Resolusi Hentikan Perang AS - Iran Ditolak Senat Amerika Serikat

Jum'at, 25 September 2026 | 10:03 WIB
Ilustrasi Perang Iran Israel. Serangan Amerika Serikat ke fasilitas Nuklir Iran disebut akan memicu Perang Dunia Ketiga.
BACA 10 DETIK
  • Senat AS menolak resolusi pembatasan wewenang perang Presiden Donald Trump terhadap Iran.

  • Hasil pemungutan suara Senat berakhir tipis dengan 49 mendukung dan 50 menolak.

  • Konflik bersenjata AS dan Iran terus berlanjut karena kesepakatan damai gagal dipertahankan.

Suara.com - Upaya Kongres Amerika Serikat membatasi aksi militer Presiden Donald Trump di Timur Tengah resmi menemui jalan buntu. Senat AS secara resmi menolak resolusi yang memerintahkan Gedung Putih menghentikan perang dengan Iran.

Keputusan krusial ini menyoroti perpecahan tajam di parlemen terkait wewenang perang presiden. Penolakan tersebut sekaligus memberi ruang bagi pemerintahan Trump untuk melanjutkan operasi militer tanpa batas waktu dari lembaga legislatif.

Ketegangan politik ini mencapai puncaknya saat pemungutan suara tipis mematahkan draft keputusan yang digagas oleh para anggota dewan. Langkah Senat ini langsung menganulir kesepakatan yang sebelumnya telah disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Berdasarkan data resmi Senat yang ditinjau pada Kamis (24/9), perbedaan suara tipis menjadi penentu nasib pembatasan wewenang militer tersebut. Hasil penghitungan menunjukkan 49 senator memberikan suara mendukung resolusi, sementara 50 senator menolaknya.

Anulir ini membatalkan keputusan DPR AS yang telah meloloskan rancangan ketetapan tersebut pada 23 Juli lalu. Lembaga perwakilan publik itu sebenarnya telah berulang kali mencoba menekan eksekutif agar menarik pasukan dari gesekan bersenjata.

Tekanan legislatif terhadap Istana Kepresidenan terus menguat sepanjang pertengahan tahun ini. Upaya sistematis tersebut mencerminkan kekhawatiran publik atas eskalasi pertempuran yang tak kunjung usai.

Media CBS News melaporkan pada 16 September bahwa DPR telah mengesahkan resolusi ketiga yang memerintahkan Trump mengakhiri konflik dengan Iran. Keputusan tegas tersebut diambil setelah sebanyak 220 anggota Kongres memberikan suara mendukung dan 204 menolak.

Kendati DPR konsisten menyuarakan penghentian permusuhan, benteng pertahanan pendukung Trump di Senat berhasil mementalkan keputusan tersebut. Dinamika ini membuat kepastian manuver militer AS di kawasan Teluk tetap berlanjut.

Pemerintah federasi kini memegang kendali penuh atas arah kebijakan pertahanan di wilayah konflik. Sikap Senat mengukuhkan kekuasaan eksekutif dalam menentukan momentum operasi luar negeri.

Langkah politik Senat ini melanggengkan operasi tempur yang telah berlangsung sejak awal tahun. Publik internasional kini menyoroti prospek stabilitas kawasan pascapenolakan resolusi pembatasan perang tersebut.

Aksi saling serang secara terbuka antara Washington dan Teheran meletus pada akhir Februari lalu. Eskalasi militer ini memicu krisis keamanan global yang menyeret kekuatan kawasan.

Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel mulai melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran, yang kemudian dibalas Iran dengan serangan terhadap sasaran di pihak lawan.

Siklus kekerasan sempat mereda sejenak ketika kedua belah pihak menjajaki jalur diplomatik pada pertengahan tahun. Langkah mediasi tersebut diambil untuk mencegah kehancuran ekonomi dan militer yang lebih luas.

Pada pertengahan Juni, Teheran dan Washington menandatangani nota kesepahaman untuk menghentikan permusuhan, tetapi tak lama kemudian kembali saling melancarkan serangan.

Gagalnya kesepakatan damai dan penolakan resolusi Senat mempertegas bahwa permusuhan kedua negara belum menemukan jalan keluar. Hingga kini, konflik tersebut masih belum terselesaikan.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com