-
Banjir bandang akibat runtuhnya gletser di Himalaya menewaskan lebih dari 470 orang.
-
Ancaman jebolnya danau buatan memicu penghentian sementara operasi evakuasi di wilayah perbatasan.
-
Nepal mengoptimalkan personel keamanan domestik dan memprioritaskan bantuan finansial untuk pemulihan pascabencana.
“Ini juga menimbulkan semacam jam detik yang mengkhawatirkan,” ujar Katrina Yu.
Mengapa Nepal Belum Menerima Bantuan Penyelamatan Internasional?
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Nepal, Lok Bahadur Chhetri, menegaskan kapasitas internal negara dalam menangani evakuasi awal. Pihaknya memutuskan untuk mengoptimalkan potensi aparat keamanan nasional yang ada.
“Tawaran bantuan itu wajar. Lembaga keamanan kami sedang melakukan operasi pencarian dan penyelamatan. Untuk saat ini kami belum memerlukan bantuan seperti itu,” kata Lok Bahadur Chhetri.
Jurnalis Al Jazeera di Kathmandu, Minelle Fernandez, menyebut Nepal lebih mengarahkan skema dukungan pada pemulihan ekonomi pascabencana. Pemerintah lokal membuka ruang untuk bantuan finansial guna menopang proses rekonstruksi.
Kerumunan warga mulai memadati kawasan Rumah Sakit Pendidikan Universitas Tribhuvan untuk mencari keberadaan kerabat mereka. Keluarga korban terus menunggu kepastian informasi mengenai nasib anggota keluarga yang hilang.
“Semua orang berjuang untuk mendapatkan jawaban, menunggu secercah harapan, dan saat ini hal itu sulit didapatkan,” kata Minelle Fernandez.
Bencana luapan air ini menjadi salah satu krisis lingkungan terparah di kawasan Himalaya dalam beberapa tahun terakhir. Perubahan struktur geologis akibat peleburan gletser meningkatkan kerentanan wilayah perbatasan Nepal dan China terhadap risiko banjir susulan.