- Aliansi Rakyat Memanggil menggelar aksi demonstrasi di Bundaran UGM pada Jumat, 28 Agustus 2026.
- Beranda Migran mengkritik kegagalan pemerintah menyediakan lapangan kerja yang memicu korban perdagangan orang di luar negeri.
- Massa mendesak pemberantasan mafia perdagangan orang serta percepatan revisi Undang-Undang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia oleh DPR.
Suara.com - Aksi penolakan terhadap pemiskinan struktural dan penindasan terhadap masyarakat terus bergulir. Kali ini keresahan itu disuarakan oleh massa yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Memanggil yang menggelar aksi demonstrasi di Bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM).
Perwakilan dari Beranda Migran, Kim, melayangkan kritik tajam terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai mengeksploitasi serta membiarkan warga negaranya menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di luar negeri.
Ia menyoroti borok tata kelola migrasi pekerja Indonesia. Pemerintah dinilai gagal menyediakan lapangan kerja yang layak di dalam negeri, sehingga memosisikan rakyatnya tak ubahnya mesin pencetak devisa semata.
"Negara melihat pekerja migran Indonesia sebagai aset, sebagai ATM," seru Kim tegas di hadapan massa aksi, Jumat (28/8/2026).
Kebijakan pendidikan nasional turut disemprot lantaran program pemerintah dinilai sekadar mencetak lulusan sekolah menengah kejuruan untuk diekspor ke luar negeri.
Alih-alih menciptakan lapangan pekerjaan di negeri sendiri. Beranda Migran mengecam fakta bahwa anak-anak bangsa disekolahkan dengan biaya mahal hanya untuk berujung menjadi pekerja migran yang rawan untuk dieksploitasi.
"Apakah pemerintah tidak bisa menghadirkan pekerjaan di negara kita sendiri? Janjinya apa, berapa juta pekerjaan? 19 juta-nya ternyata di Hong Kong, di Taiwan, bukan di Indonesia," cecar Kim.
Tidak berhenti di situ, tindak pembiaran dan indikasi keterlibatan oknum aparat dalam sindikat perdagangan orang turut menjadi sorotan tajam.
Aparat dianggap tebang pilih karena bersikap agresif menindas dan memblokir rekening aktivis, namun tumpul terhadap mafia kejahatan siber dan judi online.
Baca Juga: Desil Bansos Bikin Gaduh, 81 Tahun Merdeka tapi Data Kemiskinan Masih Kacau
"Teman-teman kita diperdagangkan oleh mafia-mafia. Aparat katanya bisa memblokir ATM aktivis, tapi waktu judi online merajalela, ada tidak rekening yang diblokir?" ujarnya.
Beranda Migran menegaskan bahwa migrasi massal terjadi akibat kemiskinan struktural dan manipulasi mafia, bukan pilihan sukarela.
Dari puluhan kasus pendampingan korban TPPO di Kamboja dan Myanmar, negara justru kerap tebang pilih dalam merepatriasi korban dan malah memperlakukan mereka layaknya kriminal.
Kondisi darurat ini kian diperparah oleh lambannya DPR yang membiarkan revisi Undang-Undang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (UU PPMI) menggantung lebih dari setahun.
Padahal, pembaharuan hukum mendesak dilakukan untuk mengakomodasi pola migrasi mandiri non-agen serta memberantas mafia perdagangan orang secara tuntas.
"Kita berjuang hari ini agar hari esok kita bisa bekerja 8 jam sehari dengan upah yang layak, tanpa harus ke Taiwan atau Hong Kong meninggalkan keluarga!" tegasnya.
Berita Terkait
-
Desil Bansos Bikin Gaduh, 81 Tahun Merdeka tapi Data Kemiskinan Masih Kacau
-
Satwa Endemik Kalimantan Terancam Punah Akibat Karhutla Berulang
-
Sistemik dan Akut, Dosen UGM Bongkar Borok Penanganan Kekerasan Gender yang Hanya Jalan Jika Viral
-
Gugat Dosa Struktural Negara, FIAD Nyatakan Indonesia Darurat Keadilan
-
Ahli Kejagung Nilai Penetapan Tersangka Febrie Adriansyah Sah, Soroti Istilah Trading Influence
Terpopuler
- AMPB Pulang Usai Audiensi DPR, Relawan Ojol Curiga Ada Kesepakatan Transaksional
- Setelah Pelatih Giliran Suporter FC Twente Usir Mees Hilgers: Pemain Malas
- Cara Membersihkan Bunga Es dengan Aman dan Cepat Tanpa Merusak Freezer
- Daihatsu Kenalkan Mobil 120 Jutaan, 1 Liter Jalan 27 Km
- Di Bursa Capres 2029: Elektabilitas Dedi Mulyadi Tembus 42 Persen, Ungguli Prabowo
Pilihan
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
-
Ada Isu Aksi Demo Lanjutan, BEI Minta Investor Tak Panik
-
Admin Medsos dan Pengkritik Jadi Target Penangkapan Jelang Demo Agustus
-
3 Pesawat Tempur F16 'Rally' di Langit Jakarta Jumat Pagi, Ini Klarifikasi TNI AU
Terkini
-
Review Drama No Tail to Tell, Kisah Asmara Atlet Sepak Bola dan Gumiho Gen Z
-
Tak Sekadar Pamer Produk, ADVAN Ajak Pengunjung Karnaval Gadget Jogja Coba Langsung
-
Guncang Jakarta! Bintang Padel Dunia Lucas Bergamini Takjub dengan Antusiasme Pemain Indonesia
-
Terapkan Sistem Skor Baru BWF, UNS dan UII Berjaya di Campus League Badminton Semarang 2026
-
432 Atlet Siap Berangkat, Tim Indonesia Day Bakar Semangat Kontingen Jelang Asian Games 2026
-
Masjid Al-Alawi Banjarmlati, Sokoguru Penjaga Jejak Arsitektur Jawa Kediri
-
Samsung Galaxy Watch Ultra2: Jam Tangan Pintar Premium dengan Baterai 800 mAh, Harga Rp10 Jutaan
-
Prakiraan Cuaca: Pekanbaru Waspada Kabut Asap, Padang Hujan Disertai Petir
-
5 Fakta Aturan Kuota Internet Dilarang Hangus, Operator Wajib Sediakan Refund
-
Review Film 27 Steps of May: Perjalanan Panjang Berdamai dengan Trauma