- Kemarau panjang dan masa transisi tanam di Banjarnegara menyebabkan penurunan produksi cabai petani.
- Penurunan pasokan tersebut memicu kenaikan harga berbagai jenis cabai di sejumlah pasar konsumen.
- Pasokan cabai diprediksi akan mulai pulih dan menstabilkan harga pada Oktober hingga November.
Suara.com - Harga cabai masih bergerak naik di sejumlah pasar karena pasokan dari petani belum kembali normal. Kemarau berkepanjangan dan masa transisi panen membuat produksi cabai menurun, sementara tanaman baru belum banyak menghasilkan.
Petani pegiat Asosiasi Champion Cabai Indonesia (ACCI) Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Teguh Suprapto mengatakan petani saat ini tengah berada dalam masa peralihan dari tanaman lama ke tanaman baru.
"Petani cabai di Banjarnegara sekarang memasuki masa transisi, dari tanaman yang sudah habis panen menuju tanaman yang menghadapi panen lagi. Tanaman yang baru ditanam belum banyak yang menghasilkan," kata Teguh, Sabtu (19/9).
Kemarau panjang turut mempersempit pasokan. Sejumlah sentra cabai mengalami keterbatasan air sehingga tanaman yang seharusnya masih berproduksi tidak mampu menghasilkan panen secara optimal.
Di tingkat petani, harga cabai rawit merah kini sekitar Rp55.000 per kilogram, cabai merah keriting sekitar Rp42.000 per kilogram, sedangkan cabai rawit hijau berada di kisaran Rp32.000 per kilogram.
Tekanan harga bahkan terlihat lebih tinggi di tingkat konsumen. Di Pasar Manis Purwokerto, harga cabai merah besar bertahan di sekitar Rp60.000 per kilogram, naik dari Rp55.000 per kilogram.
Harga cabai rawit merah juga mencapai Rp75.000 per kilogram, meningkat dari Rp72.500 per kilogram dalam dua pekan sebelumnya. Sementara cabai merah keriting naik dari Rp55.000 menjadi Rp60.000 per kilogram sejak 17 September.
Cabai rawit hijau juga ikut terkerek. Harganya mencapai Rp65.000 per kilogram, naik dari sekitar Rp55.000 per kilogram sejak awal September.
Pasokan Diperkirakan Mulai Pulih Oktober
Teguh memperkirakan pasokan cabai dari Banjarnegara mulai meningkat pada Oktober hingga November ketika tanaman baru memasuki masa panen.
Namun, sejumlah tanaman di wilayah Banjarnegara bagian atas diperkirakan baru mulai dipanen pada akhir Oktober karena masa panennya lebih lambat.
"Umur panennya di sini memang lebih lambat. Mungkin akhir Oktober mulai panen, kemudian Oktober-November akan semakin banyak," ujarnya dilansir dari laman Antara, Sabtu (19/9/2026).
Kondisi serupa berpotensi terjadi di daerah sentra cabai lain yang juga terdampak kemarau. Kekurangan air membuat sebagian tanaman lebih cepat rusak dan mengering sehingga produktivitas menurun.
Kepala Dinas Perdagangan Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Banyumas, Gatot Eko Purwadi, sebelumnya juga menyebut kenaikan harga berkaitan dengan regenerasi tanaman di tingkat petani.
"Petani sedang regenerasi tanaman. Yang lama menghabiskan sisa tanam, kemudian yang baru ini masih menunggu panen," kata Gatot.
Dengan pasokan yang masih terbatas, harga cabai masih berpotensi mengalami kenaikan sebelum produksi tanaman baru mulai masuk lebih banyak ke pasar.
Panen pada Oktober-November diharapkan menjadi titik balik pasokan. Jika produksi kembali meningkat, tekanan terhadap harga cabai di tingkat konsumen diharapkan ikut mereda.