-
Larangan impor senjata api di Thailand memaksa pedagang senjata beralih membuka usaha roti.
-
Kebijakan pembekuan izin senjata dinilai pedagang tidak efektif dan mengancam industri bernilai miliaran baht.
-
Thailand memiliki lebih dari 10 juta senjata api dengan 4 juta di antaranya tidak terdaftar.
Suara.com - Toko senjata bersejarah di kawasan tua Bangkok kini terpaksa berganti fungsi menjadi usaha kuliner toko roti demi menyambung hidup. Kebijakan pemerintah Thailand yang membekukan izin impor senjata api sejak penembakan massal di pusat perbelanjaan Bangkok tahun 2023 menjadi pemicu utama kebangkrutan sektor ini.
Pemilik Suchart and Friends Gun, Warintorn Boonyachai, memilih memajang roti mentega padat di etalase yang dulunya penuh dengan jajaran pistol dan senapan. Langkah ekstrem memproduksi roti ini diambil sejak lima bulan lalu semata-mata demi menutup gaji para pegawainya yang terancam PHK.
Meskipun harus beralih profesi, Warintorn tetap berharap penuh agar pemerintah segera mencabut pembatasan impor senjata api tersebut. Ia merasa beban operasional dan tenaga yang dikeluarkan untuk mengelola usaha roti jauh lebih berat dibandingkan menjual senjata.
"Saya masih memiliki harapan, karena seperti yang saya katakan, menjual senjata tidak sejelas menjual roti," ujar Warintorn Boonyachai dikutip dari Bangkok Post, Selasa (18/8/2026).
Namun, asa para pedagang semakin redup setelah insiden penembakan massal terbaru yang melibatkan remaja 14 tahun kembali mengguncang luar kota Bangkok bulan ini. Pelaku menewaskan sedikitnya tujuh orang di rumah serta sekolahnya sebelum akhirnya mengakhiri hidupnya sendiri.
Bagaimana Dampak Kebijakan Baru Pemerintah Terhadap Bisnis Senjata?
Menanggapi tragedi berdarah tersebut, Perdana Menteri Anutin Charnvirakul langsung mengusulkan rancangan undang-undang baru untuk menghentikan penerbitan izin pembelian dan kepemilikan senjata. Kepolisian setempat juga diperintahkan membekukan proses perpanjangan izin, sehingga menekan ruang gerak penjual maupun pembeli legal.
Tekanan regulasi bertubi-tubi ini membuat aktivitas perdagangan di distrik senjata legendaris Bangkok lumpuh total. Sebuah toko yang telah beroperasi hampir tujuh dekade kini hanya menyisakan dua unit senjata tanpa kepastian kapan bisa dijual.
Presiden Asosiasi Pedagang Senjata Api Thailand, Thititorn Bupparamanee, menyuarakan kritik keras atas langkah drastis yang diambil pemerintah tersebut. Menurutnya, pemblokiran jalur resmi justru berisiko memicu lonjakan transaksi di pasar gelap.
Baca Juga: Novel Witch Bakery: Toko Roti Pengantar Jiwa, Kisah Haru Para Arwah Hewan
"Mereka tidak menyelesaikan masalah di tempat yang benar, karena jika mereka melakukannya, kejahatan akan berkurang," tegas Thititorn Bupparamanee.
Thititorn menambahkan bahwa penghentian izin bagi warga sipil yang ingin membeli senjata secara sah sama sekali tidak menyentuh akar masalah kriminalitas. Kebijakan ini juga mengancam kelangsungan industri senjata api nasional yang ditaksir bernilai sekitar 2 miliar baht.
Mengapa Tingkat Kepemilikan Senjata di Thailand Sangat Tinggi?
Thailand mencatatkan rekor sebagai negara dengan tingkat kepemilikan senjata sipil tertinggi kedua di Asia setelah Pakistan. Lembaga riset Small Arms Survey pada 2017 memperkirakan terdapat sekitar 10,3 juta pucuk senjata api yang beredar di tengah masyarakat.
Dari total belasan juta senjata tersebut, hanya sekitar 6 juta unit yang terdaftar secara resmi di pemerintah. Sisanya, yakni sekitar 4 juta pucuk senjata, berstatus ilegal atau tidak terdaftar sama sekali.
Maraknya kasus penembakan yang melibatkan fasilitas umum, sekolah, hingga tempat penitipan anak mendorong desakan pengawasan senjata yang lebih ketat dari warga. Seorang ibu dari siswa yang selamat dalam penembakan 7 Agustus lalu mendukung hak kepemilikan senjata namun menuntut pengetatan aturan pembawaan di ruang publik.
"Pasti harus ada pemeriksaan di mana-mana terhadap senjata, karena pisau juga sama menakutkannya," kata ibu korban tersebut.
Kombinasi antara tingginya angka kepemilikan senjata ilegal dan rentetan tragedi penembakan massal kini menempatkan pemerintah Thailand pada posisi dilematis. Di satu sisi pemerintah berupaya keras menekan angka kejahatan, namun di sisi lain kebijakan tersebut memukul rata para pelaku usaha resmi hingga ke ambang kebangkrutan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
-
Bundaran HI Dijaga Ketat, Solidaritas Warga Mengalir: Ini Titik Logistik untuk Pendemo
-
Jelang Demo Mahasiswa, Bundaran HI Dijaga Ketat: Kendaraan Taktis Siaga, Lalin Masih Normal
-
Aksi Mahasiswa Dibatasi hingga UOB Plaza, Polda Metro Siagakan 9.242 Personel
-
Jelang Demo Mahasiswa Hari ini, 21 Orang Bawa Bom Molotov Ditangkap Polisi
Terkini
-
Bisnis Mandek, Toko Senjata Kini Jualan Roti Demi Bertahan Hidup
-
HP Baru Dicas Berapa Lama? Ini Durasi Ideal dan Cara Merawat Baterainya
-
Upacara Kemerdekaan di Tapal Batas, Serasan Jadi Pintu Ekonomi Indonesia
-
Kulkas Sharp 2 Pintu Berapa Harganya? Ini 3 Pilihan yang Dingin dan Hemat Listrik Sesuai Review
-
Tas Chanel Iriana Jokowi di HUT RI 81 Sangat Langka, Harganya Bikin Tepok Jidat
-
Tim Hukum Sebut Proses Geledah dan Sita Rumah Febrie Adriansyah di Sentul Tanpa Dasar Hukum Sah
-
Bukan Sekadar Simbol Politik! Gerindra Ungkap Makna Prabowo Duduk Diapit Jokowi dan Gibran
-
Ditjenpas Jabar Ajukan Amnesti untuk 1.454 Narapidana, 1.100 Masuk Program Pendidikan Kebangsaan
-
Ajang AHDC 2026 Perkuat Proses Pembinaan Pebalap Muda Lewat Kompetisi Berjenjang
-
Yaqut Tegaskan Pembagian Kuota 50 Persen untuk Haji Khusus Demi Keselamatan Jemaah