Diare Anak di Pontianak Meningkat, 40 Kasus Tercatat dalam Dua Pekan

Jum'at, 18 September 2026 | 20:46 WIB
Ilustrasi diare. (Freepik)
BACA 10 DETIK
  • RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Pontianak mencatat 40 kasus diare pada anak selama dua pekan pertama September 2026.
  • Penyebab utama diare meliputi infeksi virus, bakteri, parasit, konsumsi makanan atau air yang tidak bersih, serta lingkungan kumuh.
  • Penanganan utama diare adalah mengganti cairan tubuh yang hilang dan segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika tidak membaik.

Suara.com - Kasus diare pada anak di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, mengalami peningkatan. Dalam dua pekan pertama September 2026, RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie mencatat 40 kasus diare pada kelompok anak.

Perawat RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie, Afrilia mengatakan peningkatan kasus tersebut perlu menjadi perhatian orang tua.

"Kasus diare pada kelompok anak mengalami peningkatan yang cukup signifikan untuk itu yah perlu diwaspadai," ujar Afrilia di Pontianak, Jumat.

Berdasarkan catatan rumah sakit, sebanyak 40 kasus diare pada anak tercatat sepanjang 1-14 September 2026. Edukasi kepada masyarakat dinilai penting untuk mencegah bertambahnya kasus dan pasien yang harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.

Diare ditandai dengan buang air besar lebih sering dari biasanya dengan konsistensi tinja lembek atau cair. Kondisinya dapat disebabkan berbagai faktor, mulai dari infeksi hingga masalah pada makanan atau minuman yang dikonsumsi.

“Diare dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Beberapa penyebab yang umum antara lain virus, kuman atau bakteri, parasit, serta ketidakcocokan terhadap susu yang biasanya terjadi pada bayi,” kata dia.

Kebiasaan sehari-hari juga dapat meningkatkan risiko diare pada anak. Di antaranya makan tanpa mencuci tangan dengan bersih, mengonsumsi air mentah, mengonsumsi makanan yang dihinggapi lalat, serta tinggal di lingkungan rumah yang kumuh dan kotor.

Pada bayi, pemberian makanan tambahan selain ASI yang terlalu dini juga perlu diperhatikan karena dapat meningkatkan risiko gangguan pencernaan.

Orang tua juga perlu mewaspadai gejala yang menyertai diare. Selain tinja encer, anak dapat mengalami mulas, muntah, demam, lemas, pusing, kulit kering hingga tanda kekurangan cairan.

Jika kehilangan cairan tidak segera diganti, diare dapat menyebabkan dehidrasi. Pada kondisi berat, dehidrasi dapat menyebabkan penurunan kesadaran dan mengancam nyawa.

Afrilia mengatakan penanganan utama diare adalah mengganti cairan yang hilang dari tubuh. Anak dapat diberikan oralit atau larutan gula garam sesuai anjuran, serta cairan lain seperti sup dan air putih matang.

Bayi berusia kurang dari enam bulan yang masih mendapatkan ASI juga tetap harus disusui. Pemberian ASI dapat dilakukan lebih sering, dengan tambahan cairan sesuai kebutuhan dan anjuran tenaga kesehatan.

Kebutuhan nutrisi anak juga tetap harus dipenuhi selama mengalami diare. Setelah diare berhenti, anak dianjurkan mendapatkan makanan lebih banyak setiap hari selama sekitar dua minggu untuk membantu mengembalikan kebutuhan nutrisinya.

Afrilia mengingatkan orang tua agar tidak memberikan obat kepada anak selama diare tanpa anjuran petugas kesehatan.

Anak perlu segera dibawa ke dokter atau puskesmas apabila diare tidak membaik dalam tiga hari atau muncul tanda bahaya. Orang tua harus waspada jika anak buang air besar sangat sering, muntah berulang, sangat haus, tidak mau makan atau minum, demam, tinja berdarah, terlihat sangat lemah, atau menunjukkan tanda dehidrasi.

“Dengan penanganan yang cepat dan tepat, risiko dehidrasi serta komplikasi akibat diare dapat diminimalkan,” kata Afrilia.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com