- Pada 14 September 2026, Basarnas melaporkan bangkai KM Virgo Transport 8 bergeser tiga kilometer ke barat di perairan Masalembo dalam kondisi terbalik.
- Kepala Basarnas menyatakan kondisi kapal yang terbalik dan berisiko tinggi membuat tim penyelamat menunda penyelaman paksa ke dalam lambung kapal.
- Hingga Senin malam, Basarnas mencatat 114 korban telah ditemukan dengan rincian 108 selamat dan enam meninggal dunia.
Suara.com - Posisi KM Virgo Transport 8 yang tenggelam di perairan Masalembo, Laut Jawa, terus berubah. Pada hari kedua operasi pencarian, kapal diketahui bergeser sekitar 1,6 mil laut atau sekitar 3 kilometer ke arah barat dari titik koordinat awal.
Tak hanya bergeser, kapal juga kini berada dalam kondisi terbalik. Kondisi tersebut membuat upaya pencarian korban di dalam badan kapal menjadi semakin berisiko bagi tim penyelamat.
Kepala Basarnas Mohammad Syafii mengatakan perubahan posisi kapal diketahui dari pergeseran datum atau titik lokasi kapal selama operasi SAR.
"Posisi datum atau titik letak dari kapal Virgo Transport 8 ini ada pergeseran. Dari yang kemarin saya sampaikan, saat ini sudah bergeser kira-kira 1,6 nautical mile (mil laut) ke arah barat dalam kondisi terbalik," kata Syafii dalam konferensi pers perkembangan operasi SAR hari kedua di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Senin (14/9/2026), dikutip dari ANTARA.
Kapal Terbalik, Penyelaman Tak Bisa Dipaksakan
Syafii mengatakan kondisi kapal yang tengkurap menjadi tantangan tersendiri bagi tim SAR, terutama untuk melakukan pencarian korban di bagian dalam kapal.
Penyelaman tidak dapat dilakukan secara sembarangan karena keselamatan personel harus menjadi pertimbangan utama. Kondisi cuaca dan lingkungan bawah laut juga harus dipastikan memungkinkan sebelum penyelam diterjunkan.
"Kalau misalkan posisinya tengkurap pada saat tim penyelam itu masuk, tentunya memiliki risiko tersendiri dan operasi hanya bisa dilaksanakan apabila memenuhi ketentuan dan safety first, artinya jaminan aman," ujarnya.
Risiko bertambah karena badan kapal masih memiliki sejumlah sekat dan ruang kosong. Kondisi tersebut memungkinkan kapal terus bergerak atau melayang mengikuti arus.
Basarnas pun perlu menghitung perubahan posisi tersebut sebelum menentukan metode pencarian korban di dalam kapal.
Ada Risiko Perubahan Tekanan
Selain posisi kapal yang terbalik, ruang-ruang tertutup di dalam badan kapal juga menjadi perhatian tim penyelamat.
Syafii menjelaskan, pembukaan sekat secara paksa dapat menimbulkan perubahan tekanan yang membahayakan penyelam.
"Begitu juga pada saat ada ruang-ruang di kapal yang kosong ini, kalau kita sampai memaksakan untuk masuk, apabila kita membuka misalkan salah satu sekat dari ruang kosong ini, di situ ada perubahan tekanan yang luar biasa, tentunya ini akan sangat membahayakan," katanya.
Karena itu, Basarnas akan melibatkan personel yang memiliki pengalaman dan pendidikan khusus dalam penanganan kapal tenggelam untuk menentukan strategi pencarian pada hari ketiga.