Petugas Berjibaku Padamkan Api, Menhut Soroti Tren Titik Api Karhutla yang Selalu Naik Saat Weekend

Rabu, 16 September 2026 | 14:17 WIB
Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni. (Suara.com/Bagas)
  • Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyatakan titik api karhutla sering muncul kembali setiap akhir pekan.
  • Pemerintah bersama aparat gabungan terus memadamkan kebakaran hutan di tengah cuaca kering akibat El Nino.
  • Pemerintah mengimbau masyarakat dan korporasi menghentikan pembukaan lahan dengan cara membakar demi mencegah kerusakan luas.

Suara.com - Upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menemui tantangan berat. Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengungkapkan adanya kecenderungan kemunculan titik api baru secara berulang setelah lokasi sebelumnya berhasil dipadamkan, terutama saat memasuki akhir pekan.

Di tengah kondisi El Nino yang memicu kekeringan panjang, pemerintah bersama BNPB, TNI-Polri, BPBD, Manggala Agni, dan masyarakat peduli api terus berjibaku di lapangan.

Namun, Raja menegaskan, bahwa upaya pemadaman tersebut akan sia-sia jika masih ada pihak yang sengaja membakar lahan.

“Kalau teman-teman turun ke lapangan, bisa melihat bagaimana Manggala Agni Kehutanan Kemenhut, TNI-Polri, BNPB, BPBD berjuang memadamkan api, kita betul-betul kasihan,” kata Raja Juli seusai rapat kerja bersama Komisi IV DPR di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (16/9/2026).

“Tapi setiap kali sudah padam, masih ada orang yang mau main api untuk kembali membakar. Dan ternyata mulai ada trennya itu,” sambungnya.

Raja membeberkan bahwa lonjakan titik api kerap terjadi menjelang dan selama akhir pekan.

Untuk itu, ia mengimbau seluruh elemen masyarakat hingga sektor korporasi untuk menghentikan praktik pembakaran lahan untuk pembukaan lahan (land clearing).

“Trennya itu selalu naik kalau weekend, kalau akhir pekan. Hari Jumat, Sabtu, Minggu itu selalu naik,” ujarnya.

“Jadi mohon diimbau kepada masyarakat perorangan, petani, maupun korporasi untuk tidak main api di masa El Nino yang sangat kuat ini,” katanya lagi.

ia mengaku merasa prihatin atas beban kerja para petugas di lapangan yang terus berhadapan dengan api di lokasi yang berbeda-beda.

“Kasihan, betul-betul kasihan melihat Manggala Agni, TNI-Polri di lapangan yang betul-betul berjibaku,” ujarnya.

“Dan ketika mereka sukses memadamkan di satu titik, tahu-tahu sudah terbakar lagi di tempat yang lain,” sambungnya.

Guna mengatasi ancaman ini, penanganan teknis seperti operasi modifikasi cuaca (OMC), pemadaman udara (water bombing), penyiapan satgas darat, dan penegakan hukum dinilai tidak cukup tanpa adanya kepedulian dari masyarakat.

“Kami terus tadi saya katakan penegakan hukum menjadi penting. Tapi kalau semua faktor yang saya katakan tadi—OMC berjalan, water bombing berjalan, satgas darat kuat, penegakan hukum jalan—tapi kalau tidak ada partisipasi masyarakat, terutama kesadaran untuk bersama-sama tidak melakukan pembakaran lahan untuk melakukan land clearing perkebunan,” tuturnya.

Api membakar semak belukar di kawasan lahan gambut Desa Cot Seumeureng, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, Aceh, Minggu (19/7/2026). [ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/wsj]

Meski sebagian pihak menganggap pembakaran sebagai cara paling murah untuk membuka kebun, dampaknya menjadi sangat merusak di tengah kondisi alam yang kering.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com