-
Blokade Israel memicu krisis sanitasi parah dan melambungkan harga kloset bekas di Gaza.
-
Pengungsi terpaksa merakit toilet sendiri dari kursi plastik karena keterbatasan alat sanitasi.
-
Penumpukan limbah kotoran di sekitar tenda pengungsian memicu peningkatkan kasus penyakit kulit dan pencernaan.
Suara.com - Krisis sanitasi ekstrem kini mencengkeram pengungsi Palestina di Gaza akibat blokade total pasokan barang. Warga terpaksa merakit toilet darurat sendiri dari kursi plastik bekas berlubang demi mempertahankan 'harga diri' di tengah gempuran perang.
Kelangkaan barang membuat harga kloset bekas meroket drastis mencapai 1.500 hingga 2.000 shekel atau sekitar 503 hingga 671 dolar AS. Minimnya fasilitas buang air bersih ini memaksa puluhan jiwa berbagi satu toilet darurat tanpa privasi.
Ketimpangan parah antara pasokan dan kebutuhan warga menciptakan kondisi lingkungan yang sangat membahayakan kesehatan publik. Sumur resapan manual buatan warga kerap meluap dan mencemari pemukiman tenda yang serba terbatas.
Eman Mahmoud Shamia, seorang ibu berusia 33 tahun yang kini tinggal di tenda pengungsian, mengungkapkan keputusasaannya menghadapi fasilitas jamban darurat tersebut.
“Saya dicabut dari hak paling dasar saya untuk memiliki dudukan toilet yang layak di tenda saya. Ini sangat melelahkan bagi saya sebagai seorang wanita dan ibu dari lima anak, sementara suami saya sakit dan tidak mampu menggunakan toilet rakitan ini. Apa yang terjadi pada kami adalah sebuah kegilaan,” ujar Shamia kepada Al Jazeera.
Shamia menambahkan betapa ia sulit menerima kenyataan hidup yang harus dijalaninya saat ini.
“Saya tidak percaya ini adalah situasi kami. Terkadang saya merasa seperti menjadi gila. Bagaimana mungkin toilet bisa menjadi seperti ini dan bagaimana pintu hanya berupa selembar kain?” kata Shamia.
Gencatan akses pasokan material bangunan dan alat sanitasi dari luar menjadi pemicu utama meroketnya harga jamban bekas. Hambatan perdagangan membuat toilet bekas berubah menjadi komoditas langka yang dimonopoli pihak tertentu.
Mohammad Al-Hanouti, warga berusia 30 tahun dari kamp pengungsi Al-Bureij, menyuarakan kesulitan finansialnya untuk memenuhi kebutuhan dasar tersebut.
“Saya akan hidup tanpa ubin, tanpa dapur, dan tanpa toilet yang layak… Saya telah menabung untuk membeli dudukan toilet karena itu adalah hal yang paling penting di apartemen. Jujur saja, saya dalam masalah – mendapatkan kebutuhan paling dasar akan menghabiskan biaya sekitar $2.000,” kata Al-Hanouti kepada Al Jazeera.
Al-Hanouti menilai situasi sulit ini tidak hanya dialami oleh dirinya sendiri, tetapi juga oleh mayoritas warga Gaza.
“Krisis dudukan toilet ini perlu segera ditangani. Saya bukan satu-satunya yang menderita akibat hal ini; saya memiliki teman-teman di tenda yang juga sedang berjuang,” tuturnya.
Ia mendesak lembaga internasional agar segera mendistribusikan alat sanitasi secara cuma-cuma demi menjamin hak hidup warga. Akses sanitasi yang higienis merupakan hak paling mendasar bagi setiap manusia tanpa terkecuali.
Pakar ekonomi Omar Salouha menjelaskan bahwa krisis jamban ini tercipta akibat guncangan pasokan mendadak yang dipicu pembatasan impor material pembuangan. Kerusakan lebih dari 90 persen pemukiman Gaza semakin melonjakkan permintaan alat sanitasi secara mendadak.
“Ketidakseimbangan yang sangat besar antara penawaran dan permintaan telah menyebabkan harga toilet bekas naik beberapa kali lipat dan menciptakan pasar yang mengalami kelangkaan serta distorsi,” kata Salouha.