- Malaysia dan Brunei Darussalam sepakat menggunakan mekanisme ASEAN untuk mengatasi kabut asap akibat kebakaran hutan di Kalimantan.
- Indeks pencemaran udara di berbagai wilayah Malaysia mencapai level tidak sehat berdasarkan data pada Sabtu, 22 Agustus 2026.
- Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengonfirmasi adanya komunikasi informal antarnegara melalui Menteri Luar Negeri pada Minggu, 23 Agustus 2026.
Suara.com - Malaysia dan Brunei Darussalam sepakat memanfaatkan mekanisme ASEAN untuk memperkuat kerja sama menghadapi persoalan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengatakan Menteri Luar Negeri dan kementerian terkait telah diminta menindaklanjuti kesepakatan tersebut dengan Sekretariat ASEAN.
Upaya itu diarahkan untuk menggunakan mekanisme regional yang dinilai paling tepat dalam menangani persoalan kabut asap akibat Karhutla di Kalimantan.
“Kedua negara sepakat untuk menggunakan mekanisme ASEAN yang paling tepat. Kami telah meminta Menteri Luar Negeri dan menteri terkait untuk menindaklanjutinya. Surat juga telah kami sampaikan kepada Sekretariat ASEAN,” kata Anwar. dikutip dari Astroawani
Melalui kerja sama tersebut, Malaysia dan Brunei berupaya memperkuat koordinasi antarinstansi dalam menghadapi bencana asap.
Mekanisme itu juga diharapkan dapat mendukung respons terhadap persoalan lintas batas yang berdampak langsung kepada masyarakat.
Kualitas Udara Sarawak Masuk Level Tidak Sehat
Perhatian terhadap kabut asap meningkat setelah sejumlah wilayah Malaysia mencatat indeks pencemaran udara pada level tidak sehat.
Menurut data terakhir pada Sabtu (22/8/2026) pukul 15.00 waktu setempat, indeks pencemaran udara (IPU) di Serian mencapai 196.
Baca Juga: Karhutla 600 Hektare di Way Kambas Padam, Menhut Klaim Gajah Liar Aman
Kuching mencatat IPU 188, Samarahan 178, Sri Aman 175, Sarikei 174, Sibu 162, Bintulu 157, Mukah 157, Samalaju 155, dan Miri 143.
Di Semenanjung Malaysia, Bukit Rambai, Melaka, juga mencatat IPU 152.
Tingginya angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan kualitas udara telah meluas ke sejumlah kawasan.
Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengonfirmasi bahwa sudah ada jalinan komunikasi dengan negara-negara sahabat terkait situasi tersebut.
Prasetyo menyebutkan, bahwa komunikasi tersebut dilakukan melalui Menteri Luar Negeri (Menlu) guna membahas dampak dari bencana tahunan tersebut.
"Kalau secara informal ada. Secara informal memang sebagai negara tetangga kan tentunya melalui Pak Menlu ada komunikasi. Tadi juga Pak Menlu cerita juga tuh ke kami. Makanya kita berusaha secepatnya untuk bisa mengatasi masalah Karhutla ini," ujar Prasetyo ditemui di JCC Senayan, Jakarta, Minggu (23/8/2026).
Terkait dengan langkah penanganan di lapangan, muncul pertanyaan mengenai kemungkinan pembentukan satuan tugas (Satgas) khusus seperti yang pernah dilakukan untuk menangani masalah di Aceh.
Namun, Prasetyo menilai saat ini koordinasi antarinstansi masih sangat memadai.
"Saya kira belum ya, karena kemarin hasil dari lapangan, apa namanya, penanganan yang itu juga sudah koordinasi lintas sektor juga sudah cukup kuat ya," jelasnya.
Berita Terkait
-
Karhutla 600 Hektare di Way Kambas Padam, Menhut Klaim Gajah Liar Aman
-
Karhutla Kalimantan Makin Mengkhawatirkan, Pemerintah: Insyaallah Gak Perlu Satgas Khusus
-
Kabut Asap Karhutla Kalimantan Ganggu Negara Tetangga, Mensesneg Bilang Begini
-
Istana: Isu Haji Isam Jadi Koordinator Tangani Karhutla Kalimantan Tidak Benar!
-
Mendagri Jawab Isu Haji Isam Koordinir Karhutla Kalsel Atas Mandat Prabowo
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
- 4 Shio Beruntung Hari ini 21 Agustus 2026 yang Diprediksi Terbebas dari Masalah Keuangan
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Malaysia dan Brunei Pakai Mekansime ASEAN Atasi Karhutla Kalimantan, Indonesia Gak Diajak?
-
Pemilu 2029 Jadi Pertaruhan Dinasti Politik Jokowi? Ini Analisis Pengamat
-
Muka Tegang Prabowo dan Gesture Tangan Jokowi Saat Jadi Saksi Pernikahan Rizky Irmansyah
-
Rahasia Bisnis Orang Cina, Arab, dan India: Dagang itu Gak Mudah Lho!
-
Dugaan Markup Harga Telur hingga Judi Online, BGN Mulai Bersih-Bersih SPPG
-
Cari Laptop Rp5 Jutaan? Infinix XBOOK B15 Punya Banyak Kejutan dan Layak Dilirik
-
Prediksi Indonesia vs Thailand Malam Ini, Siapa Lebih Berpeluang Juara?
-
Dapat Perlawanan Sengit, Timnas Indonesia Sikat Kazakhstan 3-0
-
Gabah Makin Mahal, Produsen Beras Berdarah-darah: Jual Mahal Kena HET, Jual Murah Nombok
-
PDIP Jatim Bidik Rebut Kursi Gubernur 2029