- Pegawai SPPG Bantul mengunggah video viral bernada olok-olok terhadap siswi korban keracunan di Karo pada Sabtu, 19 September 2026.
- Badan Gizi Nasional Regional DIY bertindak cepat dengan memanggil serta memberikan teguran keras kepada pegawai dan pihak SPPG Muntuk.
- BGN DIY menekankan pentingnya menjaga etika komunikasi publik dan melarang seluruh pegawai menjadikan musibah masyarakat sebagai bahan candaan.
"Kita harus bisa membedakan antara memberikan klarifikasi, memberikan pendapat, dan memberikan penilaian terhadap suatu kejadian. Jangan sampai karena ingin memberikan komentar, justru muncul pernyataan yang tidak sensitif dan kemudian memperbesar persoalan," tandasnya.
Menurut Gagat, kewajiban menjaga etika komunikasi tidak hanya berlaku ketika personel menjalankan tugas secara langsung. Penggunaan media sosial juga harus menjadi perhatian secara menyeluruh.
Ia meminta seluruh jajaran, mulai dari koordinator wilayah, koordinator kecamatan, kepala SPPG, pengawas gizi, pengawas keuangan hingga personel SPPG, memahami konsekuensi komunikasi di ruang publik.
"Kami mengajak seluruh jajaran untuk saling menghormati. Ketika ada saudara kita, penerima manfaat, atau masyarakat yang diduga terdampak suatu kejadian, respons pertama kita seharusnya adalah empati, bukan menghakimi. Jadikan setiap kejadian sebagai pembelajaran untuk memperbaiki pelayanan dan memperkuat pencegahan," ungkapnya.
Ditambahkan Gagat, BGN tetap menghormati proses pemeriksaan dan pembuktian dalam setiap kasus keamanan pangan.
Menurutnya, perhatian utama jajaran SPPG harus diarahkan pada keamanan pangan, kualitas pelayanan, dan pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang.
"Kita bekerja untuk masyarakat. Karena itu, mari jaga bukan hanya kualitas makanan yang kita berikan, tetapi juga cara kita memperlakukan dan berkomunikasi dengan masyarakat. Sensitif terhadap keadaan, empati terhadap yang terdampak, dan saling menghormati harus menjadi bagian dari budaya kerja kita," tutupnya.