-
Iran mengubah doktrin militer dari aksi balasan menjadi serangan ofensif guna memecah kebuntuan diplomasi.
-
Penguasaan Selat Hormuz dimanfaatkan Teheran untuk menekan harga energi dan memaksa Amerika Serikat bernegosiasi.
-
Pergeseran strategi ini berisiko mempercepat eskalasi konflik serta memperburuk stabilitas keamanan regional Timur Tengah.
Pemerintah Amerika Serikat menjadikan pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai prioritas utama demi menjaga stabilitas harga energi domestik.
Wakil Presiden AS JD Vance menegaskan bahwa pencapaian nomor satu adalah menjaga harga energi tetap rendah bagi warga Amerika, sementara mencegah Teheran memiliki senjata nuklir berada di urutan kedua.
Meskipun kesepakatan damai sebelumnya runtuh akibat perselisihan pengelolaan selat, pejabat Iran tetap mengklaim hasil politik tersebut sebagai sebuah kemenangan.
Kemenangan itu ditegaskan oleh juru bicara sekaligus negosiasi senior Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, dalam pidatonya pekan lalu.
“Saya dapat menyatakan dengan keyakinan bahwa kita telah memenangkan perang ini dalam arti sebenarnya, baik secara militer maupun politik,” kata Ghalibaf sambil menyebut kesepakatan itu sebagai sumber kebanggaan dan kemenangan.
Serangan Iran terhadap pangkalan udara AS di Yordania pada akhir Juli lalu menjadi bukti nyata penerapan doktrin ofensif pra-efektif tersebut.
Mantan jenderal Garda Revolusi, Hossein Kanani-Moghadam, menjelaskan bahwa taktik ofensif baru Iran tidak hanya terbatas pada serangan fisik konvensional.
"Operasi semacam itu dapat mencakup kombinasi perang siber, perang psikologis, operasi intelijen, dan perang ekonomi," ungkap Kanani-Moghadam.
Namun, penerapan doktrin agresif ini membawa risiko kehancuran yang sangat tinggi bagi seluruh wilayah kawasan.
Baca Juga: Intelijen Israel Shock! Stok Rudal Balistik Iran Kembali Melimpah, Padahal Baru Perang Lawan AS
Ia menggambarkan situasi ini sebagai jebakan saling tangkal yang sangat rentan memicu pertempuran yang tidak disengaja.
gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari yang memicu perang terbuka selama enam bulan. Awalnya Iran bertindak secara defensif melalui aksi balasan, namun akibat pengetatan sanksi ekonomi serta blokade maritim di Selat Hormuz, Teheran memutus opsi bertahan dan beralih ke strategi serangan aktif.
Berita Terkait
Terpopuler
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
- 3 Sepatu Jalan untuk Lansia Paling Nyaman, Hands Free Tak Perlu Membungkuk
- Spanduk Polwan saat Adang Aksi BEMI UI Kena Rujak Netizen: Bu Polwan Salah Bawa Spanduk?
- Kulkas Sharp 2 Pintu Berapa Harganya? Ini 3 Pilihan yang Dingin dan Hemat Listrik Sesuai Review
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Kronologi Begal Kertapati: 2 Pelaku Bawa Parang, Kejar Korban hingga Berujung Maut
-
Sering Dianggap Cuma Kelelahan, Katup Jantung Bocor Bisa Ditangani Tanpa Operasi Terbuka
-
Korupsi KUR BSI Rp9,5 Miliar di OKI, Uang Pengganti 3 Terdakwa Tembus Rp9 Miliar
-
Buaya Muara 3 Meter Mendadak Muncul di Pantai Pasir Putih Cihara
-
Tenis Meja Indonesia Bidik 8 Besar di Asian Games 2026
-
Gempa NTT, PDIP Kirim Bantuan Khusus untuk Ibu Hamil dan Anak
-
Diisukan Ada OTT KPK, Begini Kondisi Kompleks Pemkab Bogor Malam Ini
-
Yasonna Laoly Dukung Kewarganegaraan Ganda Terbatas Usulan Prabowo: Demi Kepentingan Nasional
-
Purbaya: Pembatasan Subsidi BBM Hemat Anggaran 10 Persen
-
Sudah Beroperasi Tanpa Tarif, Tol Betung-Tempino-Jambi Seksi Bayung Lencir-Pijoan Segera Bertarif