- Profil KH Hasan Abdullah Sahal Pimpinan Gontor putra pendiri Trimurti.
- Profil KH Hasan Abdullah Sahal Pimpinan Gontor berpendidikan Madinah dan Kairo.
- Profil KH Hasan Abdullah Sahal Pimpinan Gontor memimpin pesantren sejak 1985.
Ia awalnya ditunjuk sebagai pimpinan pondok bersama K.H. Shoiman Luqmanul Hakim dan K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi.
Kini, ia memimpin Gontor bersama Prof. Dr. K.H. Amal Fathullah Zarkasyi dan Drs. K.H. Muhammad Akrim Mariyat.
Selain di Gontor, jari-tangan dingin Kiai Hasan juga melahirkan berbagai lembaga pendidikan Islam lainnya, di antaranya:
- Pendiri Pondok Pesantren Putri Al-Mawaddah Coper, Jetis, Ponorogo (1989).
- Pendiri dan Pengasuh Pondok Tahfidz Qur’an Al-Muqoddasah Nglumpang, Mlarak, Ponorogo (1992).
- Dosen aktif di Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Gontor sejak 1977.
Kiai Hasan juga aktif melanglang buana ke berbagai negara untuk misi dakwah dan pendidikan, mulai dari Brunei Darussalam, Malaysia, Hongkong, Korea Selatan, Jepang, Singapura, hingga kawasan Timur Tengah dan Eropa.
Di sela-sela kesibukannya, ia turut melahirkan sejumlah karya tulis dan buku pemikiran, seperti Membina Keluarga Muslim, Pegangan Para Qori’, Obsesi Hasan Abdullah Sahal, Ceramah-ceramah Kontemporer, hingga trilogi Allamatnil Hayah (Kehidupan Mengajariku).
Aksi Berani dan Jenaka di Depan Presiden Prabowo
Sosok Kiai Hasan kembali menjadi pusat perhatian publik berkat momen-momen ikonik saat berpidato di hadapan Presiden Prabowo Subianto.
Ada beberapa poin keberanian dan gaya khas yang membuatnya dipuji banyak pihak:
- Siap Didemo Jika Hidup Mewah: Dengan tegas dan tanpa ragu, Kiai Hasan menyatakan siap dikritik, diprotes, bahkan didemo oleh santrinya sendiri jika fasilitas, makanan, pakaian, atau gaya hidupnya kedapatan lebih mewah daripada para santrinya.
- Sentilan "Cari Muka": Di hadapan Kepala Negara dan para pejabat, Kiai Hasan melontarkan selorohan menggelitik soal fenomena orang-orang yang gemar mengejar ijazah, jabatan, uang, nama, hingga sindiran telak tentang fenomena "cari muka" secara instan, yang langsung disambut tawa lepas hadirin.
- Gaya "Sorry Ye": Sambil berseloroh meminta izin kepada Presiden Prabowo menggunakan kalimat santai "Sorry ye", Kiai Hasan menegaskan komitmen independensi pesantren. Ia menekankan bahwa Gontor konsisten memilih jalur pendidikan moral murni untuk menempa kemandirian bangsa tanpa bergantung pada cara-cara instan.
Kombinasi antara ketegasan prinsip pesantren, keluasan ilmu, dan balutan humor cerdas inilah yang membuat K.H. Hasan Abdullah Sahal disegani, tidak hanya oleh santri dan alumni Gontor, tetapi juga oleh para pemimpin negeri.