- Guru Besar UGM Zainal Arifin Mochtar menyatakan Indonesia menghadapi masalah struktural serius terkait makna substansial kemerdekaan.
- Dalam kajian di Masjid Kampus UGM pada Kamis (20/8/2026), Zainal menilai kebijakan negara berpotensi melanggengkan ketimpangan dan menguntungkan oligarki.
- Dampak dari dominasi oligarki tersebut menciptakan ketimpangan kesempatan akses pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan bagi masyarakat luas.
Suara.com - Mantan Menko Polhukam Mahfud MD menilai Indonesia memang mengalami kemajuan setelah 81 tahun merdeka. Namun, bukan berarti kondisi bangsa saat ini sudah baik-baik saja.
Kritik tersebut seolah diamini oleh Guru Besar Tata Negara Universitas Gadjah Mada (UGM) Zainal Arifin Mochtar. Ia menilai masih ada berbagai persoalan mendasar dalam pemenuhan makna kemerdekaan bagi rakyat Indonesia.
Uceng, sapaan akrabnya, melihat persoalan di Indonesia bukan sekadar masalah ekonomi atau angka kemiskinan, melainkan menyangkut makna kemerdekaan secara substantif.
Menurut dia, negara seharusnya membuat warga mampu menentukan nasibnya sendiri dan menikmati pendidikan, pekerjaan layak, kesehatan, hingga tempat tinggal.
"Kok bisa kita merdeka, tapi masih banyak kondisi yang membuat kita seakan-akan tidak merdeka?" kata Uceng saat kajian di Masjid Kampus UGM, Kamis (20/8/2026).
Diungkapkan Uceng, persoalan itu terlihat ketika negara menggunakan kekuasaan untuk menghadapi masyarakat yang berseberangan dengan kebijakan pemerintah.
Ia mencontohkan konflik Rempang, Kendeng, Wadas, serta sejumlah proyek strategis nasional sebagai gambaran paradoks ketika negara yang seharusnya melindungi rakyat justru dapat mereduksi hak warga atas nama pembangunan.
"Ketimpangan itu bukan problem personal. Ketimpangan itu lahir dari problem struktural, karena negara membuat kebijakan yang melanggengkan mereka menjadi orang miskin sehingga menjadi timpang," ungkapnya.
Uceng kemudian mengaitkan kondisi tersebut dengan ketimpangan yang menurutnya jauh lebih serius daripada sekadar persoalan kemiskinan.
Baca Juga: 81 Tahun Merdeka: Memaknai Ulang Ikigai di Tengah Realitas Anak Muda Indonesia
Ketika kemiskinan dapat memiliki faktor personal, sedangkan ketimpangan muncul karena struktur ekonomi, hukum, masyarakat, dan kebijakan negara yang membuat sebagian kelompok memiliki akses jauh lebih besar dibandingkan kelompok lainnya.
Persoalan itu, kata dia, kemudian menjalar ke akses terhadap kekuasaan. Biaya politik yang tinggi membuat kesempatan masuk ke dalam politik menjadi semakin sulit bagi masyarakat biasa.
Akhirnya, jalan itu lebih terbuka bagi mereka yang memiliki kekayaan atau koneksi dengan kelompok pemilik modal. Ketika kekayaan dapat dikonversikan menjadi kekuasaan, muncul risiko kekuasaan tersebut kembali digunakan untuk mempertahankan kekayaan.
Ia menyebut kondisi itu sebagai pola yang membuat kebijakan negara berpotensi lebih ramah terhadap kepentingan oligarki daripada kepentingan publik.
"Makanya hanya orang kaya atau orang yang bisa bergaul dengan oligarki yang bisa masuk sebagai pemilik kekuasaan. Dan itu sebabnya pemilik kekuasaan sangat ramah pada oligarki, sangat ramah," ujarnya.
"Apa yang saya mau bilang, yang terjadi adalah republik ini sudah berubah menjadi republik oligarki," imbuhnya.
Tag
Berita Terkait
-
81 Tahun Merdeka: Memaknai Ulang Ikigai di Tengah Realitas Anak Muda Indonesia
-
Pakar: Desil DTSEN Tak Bisa Jadi Vonis Tunggal Penerima Subsidi
-
Wacana Pengadilan Ad Hoc BUMN: Solusi Bersih-bersih atau Potensi Tumpang Tindih?
-
Krisis Pakan Ternak Tiap Kemarau, Negara Diminta Tak Lepas Tangan Soal Infrastruktur Air
-
Wacana Amnesti Koruptor BUMN Sesat Berbahaya, Berpotensi Bikin Korupsi Makin Subur
Terpopuler
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
- 3 Sepatu Jalan untuk Lansia Paling Nyaman, Hands Free Tak Perlu Membungkuk
- Spanduk Polwan saat Adang Aksi BEMI UI Kena Rujak Netizen: Bu Polwan Salah Bawa Spanduk?
- Kulkas Sharp 2 Pintu Berapa Harganya? Ini 3 Pilihan yang Dingin dan Hemat Listrik Sesuai Review
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Desain Estetik tapi Bikin Gerah, Pramono Janji Benahi Halte Rasuna Said
-
InJourney Semarakkan ASTINDO Travel Fair 2026 dengan Deretan Promo Eksklusif
-
Warna Earth Tone untuk Rumah Bawa Keberuntungan, Ini Cara Menerapkannya sesuai Feng Shui
-
Review Film A New Dawn: Potret Puitis Perubahan Zaman dan Kenangan Manusia
-
Indonesia Tak Baik-baik Saja, Guru Besar UGM Soroti Ketimpangan dan Dominasi Oligarki
-
Nonton Film di Rumah Makin Sinematik, Teknologi LG Tampilkan Gambar Sesuai Visi Kreator
-
42 Amplop Muncul Saat Pencairan Dana BOS di Lubuk Linggau, 3 Pegawai Dibebastugaskan
-
Jelang Muktamar Ke-35, KH Miftachul Ahyar Tinjau Kesiapan di Tambakberas
-
Bagaimana Cara Kerja Magnet dan Sifat-sifatnya? Ini Penjelasannya
-
Hadapi Badai Efisiensi, Local Media Community Makassar Dorong Diversifikasi Bisnis