- Polusi udara ibu kota memerlukan pengendalian emisi industri di kawasan penyangga.
- Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyoroti emisi PLTU Suralaya di Banten yang berkontribusi memperburuk kualitas udara.
- Pemprov DKI Jakarta menargetkan penggunaan lebih dari 10.000 bus listrik hingga tahun 2030 untuk menekan emisi transportasi.
Suara.com - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menilai persoalan polusi udara di Jakarta tidak akan tuntas hanya dengan membenahi sektor transportasi. Emisi dari industri dan PLTU berbahan bakar batu bara di kawasan penyangga Jakarta juga harus dikendalikan.
Pramono menyoroti keberadaan industri yang masih menggunakan batu bara di wilayah aglomerasi Jakarta. Salah satunya PLTU Suralaya di Banten yang disebut turut berkontribusi terhadap persoalan kualitas udara Jakarta.
Hal itu disampaikan Pramono seusai menghadiri Indonesia International Transport Summit 2026 di The Tribrata Hotel and Convention Center, Jakarta Selatan, Kamis (20/8/2026).
Menurut Pramono, penanganan polusi udara Jakarta harus dilakukan secara lintas wilayah karena sumber emisi tidak hanya berasal dari dalam Ibu Kota.
“Persoalan utamanya bagaimana koordinasi di aglomerasi Jakarta ini, terutama bagi daerah-daerah yang masih mengizinkan industrinya menggunakan bahan bakar batu bara. Kalau itu tidak diizinkan, saya yakin dampaknya akan jauh lebih besar,” kata dia.
PLTU Suralaya Disorot
Pramono mengatakan emisi dari kawasan penyangga menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhitungkan dalam upaya memperbaiki kualitas udara Jakarta.
Ia mencontohkan PLTU Suralaya di Banten yang masih menggunakan batu bara sebagai bahan bakar.
“Problem-nya bukan hanya semata-mata transportasi di Jakarta. Ada persoalan-persoalan lain, misalnya pembakaran industri-industri di selingkaran Jakarta, salah satunya yang terkenal adalah Suralaya, yang menggunakan bahan bakar yang masih tidak ramah lingkungan,” ungkapnya.
Baca Juga: Senjata Canggih Tak Cukup Jaga Kedaulatan RI! Ada 3 Hal yang Wajib Diperkuat Prabowo
Menurut Pramono, kebijakan Pemprov DKI dalam menekan emisi transportasi tidak akan maksimal apabila wilayah sekitar Jakarta masih membiarkan industri menggunakan pembangkit berbahan bakar batu bara.
“Apa pun yang dilakukan pemerintah di dalam Jakarta dengan membuat mobil listrik, transportasinya diperbaiki, orang yang dulu naik transportasi pribadi ke transportasi umum, menurut saya belum sepenuhnya akan menyelesaikan kalau di suburban area atau daerah yang melingkupi Jakarta ini masih diizinkan untuk industrinya menggunakan pembangkit listrik tenaga batu bara,” ujarnya.
Karena itu, Pramono mendorong pemerintah pusat dan pemerintah daerah di kawasan aglomerasi Jakarta memperkuat koordinasi untuk mengendalikan sumber-sumber emisi yang berasal dari luar wilayah Ibu Kota.
Kejar 10.000 Bus Listrik pada 2030
Di sisi lain, Pemprov DKI Jakarta tetap melanjutkan berbagai kebijakan untuk menekan emisi dari sektor transportasi.
Salah satunya dengan memperbanyak penggunaan bus listrik.
Berita Terkait
Terpopuler
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
- 3 Sepatu Jalan untuk Lansia Paling Nyaman, Hands Free Tak Perlu Membungkuk
- Spanduk Polwan saat Adang Aksi BEMI UI Kena Rujak Netizen: Bu Polwan Salah Bawa Spanduk?
- Kulkas Sharp 2 Pintu Berapa Harganya? Ini 3 Pilihan yang Dingin dan Hemat Listrik Sesuai Review
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Bukan Gaming, Ini 5 Aktivitas yang Diam-Diam Bikin Laptop Panas
-
Siapa Lawan Pertama Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026, Malaysia atau Singapura?
-
Bamus Betawi soal Demo Warga Pati ke Jakarta: Jangan Datang Banyak-banyak
-
Industri Aftermarket Roda Dua Indonesia Kembali Menggeliat Lewat IMHAX 2026
-
KPK Buka Suara, Tegaskan Tak Ada Operasi Tangkap Tangan di Kabupaten Bogor
-
Panduan Pilih Warna Cat Ruang Tamu Pembawa Hoki Sesuai Arah Mata Angin
-
Danantara Mau Bangun Jaringan Charging Station Motor Listrik
-
Komentar Dedi Mulyadi kepada Maba Unpad Bikin Publik Emosi: Pertanyaan Terbodoh
-
Local Media Community Pekanbaru Bahas Tantangan Media di Era Digital
-
Dari Data hingga Terapi, Novo Nordisk Manfaatkan AI untuk Percepat Penemuan Obat