-
Perang Iran menguras cadangan amunisi strategis dan memicu hambatan industri pertahanan Amerika Serikat.
-
Pengeluaran Operasi Epic Fury mencapai 33,4 miliar dolar AS dengan mayoritas untuk membeli amunisi.
-
Laporan resmi Pentagon membantah klaim Donald Trump tentang pasokan senjata AS yang tidak terbatas.
Suara.com - Perang di Iran menguras cadangan amunisi strategis Amerika Serikat dan menyingkap hambatan besar dalam industri pertahanan mereka. Temuan resmi pengawas Departemen Pertahanan AS ini membantah klaim Presiden Donald Trump yang menyebut pasokan senjata militer tidak terbatas.
Inspektur Jenderal Pentagon menyampaikan kondisi krisis pasokan ini dalam laporan resmi perdananya kepada Kongres AS. Data keuangan mencatat Operasi Epic Fury menyedot anggaran hingga 33,4 miliar dolar AS hanya dalam kurun empat bulan.
Sebagian besar dana perang tersebut habis untuk membayar rudal dan amunisi yang ditembakkan di kawasan Timur Tengah. Pengeluaran masif senilai 22,3 miliar dolar AS khusus amunisi langsung memicu masalah pasokan pada rantai produksi pertahanan domestik.
Dokumen resmi pengawas militer itu menegaskan kondisi riil persenjataan AS di lapangan.
"Pengeluaran amunisi pada OEF telah menyebabkan kekurangan inventaris strategis dan mengungkapkan hambatan basis industri untuk pasokan ulang amunisi," tulis laporan tersebut, dikutip dari France24, Kamis (17/9/2026).
Kekuatan armada tempur AS juga tergerus akibat gempuran selama pertempuran berlangsung. Empat jet tempur F-15 hancur total dan puluhan drone MQ-9 Reaper dipastikan jatuh.
Kerusakan lain menimpa satu unit pesawat tempur F-35 serta tujuh pesawat tanker KC-135. Kerugian armada udara ini semakin memperberat beban operasional militer Amerika Serikat.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump terus mengabaikan kekhawatiran publik soal menipisnya cadangan senjata nasional. Trump bersikukuh bahwa kemampuan produksi industri pertahanan negaranya sedang berada di level tertinggi.
Melalui akun Truth Social pribadinya, Trump kembali menegaskan klaim ketahanan militer tersebut.
"Menghasilkan lebih banyak Senjata Hebat dan Elit daripada kapan pun dalam Sejarah kita," kata Trump.
Laporan internal memperlihatkan kekurangan rudal pemandu jarak jauh dan pencegat pertahanan udara mulai mengganggu strategi tempur. Militer AS bahkan telah menghabiskan hampir 80 persen dari total cadangan pencegat sistem THAAD milik mereka.
Strategi penyerangan berskala besar akhirnya menurun drastis setelah hari pertama gempuran dimulai. Komando Pusat AS sempat menggempur lebih dari 1.000 target Iran dalam 24 jam pertama sebelum intensitasnya berkurang.
Serangan balasan dari pihak Iran juga merusak ratusan bangunan di pangkalan militer AS pada delapan negara kawasan. Kerusakan fasilitas tempur ini tersebar mulai dari Kuwait, Bahrain, Qatar, hingga Arab Saudi dan Yordania.
Tim penilai Pentagon belum memasukkan total biaya kerusakan bangunan pangkalan militer tersebut ke dalam hitungan awal. Pemerintah AS masih mengkaji rencana pembangunan ulang pangkalan serta kepastian pihak yang wajib menanggung biayanya.
Kondisi geopolitik ini berakar dari keputusan militer AS meluncurkan operasi berskala besar di Timur Tengah. Lonjakan konsumsi amunisi tinggi tanpa imbang kapasitas pabrik pasokan pada akhirnya memicu krisis inventaris senjata Amerika Serikat.