News / Metropolitan
Kamis, 13 Agustus 2026 | 19:52 WIB
Ilustrasi pemotor yang melintas di jalan raya Rawa Buaya (Gemini AI)
Baca 10 detik
  • Pengendara motor nekat melawan arus di Jalan Outer Ring Road Jakarta Barat pada Kamis, 13 Agustus 2026.
  • Warga dan pelajar memilih melawan arus demi efisiensi waktu karena jalur resmi memakan waktu hingga 40 menit.
  • Warga meminta pemerintah menyediakan jalur alternatif untuk menghubungkan Rawa Buaya dan Duri Kosambi agar tidak melawan arah.

Suara.com - Para pengendara motor masih nekat melawan arus di Jalan Outer Ring Road, Rawa Buaya, Jakarta Barat. Meski terlihat berbahaya bagi diri sendiri dan pengendara lain, warga tetap nekat melawan arus dengan dalih efektivitas waktu.

Tidak hanya orang dewasa, sejumlah pelajar yang ingin mengarah ke Duri Kosambi dari arah Cengkareng juga melakukan aksi nekat ini.

Salah seorang warga, Andri, mengatakan mereka yang melawan arus karena menganggap akses jalan terlalu jauh jika harus mengikuti jalur resmi.

Andri menuturkan kawasan Duri Kosambi memiliki banyak sekolah. Sebagian pelajar, guru, maupun warga yang tinggal di wilayah Rawa Buaya memilih melawan arus lantaran menganggap lebih efisien.

“Rata-rata di sini (Duri Kosambi) ada masjid besar, ada sekolah juga. Kebetulan mungkin yang sekolah itu, entah siswanya atau gurunya, rata-rata pemukimannya dekat situ (Rawa Buaya), mereka mungkin kalau muter ke sana agak jauh,” kata Andri kepada wartawan, Kamis (13/8/2026).

Jika berkendara melewati jalur yang seharusnya, warga harus menempuh waktu sekitar 40 menit bila kondisi lalu lintas sedang padat.

“Kalau macet parah bisa sampai 40 menit. Karena muter ke sana kan ada lampu merah, terus ada perbaikan jalan juga,” jelasnya.

Sementara, lanjut Andri, apabila mengambil jalur yang berlawanan di sekitar lokasi, waktu tempuh disebut jauh lebih singkat. Perjalanan yang biasanya memakan waktu hingga puluhan menit dapat ditempuh kurang dari lima menit.

“Kalau di sini paling cuma berapa menit, enggak sampai lima menit di sini,” kata Andri.

Baca Juga: Mimpi Bebas Banjir! Akhirnya Pompa Rawa Buaya akan Dibangun Setelah Bertahun-tahun Diabaikan

Meski memahami adanya aturan lalu lintas yang harus dipatuhi, Andri berharap pemerintah dan pihak terkait dapat menyediakan jalur alternatif bagi masyarakat.

“Jalur alternatif sih sebenarnya. Kan mungkin banyak lahan kosong yang bisa dimanfaatin dan bisa menghubungkan Rawa Buaya dan Duri Kosambi, sehingga warga tidak perlu lagi lawan arah,” ujarnya.

Sementara itu, warga Rawa Buaya lainnya, Nur, menilai persoalan melawan arus perlu dikaji secara menyeluruh sebelum dilakukan penindakan.

Menurut Nur, masyarakat memang harus mematuhi aturan lalu lintas. Namun, kondisi akses jalan di sekitar lokasi juga perlu menjadi pertimbangan.

“Memang harus ada aturan, tapi kondisi aksesnya juga perlu diperhatikan. Kalau ada jalan alternatif yang mudah dan tidak memutar terlalu jauh, warga pasti lebih memilih lewat jalan yang benar,” ujar Nur.

Sebelumnya, sejumlah warga Rawa Buaya memprotes aksi konten kreator yang mencegat dan melarang pengendara melawan arus di Rawa Buaya.

Para konten kreator meminta agar pengendara memutar balik dan tidak melawan arus.

Warga yang keberatan memprotes lantaran menganggap akses alternatif atau jalan pintas yang dibutuhkan warga belum tersedia.

Load More