Cegah Perilaku Merusak, Siswa Eks Anak Jalanan di Sekolah Rakyat Bakal Diisolasi Dulu

Jum'at, 04 September 2026 | 14:15 WIB
Foto sebagai ILUSTRASI: ‎Proses pembangunan dua Sekolah Rakyat permanen di Kota dan Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, memasuki tahap akhir dan ditargetkan mulai beroperasi pada 14 Juli 2026. [ANTARA]
  • Ketua Tim Formatur Mohammad Nuh menyatakan siswa Sekolah Rakyat berisiko psikososial ditangani khusus sebelum bergabung dengan lainnya.
  • Pihak sekolah menerapkan evaluasi penerimaan berdasarkan kondisi fisik, profil psikososial, dan kemampuan akademik siswa di Jakarta pada Jumat.
  • Petugas sekolah berwenang mengidentifikasi dinamika perilaku dan penyakit menular agar proses belajar mengajar berjalan lancar tanpa masalah baru.

Suara.com - Siswa Sekolah Rakyat yang teridentifikasi memiliki kecenderungan perilaku psikososial berisiko akan mendapatkan penanganan terlebih dahulu sebelum bergabung dengan siswa lainnya. Tindakan itu utamanya dilakukan terhadap siswa yang sebelumnya berasal dari anak jalanan.

Ketua Tim Formatur Sekolah Rakyat Prof. Mohammad Nuh mengatakan langkah tersebut diterapkan untuk menangani siswa dengan perilaku sosial yang dinilai dapat menimbulkan persoalan dalam lingkungan sekolah.

Menurut Nuh, siswa dengan perilaku sosial yang dinilai dapat merusak tidak langsung digabungkan dengan siswa lainnya. Mereka terlebih dahulu menjalani penanganan hingga kondisinya dinilai sudah baik.

"Jika ada anak-anak yang membawa perilaku sosial yang dapat merusak, jika langsung digabung maka harus diisolasi dan dibenahi terlebih dahulu. Begitu sudah normal dan baik, baru bisa dicampur dengan siswa lainnya," kata Mohammad Nuh yang ditemui di Jakarta, Jumat (4/9/2026).

Nuh mengatakan evaluasi dalam penerimaan siswa Sekolah Rakyat berfokus pada tiga variabel utama, yakni kondisi fisik dan kesehatan, profil psikososial, serta kemampuan akademik.

Ia mengatakan dinamika perilaku siswa juga terjadi di hampir setiap Sekolah Rakyat. Hal itu karena para peserta didik berasal dari berbagai macam latar belakang dan memiliki pengalaman hidup yang berbeda.

"Adapun misalnya ada yang anak jalanan yang kehidupannya dulu cenderung bebas hingga menjadi nakal, lalu mengganggu temannya yang cenderung tidak percaya diri," ujarnya.

Nuh mengatakan persoalan semacam itu sudah ditemukan dalam pelaksanaan Sekolah Rakyat dan telah ditangani.

"Ada, ada, dan itu sudah kita tanganin yang case-case begitu. Saat penyaringan belum terlihat, tapi baru kelihatan ketika sudah berjalan. Jadi semua sudah ada peta jalannya, begitu," katanya.

Ada Calon Siswa yang Pernah Diisolasi karena Psikososial

Nuh juga mengungkapkan terdapat calon siswa yang pernah menjalani isolasi karena persoalan psikososial.

"Pasti ada saja, karena kan harus ada perubahan perilaku yang sekarang harus ikuti sistem. Seiring waktu pasti (anak) bisa menyesuaikan," kata Nuh.

Selain persoalan psikososial, pemilahan juga diberlakukan terhadap siswa yang mengidap penyakit fisik menular, seperti tuberkulosis (TBC), untuk menjalani pengobatan terlebih dahulu.

Dalam pelaksanaan di sekolah, kepala sekolah, guru, wali asuh, serta wali asrama memiliki kewenangan untuk mengidentifikasi dan menangani dinamika perilaku siswa agar tidak memicu kompleksitas baru dalam proses belajar mengajar.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com