- Direktur Celios Media Wahyudi Askar mengkritik pengelolaan data kemiskinan pemerintah di Masjid UGM pada Kamis (27/8/2026).
- Kebijakan indikator desil bansos dinilai memicu kegaduhan masyarakat akibat buruknya tata kelola pengentasan kemiskinan nasional.
- Publik mencurigai metode desil yang tertutup sengaja dipakai pemerintah untuk menekan jumlah penerima bantuan sosial.
Suara.com - Penggunaan indikator desil dalam penentuan penerima bantuan sosial (bansos) memicu gelombang kritik terhadap kapabilitas pemerintah dalam mengelola data kemiskinan nasional.
Direktur Kebijakan Publik Center of Economic and Law Studies (Celios), Media Wahyudi Askar, menyoroti kekacauan yang ditimbulkan oleh penetapan kategori desil tersebut di tengah masyarakat.
Kebijakan ini dinilai bukan sekadar kesalahan teknis biasa, melainkan cerminan dari bobroknya tata kelola pengentasan kemiskinan yang terus berulang tanpa penyelesaian nyata.
"Desil ini sudah membuat kegaduhan yang luar biasa dan ini kelihatan bahwa pemerintah tidak punya kemampuan manajerial mengelola data kemiskinan kita. Bayangkan kita sudah 81 tahun, kita masih berkutat pada data kemiskinan dan itu pun salah," kata Media ditemui Suara.com usai kajian di Masjid UGM, Kamis (27/8/2026).
Menurut Menteri Perekonomian dalam Kabinet Bayangan itu, ketidakmampuan negara dalam merumuskan data akurat merupakan bentuk kegagalan fatal yang tidak lagi bisa ditoleransi dengan alasan teknis pembenahan data.
"Jadi mau bagaimanapun berkilah pemerintah bahwa ini butuh waktu membangun data kemiskinan, no. Ini sudah gagal sejak lama gitu. Ini gagal gak cuman dari segi teknis metodologis ya, tapi juga gagal dari segi substansi perjuangan membangun masyarakat khususnya mengentaskan kemiskinan," tegasnya.
Kritik tajam turut diarahkan pada rumitnya pendekatan metodologi yang digunakan pemerintah. Padahal, kata dia, skema pengelompokan warga miskin seharusnya dirancang secara sederhana agar efisien dan tepat sasaran.
Selain itu, Media menyoroti tertutupnya rincian penghitungan desil dari akses publik. Hal tersebut kemudian memunculkan kecurigaan kuat bahwa indikator ini sengaja dimanipulasi sebagai alat efisiensi anggaran bansos secara sepihak.
"Saya khawatir bahwa desil-desilan ini yang kemudian diatur sedemikian rupa, yang bahkan tidak bisa diakses oleh publik metodologi detil penghitungannya, itu hanya digunakan sebagai jalan untuk menekan jumlah penerima bansos," ujarnya.
Baca Juga: DPR Tak Perlu Tunggu Desember untuk Sahkan RUU Perampasan Aset
Kekhawatiran itu, disebutkan Media, semakin relevan karena anggaran bansos di Indonesia tidak mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Maka itu, perubahan klasifikasi melalui desil dikhawatirkan berdampak pada masyarakat yang sebelumnya menerima bantuan tetapi kemudian dinyatakan tidak lagi memenuhi kriteria.
"Jadi pengurangan atau mengakali desil untuk menggeser pengguna bansos agar tidak menerima lagi ini sangat menyakitkan buat saya," tuturnya.
Pemerintah didesak untuk segera memberikan klarifikasi terbuka atas dugaan manipulasi data ini dan bertindak cepat membereskan karut-marut penetapan desil di lapangan.
"Pemerintah harus menjawab kecurigaan itu dan semoga saja saya salah, tapi yang pasti sekarang kekacauan ini harus diselesaikan," pungkasnya.
Tag
Berita Terkait
-
DPR Tak Perlu Tunggu Desember untuk Sahkan RUU Perampasan Aset
-
Legislator PDIP: Subsidi Energi Harus Tepat Sasaran, Jangan Jadikan Desil DTSEN Patokan Tunggal
-
Satwa Endemik Kalimantan Terancam Punah Akibat Karhutla Berulang
-
Akibat Desil Tak Akurat, Hati-hati Bisa Bikin Warga Kehilangan Hak Bansos!
-
Legislator PDIP Soroti Data Desil Tak Akurat, Ancam Anak Indonesia Putus Sekolah
Terpopuler
- Menteri Agama RI Nasaruddin Umar Disebut Mengundurkan Diri
- Partai Kaesang Tutup Pintu Rapat untuk Ketum Projo: Tempat Budi Arie Bukan di PSI
- Desil Tak Akurat Bisa Bikin Warga Kehilangan Hak Bansos!
- Dilaporkan ke Bareskrim Polri, Gus Lilur Tantang 4 Tokoh NU Ngaji Kitab Kuning Saat Muktamar
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 7 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Sepeda Motor Dibakar Dekat Pos Polisi Pejompongan, Bentrok Pecah
-
Tolak MBG dan Kopdes, FMN: Anggaran Hanya Lari ke Prabowo dan Kroni-kroninya!
-
AMPB Pulang Usai Audiensi DPR, Relawan Ojol Curiga Ada Kesepakatan Transaksional
-
Kecewa Ditinggal Begitu Saja, Ojol Jakarta Murka Massa Pati Langsung Pulang Usai dari DPR
-
Rupiah Tersengat Sentimen Demo, Ditutup Anjlok ke Level Rp17.744
Terkini
-
Desil Bansos Bikin Gaduh, 81 Tahun Merdeka tapi Data Kemiskinan Masih Kacau
-
Pidato Prabowo di Muktamar NU: Percaya Saya, Indonesia akan Bangkit Tak Ada yang Bisa Bendung
-
Demo 27 Agustus di DPR, Massa Desak RUU Perampasan Aset Segera Diketok
-
Imbas Demo di DPR, Jasa Marga Imbau Hindari Ruas Tol Dalam Kota, Ini Pengalihan Rute Tol
-
Film Horor 'Rambut Sewu: Satu Langkah Getih' Angkat Sisi Gelap Ritual Pesugihan Jawa
-
PN Jaksel Tolak Praperadilan Febrie Adriansyah
-
Cap Sombong Menyebar, Meghan Markle Kena 'Boikot' Calon ART di Kawasan Elite Montecito!
-
Kabut Asap Makin Parah, Unsri Alihkan Kuliah ke Online, Kapan Kembali ke Kampus?
-
Siswa di Kuansing Belajar dari Rumah Dampak Parahnya Kabut Asap Karhutla
-
Sepeda Motor Dibakar Dekat Pos Polisi Pejompongan, Bentrok Pecah