- Bowo dan Nila di Bekasi serta Tangerang enggan merayakan HUT RI karena kecewa terhadap pemerintah dan kondisi ekonomi.
- Sosiolog Okky Madasari menyatakan keengganan warga merayakan kemerdekaan adalah bentuk ekspresi kekecewaan atas kesulitan hidup yang mereka alami.
- Aksi boikot perayaan kemerdekaan dan kritik masyarakat dinilai Okky Madasari sebagai wujud kesadaran nasionalisme yang sah.
Okky menjelaskan, kemerdekaan bukan sekadar status Indonesia sebagai negara yang telah bebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga berkaitan dengan kemampuan warga untuk memenuhi kebutuhan hidup, memiliki kedaulatan ekonomi, dan merasa aman ketika menyampaikan pendapat.
"Berarti sekarang di setiap rumah, kita tidak lagi punya rasa kemerdekaan. Kita sudah tidak lagi punya kedaulatan ekonomi. Kita sedang kesulitan untuk memenuhi kebutuhan. Kita sedang takut untuk bersuara. Itu kan makna dari kata kemerdekaan," tuturnya.
Karena itu, menurut Okky, berkurangnya antusiasme warga dalam menyambut 17 Agustus merupakan cerminan keresahan yang lebih besar.
Ia bahkan menyinggung munculnya warga yang menolak ikut iuran kemerdekaan, tidak mengikuti lomba, maupun berbagai agenda perayaan di lingkungan tempat tinggal.
"Ada yang tidak mau iuran kemerdekaan. Ada yang tidak mau ikut lomba, tidak mau ikut rencana. Karena itu memang ekspresi kekecewaan, keresahan, cerminan bahwa kemerdekaan itu sedang tidak hadir di rumah masing-masing warga sana," kata Okky.
Tak Mau Ikut Lomba Bukan Berarti Tak Nasionalis
Okky juga menilai kritik yang terus bermunculan di media sosial maupun sikap sebagian warga yang memilih tidak mengikuti perayaan kemerdekaan tidak serta-merta menunjukkan lunturnya nasionalisme.
Menurut dia, persoalannya justru terletak pada pemaknaan nasionalisme yang selama ini terlalu sering dikaitkan dengan kepatuhan terhadap pemerintah.
Okky mengatakan masyarakat selama ini kerap dibentuk dalam pemahaman bahwa nasionalisme berarti mengikuti rencana pembangunan pemerintah. Akibatnya, kritik terhadap kebijakan negara justru dapat dicap sebagai tindakan yang tidak nasionalis.
"Kalau kita mengkritik, kita dianggap antek asing. Kalau kita mempertanyakan kebijakan, kita dianggap londo ireng. Padahal nasionalisme punya makna yang lebih luas daripada itu," katanya.
Baca Juga: Momen Haru Presiden Prabowo Berkaca-kaca Saat Lagu 'Bagimu Negeri' Menggema di Istana Merdeka
Ia menilai suara kritis dari akademisi, mahasiswa, hingga masyarakat yang memilih memboikot sebagian agenda perayaan kemerdekaan juga dapat menjadi bentuk nasionalisme.
"Bahkan ketika ada yang memboikot acara kemerdekaan, itu adalah kesadaran nasionalisme," tuturnya.
Menurut Okky, kemerdekaan semestinya tidak berhenti pada seremoni setiap 17 Agustus. Kemerdekaan harus terasa dalam kehidupan sehari-hari melalui terpenuhinya kebutuhan dasar, kebebasan berekspresi, dan adanya ruang bagi warga untuk mengkritik pemerintah.
Karena itu, di tengah munculnya kekecewaan dan keengganan sebagian warga mengikuti perayaan 17 Agustus, Okky menilai sudah waktunya makna nasionalisme dan kemerdekaan dikembalikan kepada masyarakat sipil.
Tag
Berita Terkait
-
Momen Haru Presiden Prabowo Berkaca-kaca Saat Lagu 'Bagimu Negeri' Menggema di Istana Merdeka
-
Sudah Seperti Bestie, Istana Ungkap Rahasia di Balik Posisi Duduk Jokowi-Prabowo-Gibran
-
Hasto Ungkap Alasan Megawati Pilih Upacara di Sekolah Partai Ketimbang Istana
-
SBY Minta Maaf Absen Upacara HUT ke-81 RI di Istana, Ungkap Alasan Jalani Check-Up di Mayo Clinic AS
-
SBY Minta Maaf Tak Ikut Upacara HUT Kemerdekaan di Istana: Saya Pulang September
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
IHSG Bisa Kembali Terbang Besok, Saham-saham Ini Bisa Dilirik
-
Unjuk Rasa hingga Saling Dorong,Mahasiswa Papua Sebut Kolonialisme Masih Tumbuh
-
Sultan Syarif Kasim II 'sang Donatur' Sumbang Rp1 Triliun untuk Kemerdekaan Indonesia
-
Harga Minyak Stabil, Pemerintah Janji Neraca Perdagangan Tak Tekor pada Juli
-
Program MBG di Sumsel Sudah Jangkau 2 Juta Penerima, Lalu Mengapa 10 Dapur Masih Disuspensi?
-
Di Balik Kemeriahan Lomba 17-an, Napas Ekonomi Akar Rumput yang Menjaga Dapur Tetap Ngebul
-
BBM Mulai Normal, 47 SPBU di Flores Kembali Beroperasi Setelah Gempa
-
Kecelakaan Tunggal Mobil Suzuki Carry Terjun ke Jurang di Ciamis, Ini Kronologi Lengkapnya
-
Belanja Pakai BRImo di Bazaar Pesona Merdeka, Pengunjung Bisa Bawa Pulang Hadiah!
-
Usai Upacara HUT RI ke-81, Prabowo Panggil Semua Komandan: Menghadap Saya, Kerjakan