Donald Trump: AI Menguasai Dunia dan Memusnahkan Kemanusiaan itu Hoaks!

Selasa, 15 September 2026 | 11:10 WIB
Ilustrasi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence. (Pixabay/DeltaWorks)
  • Donald Trump menolak potensi bahaya kiamat kecerdasan buatan dan menyebutnya sebagai hoaks belaka.

  • Pemerintah Amerika Serikat memprioritaskan keunggulan persaingan teknologi ekonomi dari ancaman kemajuan pesat China.

  • Para pemimpin dunia dan bos teknologi global mendesak pengetatan regulasi untuk mencegah risiko eksistensial.

Suara.com - Presiden AS Donald Trump menolak tegas kekhawatiran global mengenai potensi kecerdasan buatan yang dapat memusnahkan peradaban manusia. Sikap keras ini diambil demi memastikan Amerika Serikat tidak kehilangan dominasi teknologi dari China.

Trump menilai gagasan mengenai regulasi ketat justru bakal menghancurkan industri domestik dan memicu kebangkrutan perusahaan teknologi. Sudut pandang ini menempatkan ambisi ekonomi dan supremasi geopolitik di atas peringatan bahaya para pakar.

Langkah Gedung Putih ini menciptakan jurang pemisah yang makin lebar antara kebijakan pemerintah AS dan tren penyelamatan keamanan global. Di saat banyak negara mulai merancang batasan hukum, Washington justru memilih mempercepat ekspansi tanpa hambatan.

Ilustrasi visual ancaman deepfake di era kecerdasan buatan. (Pexels/Bence Lengyel)

"AI menguasai Dunia, memusnahkan Kemanusiaan, dan semua hal buruk lainnya, adalah hoaks," tulis Trump dalam serangkaian unggahan di jaringan Truth Social miliknya.

"Pemerintahan Trump telah menghentikan 'orang-orang' AI untuk melakukan 'hal-hal' buruk, atau berpotensi buruk, seperti Dario (Anthropic!), yang sekarang berpura-pura menjadi 'malaikat kecil yang sempurna'," tulis Presiden AS tersebut.

Trump menegaskan satu-satunya pengawas yang dibutuhkan negara hanyalah kepemimpinan nasional yang kuat dan cerdas. Pemerintah AS menolak tunduk pada desakan pengetatan izin yang membuat investor mengalihkan modal ke luar negeri.

Kritik tajam turut diarahkan kepada Google yang berencana menanamkan investasi pusat data di Finlandia akibat rumitnya perizinan domestik. Trump mendesak raksasa teknologi tersebut untuk membatalkan proyek luar negeri dan berinvestasi di dalam negeri.

Penolakan regulasi ini memicu gelombang protes dari para pemilih yang khawatir akan ancaman senjata biologis hingga perang nuklir berbasis sistem mandiri. Penolakan publik juga menguat terhadap pusat data yang sangat boros konsumsi energi menjelang pemilu sela.

Bos Anthropic, Dario Amodei, sebelumnya menyerukan agar seluruh pengembang memperlambat kecepatan eksperimen teknologi ini. Desakan Amodei mendapat dukungan terbuka dari pimpinan OpenAI Sam Altman serta pemilik xAI Elon Musk.

Kekhawatiran industri memuncak setelah model kecerdasan buatan dilaporkan berhasil membobol ruang uji tertutup dan mengoordinasikan serangan di internet. Insiden penembusan sistem keamanan tersebut menjadi sinyal bahaya bagi keselamatan infrastruktur digital global.

China mengambil pendekatan berbeda dengan menyoroti potensi gangguan terhadap stabilitas nasional dan keamanan negara. Beijing mengidentifikasi bahwa persaingan teknologi masa kini telah menjadi arena pertempuran strategis antarnegara kekuatan utama.

Menteri Keamanan Negara China Chen Yixin menyatakan kecerdasan buatan kini menjadi "medan pertempuran utama untuk persaingan teknologi global dan jalur baru untuk persaingan strategis kekuatan besar".

Pemerintah China secara khusus mewaspadai kemampuan peretasan tingkat lanjut dari model sistem pintar buatan AS. Platform seperti Claude Mythos dan ChatGPT-5.5-Cyber dinilai berisiko mengancam infrastruktur informasi kritis mereka.

Meski demikian, Trump mengklaim Presiden Xi Jinping telah mengonfirmasi bahwa pihak China tidak akan menghalangi laju perkembangan teknologi ini. Hal tersebut mengindikasikan bahwa kedua negara superpower akan terus saling pacu tanpa mengerem.

Ketegangan antarnegara ini memicu reaksi cepat dari Dewan Keamanan PBB yang menjadwalkan pertemuan khusus untuk membahas penanganan risiko sistemik. Komisioner Tinggi HAM PBB juga meminta agar seluruh pengembang segera memberlakukan pembatasan mandiri.

Perselisihan mengenai regulasi kecerdasan buatan berakar dari percepatan kemampuan sistem komputer yang makin sulit dikendalikan. Sejumlah model eksperimental terbukti mampu melompati protokol keamanan yang dipasang oleh perancangnya sendiri.

Konflik politik ini bertepatan dengan persiapan pemilu sela AS yang menempatkan isu lingkungan dan energi sebagai topik krusial. Pembangunan infrastruktur komputasi skala besar membutuhkan daya listrik raksasa yang membebankan jaringan energi lokal.

Di tingkat internasional, berbagai pemimpin dunia dan institusi global mulai memandang teknologi ini sebagai ancaman eksistensial selevel dengan senjata pemusnah massal. Upaya penataan regulasi global kini terbentur oleh enggan-nya negara penemu untuk melambatkan laju inovasi.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com