- Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh menanggapi desakan publik terkait RUU Perampasan Aset di Jakarta, Sabtu, 19 September 2026.
- Ia mengingatkan agar pembentukan regulasi tersebut tidak menimbulkan polemik yang dapat membuang energi bangsa dan mengganggu stabilitas nasional.
- Ia menilai kesadaran publik masih perlu dibangun untuk menyelaraskan hak dan kewajiban serta menyampaikan kritik yang solutif.
Suara.com - Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh, memberikan pandangannya terkait desakan pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset.
Ia mengingatkan agar pembentukan regulasi tersebut tidak menimbulkan polemik berkepanjangan yang berpotensi membuang energi bangsa dan mengganggu stabilitas nasional.
Merespons tingginya dorongan publik terhadap RUU ini, Surya Paloh menilai kesadaran publik saat ini masih perlu dibangun agar senantiasa selaras antara hak dan kewajiban.
"Kalau memang dianggap memang sudah urgen sekali publik ini, silakan saja. Tapi satu saya ingin memberikan sinyal pada Saudara-saudara: bangun kesadaran publik kita ini. Sejujurnya, belum bisa mampu untuk menselaraskan hak dan kewajiban yang mereka miliki sebagai anak bangsa ini," kata Surya ditemui di NasDem Tower, Jakarta, Sabtu (19/9/2026).
Ia juga menyoroti keunikan dari RUU Perampasan Aset dan mengimbau semua pihak untuk tidak memaksakan kehendak jika regulasi tersebut justru memicu perdebatan yang tidak produktif.
"Jadi semakin banyak produk undang-undang, apalagi yang unik gitu, kalau saya katakan perampasan aset ini unik, ya kan? Unik sekali menurut saya. Bahkan ada yang memforsir sekali seakan-akan ini penting. Padahal kalau hanya ini bisa menimbulkan polemik, untuk apa? Hal yang paling kita jaga adalah jangan energi bangsa ini terbuang untuk polemik demi polemik," tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Surya Paloh mengajak masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk tetap menjaga kestabilan nasional serta menyampaikan kritik yang konstruktif dan solutif.
"Kita harus bisa save the energy. Jaga stabilitas nasional kita. Salurkan pikiran-pikiran kita, bikin pikiran-pikiran yang kritis, tapi juga solutif," pungkasnya.