- Sejumlah sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh akibat paparan abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau sejak Jumat (4/9/2026).
- Direktur Eksekutif Plan Indonesia, Dini Widiastuti, menyatakan penerapan pembelajaran jarak jauh memerlukan kelengkapan sarana pendukung bagi siswa.
- Ketiadaan dukungan fasilitas memadai selama masa darurat tersebut berisiko memperlebar kesenjangan pendidikan anak-anak rentan.
Suara.com - Penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) oleh sebagian sekolah di sejumlah daerah yang terdampak sebaran abu vulkanik sisa erupsi Gunung Anak Krakatau mendapat sorotan pengamat.
Direktur Eksekutif Plan Indonesia, Dini Widiastuti, mengatakan keputusan penerapan PJJ juga harus dibarengi dengan kelengkapan sarana pendukung bagi para siswa.
Kata dia, akses internet, perangkat, hingga ruang belajar yang aman menjadi prioritas yang harus diperhatikan oleh orang tua dan tenaga pendidik.
Menurut Dini, masih banyak murid dan orang tua yang belum memiliki perangkat pendukung pembelajaran tersebut.
"Tanpa dukungan yang memadai, PJJ justru berisiko memperlebar kesenjangan pendidikan bagi anak-anak yang paling rentan," tulis Dini melalui keterangan persnya pada Senin (7/9/2026).
Ia meminta pemerintah dan lembaga terkait untuk melengkapi segala kebutuhan siswa agar proses belajar-mengajar dilaksanakan dengan tetap berasaskan prinsip keadilan.
Plan Indonesia juga menyarankan pihak sekolah mencari opsi lain jika memang daerahnya belum dilengkapi fasilitas yang mendukung PJJ.
"Seperti memanfaatkan media penyiaran publik, atau metode pembelajaran mandiri. Hal ini krusial untuk memastikan seluruh anak tanpa terkecuali tetap mendapatkan akses serta kualitas pendidikan yang sama, sehingga tidak terjadi ketertinggalan belajar di masa darurat," tambahnya.
Sebagai informasi, sejumlah daerah menerapkan PJJ pada tingkat satuan pendidikan untuk menghindari siswa dan tenaga pendidik dari paparan abu vulkanik sisa erupsi Gunung Anak Krakatau yang telah berlangsung sejak Jumat (4/9/2026).
Reporter: Alif Bintang