- Forum Intelektual Antardisiplin mengkritik pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto di Jakarta pada Jumat, 14 Agustus 2026.
- Usman Hamid menilai pidato Prabowo sarat populisme simbolik dan mengabaikan persoalan mendasar seperti kelaparan serta ekonomi masyarakat.
- Bivitri Susanti menyatakan bahwa pidato kepala negara tersebut hanyalah klaim kosong untuk membangun legitimasi pemerintahan yang rapuh.
Suara.com - Sejumlah aktivis, pakar, hingga akademiai Forum Intelektual Antardisiplin kompak mengkritik pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto di hadapan parlemen pada Jumat, (14/8/2026).
Mereka menganggap segala hal yang dilontarkan Prabowo tak menjawan persoalan mendasar. Apalagi, kesempatan itu diduga hanya sebagai upaya pemolesan citra pemerintah belaka.
Direktur Amnesty International Indonesia, Usman Hamid menilai pidato tersebut hanya sebagai upaya membangun sentimen populisme simbolik.
Karena menurut Usman gaya pidato yang menggelegar ala Prabowo hanya menjadi pepesan kosong jika tak dibarengi dengan kebijakan di lapangan.
"Karena ini sekadar untuk mencari simpati," kata Usman dalam diskusi FIAD di Jakarta pada Jumat, (14/8/2026).
Ia menyayangkan saat Prabowo mengucapkan bahwa pemerintah bisa saja membeli pesawat yang canggih, namun untuk apa jika masih banyak rakyat yang kelaparan.
Menurut Usman, kedua hal itu memiliki urgensi yang serupa sehingga tidak dapat dikotomikan dengan pola pikir yang sempit.
"Seolah-olah kita punya pilihan hanya antara pesawat yang canggih atau kelaparan," katanya.
Vokalis Usman and The Blackstones ini juga menyenggol klaim Prabowo mengenai pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,61 persen.
Baca Juga: Dasco: Dwikewarganegaraan Diaspora Akan Diberlakukan Terbatas dan Sangat Selektif
Padahal data di lapangan menunjukan kontras ketika penerapan efisiensi anggaran justru mempersulit perekonomian masyarakat.
"Keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari naiknya angka pertumbuhan, tetapi juga dari sejauh mana negara mampu memastikan bahwa setiap orang dapat menikmati hak-haknya secara setara dan bermartabat," tambahnya.
Karena pola pikir simplistik itu, Usman menganggap bahwa Prabowo memiliki keterbatasan kemampuan untuk berimajinasi.
Padahal, menurutnya, mengelola negara harus mampu memliki inovasi dan kreatifitas yang mampu menyesuaikan keadaan.
Kritik yang tak kalah tajam juga dilontarkan oleh Dosen Sekolah Tinggi Hukum Jentera, Bivitri Susanti.
Bibip–panggilan Bivitri–bahkan menyebut pidato kenegaraan kepala negara itu hanya bentuk klaim kosong belaka jika dilihat dari apa yang dihasilkan pemerintah belakangan ini.
Menurut Bibip, klaim-klaim kosong itu justri terus digaungkan karena adanya legitimasi yang rapuh dari sebuah pemerintahan.
Ia menilai Prabowo ingin mengambil jalan pintas untuk memenangkan kembali kepercayaan masyarakat dengan hanya melalui retorika belaka.
"Tapi itu cara memang, bagi seorang pemimpin populis yang ingin langsung mendapatkan kepercayaan dengan cepat hanya dengan pidato," kata Bibip. (Reporter: Alif Bintang)
Berita Terkait
-
Prabowo Ungkap RAPBN 2027: Belanja Negara Tembus Rp4.097 Triliun
-
Dasco: Dwikewarganegaraan Diaspora Akan Diberlakukan Terbatas dan Sangat Selektif
-
Prabowo Minta Anak 1 SD Belajar Bahasa Asing, DPR Ingatkan Tantangan Guru dan Fasilitas
-
Prabowo: Prabowonomics Sebenarnya Marhaenisme, PDIP Sulit Tak Mendukung
-
Prabowo Ingin Bahasa Asing Sejak SD, DPR: Jangan Semua Wajib, Biarkan Siswa Memilih
Terpopuler
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
- Contoh Teks Sambutan Ketua RT Malam Tirakatan 17 Agustus yang Singkat, dan Penuh Makna
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- 4 Rice Cooker Mini Murah yang Cepat Matang dan Hemat Listrik Sesuai Review Pembeli
Pilihan
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
Terkini
-
Kabut Asap Karhutla: Apa yang Terjadi pada Tubuh Saat Menghirupnya?
-
3 Rekomendasi Face Oil Ampuh Pudarkan Flek Hitam, Ada yang Cuma Rp20 Ribuan
-
Dari Nasi Goreng Kecombrang Hingga Americano Peach, Kuliner Berkelas Hadir di Beanfinity
-
Ekonom CORE Apresiasi Pemerintah Berkomitmen Jaga Defisit di bawah 3 Persen
-
FIAD Kritik Keras Pidato Kenegaraan Prabowo, Dinilai Hanya Simbol Populisme
-
Demo Tolak LGBTQ di Kota Bogor
-
5 Rekomendasi Kombinasi Ombre Lipstik Hanasui yang Tahan Lama dan Bikin Bibir Segar
-
Demo Tolak LGBTQ di Bogor
-
Sembunyikan Emas Rp63 Miliar di Anus dan Kemaluan, 7 WNA China Ditangkap di Bandara Soetta
-
Ahok Buka Suara Soal Kericuhan di Belitung Timur: Harga Beli Timah Harus Sesuai Pasar