- Profil KH Hasan Abdullah Sahal Pimpinan Gontor putra pendiri Trimurti.
- Profil KH Hasan Abdullah Sahal Pimpinan Gontor berpendidikan Madinah dan Kairo.
- Profil KH Hasan Abdullah Sahal Pimpinan Gontor memimpin pesantren sejak 1985.
Suara.com - Sosok K.H. Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor mendadak jadi perbincangan hangat dan sorotan publik nasional.
K.H Hasan Abdullah Sahal sukses mencuri panggung saat menyampaikan pidato penuh keberanian, gelak tawa, sekaligus kritik menohok di hadapan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam rangka Peringatan 100 Tahun Gontor di Ponorogo, Jawa Timur.
Bukan sekadar pidato formal kenegaraan, Kiai Hasan tampil apa adanya. Gaya bicaranya yang ceplas-ceplos, jenaka, tapi sarat makna membuat suasana hajatan satu abad pesantren tersebut hidup dan penuh warna.
Lantas, siapakah sebenarnya sosok ulama karismatik di balik pidato viral yang sukses membuat Presiden Prabowo hingga ribuan santri tertawa terbahak-bahak itu? Berikut rekam jejak dan profil lengkap K.H. Hasan Abdullah Sahal.
Darah Pendiri Mengalir Deras
Lahir di desa Gontor pada 24 Mei 1947, K.H. Hasan Abdullah Sahal bukanlah orang sembarangan di lingkungan pesantren.
Hasan Abdullah Sahal merupakan putra keenam dari K.H. Ahmad Sahal, salah satu dari tiga tokoh legendaris Trimurti Pendiri Pondok Modern Darussalam Gonto bersama K.H. Zainuddin Fananie dan K.H. Imam Zarkasyi.
Tumbuh di rahim kawah candradimuka pesantren, gemblengan karakter kepemimpinan dan keulamaan sudah mendarah daging dalam diri Kiai Hasan sejak kecil.
Perjalanan Pendidikan Lintas Benua
Kiai Hasan mengawali pendidikan dasarnya (SD) di Gontor dan lulus pada tahun 1959. Menariknya, baru tiga bulan menjelang lulus SD, ia sudah diterima masuk di Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) Gontor.
Setelah menamatkan KMI pada tahun 1965, jiwa akademisnya terus membara. Ia melanjutkan studi ke Fakultas Ushuluddin Institut Pendidikan Darussalam (IPD) sembari mendedikasikan diri mengajar di KMI selama dua setengah tahun.
Langkah kakinya kemudian melompat jauh ke luar negeri. Pada tahun 1967, Kiai Hasan mendapat kesempatan emas memperdalam ilmu agama di Fakultas Da’wah dan Ushuluddin Universitas Islam Madinah Al-Munawwarah.
Tak berhenti di situ, pada tahun 1992, ia kembali menimba ilmu dengan mengambil spesialisasi Hadits di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.
Rekam Jejak Pengabdian dan Organisasi
Sebagai figur sentral, estafet kepemimpinan Gontor dipegangnya sejak tahun 1985 hingga saat ini.