DPR Cecar Mendikdasmen Soal Smart Board di SD NTT: Sekolah Nggak Ada Listriknya

Senin, 21 September 2026 | 20:20 WIB
Mendikdasmen Abdul Mu'ti memberikan klarifikasi kepada Komisi X DPR RI di Jakarta pada Senin, 21 September 2026
BACA 10 DETIK
  • Mendikdasmen Abdul Mu'ti memberikan klarifikasi kepada Komisi X DPR RI di Jakarta pada Senin, 21 September 2026.
  • Mu'ti menyatakan video viral tentang papan tulis pintar tanpa listrik di SDN Mboeng, NTT, tidak sepenuhnya akurat.
  • Kementerian menyiapkan panel surya dan koordinasi dengan PLN untuk mengatasi kendala listrik pada program digitalisasi pendidikan.

Suara.com - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti memberikan klarifikasi terkait kabar viral mengenai penerimaan papan tulis pintar (smart board) atau Interactive Flat Panel (IFP) di salah satu sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diduga tidak memiliki aliran listrik.

Klarifikasi tersebut disampaikan untuk menjawab pertanyaan dari Anggota Komisi X DPR RI Bonnie Triyana dalam Rapat Kerja Komisi X DPR RI di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin(21/9/2026).

Pada kesempatan tersebut, Bonnie menyinggung kabar yang sempat menyita perhatian publik di media sosial.

"Kemarin viral, tentang sebuah sekolah di NTT, SDN Mboeng yang menerima smart board, tapi ternyata sekolahnya nggak ada listriknya. Karena sekolah nggak ada listriknya, dapat smart board nggak bisa terpasang, mungkin kalau terlalu lama dia akan rusak," ujar Bonnie.

Sementara itu, saat diberikan kesempatan menjawab, Abdul Mu'ti menegaskan, bahwa informasi yang beredar di media sosial tidak sepenuhnya akurat.

Ia menjelaskan, bahwa ruangan yang terlihat pada video viral tersebut merupakan ruang kelas yang sedang tidak berfungsi, sementara ruang kelas lainnya masih beroperasi dengan baik.

"Khusus berita yang viral, tentang sebuah SD negeri di NTT itu sesungguhnya yang beredar di media sosial itu tidak akurat. Karena sebenarnya SDN itu memiliki beberapa ruang kelas, yang lainnya itu masih berfungsi. Jadi yang di video itu yang tidak berfungsi, yang rusak, tapi kelas yang lainnya itu berfungsi. Dan IFP-nya juga berfungsi, Mas. Yang di video yang sedang tidak berfungsi, yang kelas yang lain berfungsi," kata Mu'ti.

Lebih lanjut, Mu'ti memaparkan skema program digitalisasi pendidikan yang memiliki "empat setengah" pilar utama, meliputi pemberian IFP, pelatihan guru, pemberian laptop, serta penyediaan akses jaringan.

"Nah, setengahnya itu, jaringan itu ada dua: jaringan internet dan jaringan listrik. Internet yang belum ada kami bantu melalui Starlink, dan itu sudah kami lakukan di daerah-daerah 3T, yang karena harganya sangat bisa terjangkau dan sudah kami lakukan," jelasnya.

Terkait kendala aliran listrik, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyiapkan dua langkah taktis untuk memastikan kelancaran program digitalisasi di seluruh daerah.

"Kemudian listrik itu ada dua skema. Satu melalui panel surya, yang kedua melalui pembangunan jaringan baru, dan kami sudah ada pembahasan dengan PLN untuk pembangunan jaringan ini, sehingga insyaallah ke depan itu bisa kami laksanakan dengan sebaik-baiknya," tambah Mu'ti.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com