News / Nasional
Senin, 17 Agustus 2026 | 18:41 WIB
Ilustrasi Warga Tak Pasang Bendera hingga Ogah Ikut Lomba di Sepinya Euforia Kemerdekaan HUT RI ke-81. [AI]
Baca 10 detik
  • Bowo dan Nila di Bekasi serta Tangerang enggan merayakan HUT RI karena kecewa terhadap pemerintah dan kondisi ekonomi.
  • Sosiolog Okky Madasari menyatakan keengganan warga merayakan kemerdekaan adalah bentuk ekspresi kekecewaan atas kesulitan hidup yang mereka alami.
  • Aksi boikot perayaan kemerdekaan dan kritik masyarakat dinilai Okky Madasari sebagai wujud kesadaran nasionalisme yang sah.

Okky menjelaskan, kemerdekaan bukan sekadar status Indonesia sebagai negara yang telah bebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga berkaitan dengan kemampuan warga untuk memenuhi kebutuhan hidup, memiliki kedaulatan ekonomi, dan merasa aman ketika menyampaikan pendapat.

"Berarti sekarang di setiap rumah, kita tidak lagi punya rasa kemerdekaan. Kita sudah tidak lagi punya kedaulatan ekonomi. Kita sedang kesulitan untuk memenuhi kebutuhan. Kita sedang takut untuk bersuara. Itu kan makna dari kata kemerdekaan," tuturnya.

Karena itu, menurut Okky, berkurangnya antusiasme warga dalam menyambut 17 Agustus merupakan cerminan keresahan yang lebih besar.

Ia bahkan menyinggung munculnya warga yang menolak ikut iuran kemerdekaan, tidak mengikuti lomba, maupun berbagai agenda perayaan di lingkungan tempat tinggal.

"Ada yang tidak mau iuran kemerdekaan. Ada yang tidak mau ikut lomba, tidak mau ikut rencana. Karena itu memang ekspresi kekecewaan, keresahan, cerminan bahwa kemerdekaan itu sedang tidak hadir di rumah masing-masing warga sana," kata Okky.

Tak Mau Ikut Lomba Bukan Berarti Tak Nasionalis

Okky juga menilai kritik yang terus bermunculan di media sosial maupun sikap sebagian warga yang memilih tidak mengikuti perayaan kemerdekaan tidak serta-merta menunjukkan lunturnya nasionalisme.

Menurut dia, persoalannya justru terletak pada pemaknaan nasionalisme yang selama ini terlalu sering dikaitkan dengan kepatuhan terhadap pemerintah.

Okky mengatakan masyarakat selama ini kerap dibentuk dalam pemahaman bahwa nasionalisme berarti mengikuti rencana pembangunan pemerintah. Akibatnya, kritik terhadap kebijakan negara justru dapat dicap sebagai tindakan yang tidak nasionalis.

"Kalau kita mengkritik, kita dianggap antek asing. Kalau kita mempertanyakan kebijakan, kita dianggap londo ireng. Padahal nasionalisme punya makna yang lebih luas daripada itu," katanya.

Baca Juga: Momen Haru Presiden Prabowo Berkaca-kaca Saat Lagu 'Bagimu Negeri' Menggema di Istana Merdeka

Ia menilai suara kritis dari akademisi, mahasiswa, hingga masyarakat yang memilih memboikot sebagian agenda perayaan kemerdekaan juga dapat menjadi bentuk nasionalisme.

"Bahkan ketika ada yang memboikot acara kemerdekaan, itu adalah kesadaran nasionalisme," tuturnya.

Menurut Okky, kemerdekaan semestinya tidak berhenti pada seremoni setiap 17 Agustus. Kemerdekaan harus terasa dalam kehidupan sehari-hari melalui terpenuhinya kebutuhan dasar, kebebasan berekspresi, dan adanya ruang bagi warga untuk mengkritik pemerintah.

Karena itu, di tengah munculnya kekecewaan dan keengganan sebagian warga mengikuti perayaan 17 Agustus, Okky menilai sudah waktunya makna nasionalisme dan kemerdekaan dikembalikan kepada masyarakat sipil.

Load More