- PT Jakarta Propertindo dan pegiat seni menggelar pameran seni rupa di Taman Ismail Marzuki pada 20 November hingga 10 Desember 2026.
- Sebanyak 35 seniman dari Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta menampilkan karya terbaik mereka di Paviliun Raden Saleh, Cikini.
- Pameran bertema Ali Sadikin ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem kebudayaan serta fungsi Taman Ismail Marzuki sebagai ruang berkumpul seniman.
Suara.com - Taman Ismail Marzuki (TIM) bersiap membuktikan diri sebagai rumah bagi para seniman di tengah dinamika isu pengelolaan kawasan tersebut.
PT Jakarta Propertindo (Jakpro) bersama para pegiat seni akan menggelar Pameran Seni Rupa “100 Tahun Ali Sadikin: Memoria dan Utopia Jakarta“ pada 20 November hingga 10 Desember 2026.
Hajatan besar ini seolah menjadi jawaban atas kekhawatiran lama mengenai potensi komersialisasi di kawasan legendaris Cikini pasca-revitalisasi.
Kehadiran Paviliun Raden Saleh (PRS) yang sempat menuai polemik terkait fungsinya, kini ditegaskan sebagai jantung pendukung aktivitas para seniman dari berbagai daerah.
“PRS dirancang dengan memperhatikan karakteristik TIM sebagai salah satu ruang berkumpulnya para seniman. Kehadiran fasilitas tersebut memungkinkan seniman dari luar Jakarta, bahkan dari luar negeri, mendapatkan tempat yang mendukung selama berkegiatan di kawasan TIM,” ujar Anya Aprilia, Head of SBU TIM, PT Jakarta Propertindo (Perseroda) atau Jakpro, Rabu (2/9/2026) malam.
Sebanyak 35 seniman dari Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta dilibatkan untuk menampilkan karya terbaik mereka di Selasar Nashar, Paviliun Raden Saleh.
Kurator pameran, Hairus Salim, menyebut momentum ini sangat tepat untuk mengenang kembali sosok Gubernur Ali Sadikin yang dikenal sangat terbuka terhadap masukan para seniman.
“Hal penting dari peran Ali Sadikin adalah bagaimana beliau mengembangkan Jakarta sebagai kota kebudayaan,” kata Hairus.
Jakpro juga dinilai memberikan respons positif terhadap gagasan pameran yang mengangkat perjalanan sejarah dan pemikiran sang “Gubernur Legendaris“ tersebut.
“Kami bersemangat membuat event ini karena ada komitmen dari Jakpro untuk berkolaborasi dan menghadirkan kegiatan yang baik,” ujar Hairus.
Sementara itu, kurator Syakieb Sungkar menjelaskan bahwa pameran berbasis arsip ini akan menyuguhkan dinamika pembangunan Jakarta dari kacamata visual yang unik.
“Lukisan-lukisan ini menceritakan aspek paradoksal dari pembangunan itu sendiri,” beber Syakieb.
Keberadaan fasilitas yang semakin memadai dan akomodatif diharapkan mampu mengikis sekat antara pengelola profesional dengan komunitas kreatif di Jakarta.
Seniman TIM sekaligus Panitia Pameran, Seno Joko Suyono, menilai bahwa wajah baru TIM saat ini sudah jauh lebih inklusif dan terintegrasi bagi dunia internasional.
“Bukan hanya menjadi ruang pertunjukan, tetapi telah berkembang menjadi ruang yang mempertemukan dan menghubungkan para seniman, baik dari berbagai daerah di Indonesia maupun dari dunia internasional,” klaim Seno.
Melalui langkah kolaboratif ini, Jakarta berupaya mengokohkan statusnya sebagai kota global yang modern tanpa harus menanggalkan akar budaya yang kuat.
“Bagi kami para seniman, TIM bukan sekadar gedung atau kawasan kesenian. TIM adalah ruang hidup tempat gagasan bertemu, karya tumbuh, dan kebudayaan Indonesia diperkenalkan kepada dunia. Inilah yang semakin mengokohkan Jakarta sebagai kota global yang modern dan terbuka, namun tetap memiliki akar budaya dan seni yang kuat,” tambah Seno.
Sinergi antara fasilitas modern dan nafas kesenian ini diharapkan menjadi solusi nyata dalam merawat ekosistem kebudayaan di jantung ibu kota ke depannya.