- Direktur Walhi Papua Mikael Primus menyatakan kebakaran hutan di Papua semakin masif dan hampir merata pada Selasa (25/8/2026).
- Sebagian besar titik api ditemukan di dalam kawasan konsesi dan proyek strategis nasional food estate di Kabupaten Merauke.
- Kebakaran berulang sejak 2023 ini berpotensi berlangsung hingga Desember 2026 serta berdampak langsung pada kehidupan masyarakat adat.
Suara.com - Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Papua Mikael Primus mengungkap kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Papua semakin masif.
Berdasarkan hasil investigasi Walhi dan informasi dari lapangan, titik api disebut hampir ditemukan di seluruh wilayah Papua.
Mikael mengatakan, kondisi tersebut menjadi ancaman serius bagi keberadaan hutan di Tanah Papua. Terlebih, sejumlah titik api disebut berada di dalam kawasan konsesi.
"Memang saat ini karhutla itu semakin masif di tanah Papua, dan kondisi saat ini, dari hasil investigasi kita dan juga informasi dari lapangan menyatakan bahwa hampir semua titik yang berada di tanah Papua itu memunculkan titik api," kata Mikael dalam konferensi pers, Selasa (25/8/2026).
Menurut dia, titik api yang ditemukan Walhi paling banyak berada di wilayah konsesi, termasuk kawasan yang berkaitan dengan proyek food estate.
"Lebih spesifiknya itu saat ini hampir kebanyakan titik api yang muncul di Papua itu berada di dalam konsesi, terutama di wilayah food estate dan saat ini yang dikenal dengan wilayah proyek strategis nasional atau PSN yang berada di Kabupaten Merauke dan wilayah Papua Selatan," ujarnya.
Mikael menilai kondisi tersebut menjadi persoalan krusial karena karhutla di Papua bukan kejadian yang baru muncul tahun ini.
Walhi Papua mengidentifikasi pola kebakaran yang berulang dalam beberapa tahun terakhir. Menurut Mikael, karhutla telah terjadi secara berulang sejak 2023 hingga 2026.
Mikael memperkirakan karhutla di Papua belum akan segera berakhir. Berdasarkan identifikasi Walhi, kebakaran masih berpotensi berlangsung hingga beberapa bulan ke depan.
"Dan dari hasil identifikasi kita juga bahwa karhutla ini akan panjang atau dia akan sampai berakhir kemungkinan di bulan Oktober bahkan sampai di awal Desember tahun ini," ujarnya.
Kondisi tersebut tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga masyarakat adat yang kehidupannya masih bergantung pada hutan.
Menurut dia, kelompok masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan menjadi salah satu pihak yang akan merasakan dampak langsung dari karhutla yang berlangsung panjang.
"Sehingga itu juga akan berdampak langsung kepada masyarakat adat di Papua, terutama masyarakat yang masih hidup dan tergantung sama hutan dan masih berada di dalam pinggiran hutan dan kawasan hutan," kata Mikael.