yang semu.
Alih-alih menjadi kontrol sosial, ia khawatir organisasi tersebut hanya digunakan untuk membangun citra pemerintah dan meredam kritik publik.
"Sekarang Prabowo membuat ormas jadi-jadian untuk menjadi tukang lap dan tukang lipstik. Ormas yang kehilangan ruh sipil, atau Civilization, jelas tugasnya memoles wajah buruk kinerja presiden, sekaligus bertugas nyebokin dan membersihkan kinerja presiden yang banyak ditentang rakyat," pungkasnya.
Berita Terkait
-
Misteri Status Jampidsus Febrie: Bukti Disebut Cukup, Tapi Terbentur Tembok Kekuasaan?
-
Hadiri Pelantikan Srikandi Jaga Desa, Hashim Djojohadikusumo Tekankan Pentingnya Peran Perempuan
-
Mensos Nonaktifkan 2 Pejabat Terkait Dugaan Maladministrasi Pengadaan Sekolah Rakyat
-
Final LCC Empat Pilar MPR RI Kalbar Diulang, Netizen Minta Poin Kontroversial Dianulir
-
Gus Ipul Pastikan Pengadaan Sepatu Sekolah Rakyat Transparan
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Jurnalis Ini Diciduk Polisi Gegara Laporan Rumor Transfer Pemain, Kok Bisa?
-
4 Shio Paling Rentan Selingkuh, Disebut Mudah Tergoda untuk Mendua
-
Desa Les: Kisah Nyoman Nadiana Mengenalkan Desa Pada Dunia
-
Hashim Kukuhkan 20 Ormas Baru, Gugun El: Bisa Jadi Alat Propaganda dan Alat Politik Pemecah Belah
-
Operasi Kilat 24 Jam: Polda Lampung Sapu Bersih 41 Bandit, 86 Titik Kejahatan Terbongkar
-
Warung Bu Sastro: Ketika Bisnis Tidak Cuma Soal Menghitung Untung
-
Gubernur Khofifah Pimpin Misi Dagang & Investasi Jatim-Kalbar: Catatkan Transaksi Rp 2,529 Triliun
-
KMP Putri Yasmin Terbakar di Perairan Sekotong, Tim Gabungan Evakuasi Penumpang
-
Persija Gelar Pesta Besar di JIS, Brisbane Roar Jadi Lawan Sebelum Super League Bergulir
-
7 Tentara AS Tewas Bentrok Berdarah di Kapal Perang USS Abraham Lincoln