Pasokan Minyak Dunia Terancam Lumpuh Total Usai Houthi Gempur Arab Saudi

Selasa, 15 September 2026 | 11:29 WIB
Pemberontak Houthi berhasil menguasai Pelabuhan Mocha dan mengancam ekspor minyak Arab Saudi. (CNA)
  • Houthi menggempur pangkalan udara Arab Saudi dan menguasai wilayah pesisir strategis Yaman.

  • Penundaan perundingan diplomatik dan penutupan Selat Hormuz mengancam empat persen pasokan minyak dunia.

  • Amerika Serikat menolak intervensi militer langsung di tengah perselisihan klaim kerusakan kapal tanker.

Suara.com - Perang di Timur Tengah kembali memuncak setelah kelompok Houthi menggempur wilayah selatan Arab Saudi dengan puluhan rudal dan drone. Serangan balasan ini menyasar pangkalan udara penting di Khamis Mushait saat perundingan pembukaan Selat Hormuz justru menemui jalan buntu.

Gelombang tembakan rudal tersebut secara khusus menghancurkan fasilitas vital pelabuhan udara militer, seperti hanggar pesawat hingga gudang amunisi. Pihak koalisi mengonfirmasi sedikitnya 13 warga sipil terluka akibat gempuran yang memicu sinyal darurat di empat kota tersebut.

Penguasaan titik strategis Pulau Perim di muara Laut Merah oleh Houthi makin mempersempit ruang gerak logistik Kerajaan. Kondisi ini memperparah krisis energi setelah jalur pipa minyak lintas benua milik Saudi sebelumnya lumpuh akibat gempuran udara.

Iustrasi Kilang Minyak [Pexels].

Penutupan pipa utama penampung alokasi empat persen konsumsi minyak global ini memaksa Riyadh memutar otak tanpa kepastian waktu pemulihan. Harga minyak mentah dunia pun langsung melonjak tajam menyusul kekhawatiran kemacetan distribusi energi fosil tersebut.

Meskipun jet tempur koalisi terus membombardir kawasan pesisir Mocha, Houthi terbukti masih mengendalikan penuh hampir seluruh garis pantai barat Yaman. Pemerintah Yaman yang diakui internasional mengonfirmasi ketangguhan posisi pertahanan kelompok bersenjata pendukung Iran tersebut.

"Kelompok Houthi berada di bawah tekanan berat. Mereka pada intinya memberikan tekanan yang semakin besar kepada pihak Saudi, meningkatkan kampanye serangan rudal dan drone mereka," kata salah satu pejabat Yaman, dikutip dari CNA, Selasa (15/9/2026).

Peta geopolitik semakin rumit setelah Oman mendadak menunda agenda dialog penanganan krisis navigasi perdagangan laut internasional. Penundaan pertemuan bersama delegasi Iran ini kabarnya terjadi atas permintaan resmi dari pihak Arab Saudi.

Pemerintah Amerika Serikat hingga kini masih enggan memberikan bantuan militer langsung untuk membantu armada koalisi di lapangan. Presiden Donald Trump memilih membatasi keterlibatan negaranya sebatas pada dukungan pertukaran data intelijen semata.

Di sisi lain, Teheran menegaskan menolak segala bentuk kompromi sebelum seluruh syarat penanganan konflik dipenuhi secara penuh. Pihak Iran menyebut klaim kesiapan negosiasi dari Washington hanyalah bentuk pengalihan isu di tengah ketegangan yang ada.

"Tidak ada pembicaraan sampai kondisi Iran dipenuhi," tegas Sekretaris Dewan Pertimbangan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei.

Situasi keamanan di perairan strategis tersebut kian simpang siur menyusul insiden kerusakan yang menimpa kapal tanker El Gaia. Klaim ranjau laut oleh militer Iran langsung dibantah keras oleh Komando Pusat Militer Amerika Serikat.

"Ditembak oleh rudal Iran bulan lalu dan tidak dapat beroperasi," jelas pihak Komando Pusat Militer Amerika Serikat membantah narasi ranjau tersebut.

Ketegangan di koridor perairan barat Yaman ini sejatinya merupakan kelanjutan dari geserannya peta kekuatan sejak awal dekade. Konflik bersenjata kembali membara setelah kesepakatan gencatan senjata yang bertahan beberapa tahun terakhir resmi pecah.

Arab Saudi sendiri membangun jaringan pipa sepanjang 1.200 kilometer sejak era 1980-an untuk menghindari gangguan lalu lintas kapal. Langkah historis ini diambil demi mengamankan pasokan minyak dari ancaman blokade di Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan urat nadi vital perdagangan dunia yang sebelumnya memfasilitasi 20 persen distribusi minyak global setiap harinya. Penutupan jalur ini secara praktis menghentikan lalu lintas kapal tanker tanpa izin resmi dari otoritas kawasan.

"Angkatan Laut IRGC dengan tegas menyatakan bahwa Selat Hormuz ditutup dan masih berada di bawah kendali pintar kami," bunyi pernyataan resmi Garda Revolusi Iran.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com